Imbas Dapur MBG Beroperasi Tanpa IPAL, Lingkungan Tercemar hingga Padi Petani Layu dan Mati

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

HARIAN FAJAR, TAKALAR – Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Kabupaten Takalar tanpa mengikuti standar operasional akhirnya berdampak langsung ke warga.

Dapur MBG yang beroperasi di Desa Lassang Barat, Kecamatan Polombangkeng Utara, kini sangat meresahkan petani padi. Sawah warga
di Dusun Anging Mammiri dikabarkan terdampak air limbah berminyak dan berbau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas dapur tersebut.

Perwakilan petani Lassang Barat, Chaeril Anwar Daeng Lewa, meminta pemerintah daerah turun tangan menindaklanjuti persoalan ini. Ia menyebut, aliran limbah diduga mencemari areal persawahan hingga menyebabkan tanaman padi layu bahkan mati.

“Keluhan ini sebenarnya sudah lama disampaikan petani. Bahkan sejak masa tabur benih, bau limbah sudah tercium. Awalnya saya tidak percaya, tapi setelah melihat langsung kondisi sawah, ternyata memang ada dampaknya,” ujar Chaeril, Jumat, 27 Februari.

Menurutnya, jarak antara lokasi dapur MBG dengan sawah yang terdampak diperkirakan hanya sekitar 100 meter. Ia juga mengaku memiliki satu petak sawah di sekitar area tersebut dan menyaksikan langsung perubahan kondisi tanaman.

Isu ini memperkuat sorotan publik terhadap keberadaan puluhan dapur MBG di Takalar yang diduga belum dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sesuai standar. Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Takalar sebelumnya mengungkapkan bahwa dari puluhan SPPG yang beroperasi, baru dua yang memiliki IPAL.

Pejabat Fungsional DLHP Takalar, Ardiansyah, menyebut dua dapur yang telah memiliki IPAL yakni SPPG MBG Kementerian PUPR di Kelurahan Bajeng dan SPPG MBG Sinar Rezky di belakang Pasar Sentral Takalar, Kecamatan Pattallassang.

“Kami akan terus melakukan pengawasan. Jika ditemukan tidak memenuhi standar pengelolaan limbah, sanksi administratif hingga penghentian operasional dapat diberlakukan,” tegasnya beberapa waktu lalu.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Ketahanan (LHPK) Takalar, Syafaruddin Lallo, merespons laporan petani dengan menyatakan pihaknya segera melakukan peninjauan lapangan untuk memastikan dugaan pencemaran tersebut.

“Kami akan turun langsung mengecek kondisi di lapangan dan menindaklanjuti keluhan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Takalar, Nilai Fauziah, mengungkapkan bahwa hingga 20 Februari 2026 tercatat 40 titik SPPG di Takalar. Dari jumlah tersebut, 29 telah beroperasi, namun baru 17 yang mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). (mgs)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Percepat Digitalisasi Bansos, Bali Jadi Percontohan
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Kemenkum Pastikan Posbankum Hadir di Seluruh Indonesia, Terbaru Sulut 1.839 Pos
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Akhiri Lawatan ke 4 Negara, Prabowo Mendarat di Jakarta Usai Giat Diplomasi Global
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Organisasi Energi Tidak Boleh Jadi Alat Tekanan Proyek
• 20 jam laludisway.id
thumb
Tragis, Seorang Pria Ditemukan Tewas di Trotoar Pasar Minggu
• 7 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.