jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bakal menggencarkan imunisasi campak dan rubella (MR) terhadap anak PAUD dan TK mulai pekan depan.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan imunisasi ini dilakukan seusai adanya notifikasi dari Australia terkait kasus campak WNA yang berpergian ke Indonesia.
BACA JUGA: 413 Anak di Sampang Jawa Timur Positif Terserang Campak
"Jadi, penguatan imunisasi kita lakukan secara rutin dan imunisasi kejar MR, terutama pada wilayah dengan cakupan rendah. Itu kami lakukan,” ujar Andi dikutip Jumat (27/2).
“Kemudian, yang kedua adalah pemberian imunisasi MR tambahan pada daerah-daerah dengan KLB tahun 2025-2026, dan MR tambahan ini merupakan crash program," tambahnya.
BACA JUGA: IDI Sukoharjo Ajak Orang Tua Kenali Gejala Campak & Cara Pengobatannnya
Kemenkes juga berupaya menggandeng pemerintah daerah, tokoh agama dan organisasi profesi di daerah yang rendah angka imunisasinya karena tingginya angka penolakan vaksin.
Andi membeberkan pada 2025 ada 116 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terkonfirmasi di 89 kabupaten-kota di 16 provinsi.
Kasus suspek 63.769, termasuk di dalamnya konfirmasi 11.094. Ada 69 kasus yang meninggal, dan fatality rate sebesar 0,1 persen, seperti negara-negara maju yang menghadapi campak.
Lima provinsi KLB terbanyak pada 2025 yakni Jawa Timur, Banten, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
"Nah di 2026, ada 21 KLB suspek campak di 17 kabupaten-kota di 11 provinsi. Dan 13 KLB campak konfirmasi lab di 9 kabupaten-kota di 6 provinsi," katanya.
Hingga minggu ke-7, lanjutnya, kasus suspek 8.224 termasuk di dalamnya yang terkonfirmasi 572 orang.
"Meninggal empat kasus dan CFR-nya, fatality rate-nya itu 0,05 persen, artinya lebih rendah daripada angka negara maju, yakni tadi 0,1 persen. Kita lebih baik," katanya.
Lima provinsi KLB terbanyak pada 2026 yakni Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Aceh, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Kemenkes juga akan menguatkan surveilans dan tata laksana penanganan campak, mulai dari isolasi, pemberian obat dan vitamin A, serta menyiapkan rumah sakit apabila terjadi komplikasi.
Terpisah Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropik Departemen Perempuan dan Anak RSCM Mulya Rahma Karyanti mengatakan campak sangat menular.
Sebab Mulya mengaku jika satu anak terinfeksi campak, maka dapat menularkan hingga ke 18 orang lain.
Karena itu yang dikhawatirkan apabila anak-anak yang terkena campak dan rubella menularkan ke ibu hamil. Nah, jika ibu tersebut terinfeksi bayi yang dikandungnya bisa cacat.
"Kalau kena rubella, bahkan bisa menyebabkan buta, katarak, tuli, dan kelainan jantung, serta gangguan perkembangan. Kemudian kalau kena campak ibu hamil, itu malah bisa keguguran bayinya. Jadi seorang ibu yang hamil itu sangat-sangat rentan," katanya.
Mulya menyebutkan campak dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh anak, pneumonia, diare hingga dehidrasi berat, bahkan ensefalitis atau peradangan pada jaringan otak.
Dia berharap dengan edukasi yang rutin, cakupan imunisasi campak bisa mencapai lebih dari 95 persen.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




