Lemang, Kuliner Tradisional yang Hadir di Hari Besar Keagamaan

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Agus Alfian

TVRINews, Sekayam

Lemang menjadi salah satu sajian kuliner tradisional yang selalu hadir saat hari besar keagamaan. Makanan berbahan dasar beras ketan dan santan kelapa ini dikenal luas di Indonesia dan Malaysia, khususnya di kalangan masyarakat Melayu.

Proses memasak lemang yang menggunakan bambu sebagai wadah pembakaran menciptakan cita rasa khas dengan aroma asap yang menggugah selera. Teksturnya lembut dan kenyal, dengan perpaduan rasa gurih santan yang menyatu sempurna dengan ketan.

Pelaku usaha lemang di Sekayam, Wahab, mengatakan lemang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat, terutama saat perayaan keagamaan dan upacara adat.

"Lemang berasal dari masyarakat Melayu dan banyak ditemui di berbagai acara dan perayaan, seperti Hari Raya dan upacara adat. Proses pembuatannya dimulai dengan menyiapkan bahan utama yaitu beras ketan, santan kelapa, dan sedikit garam," ujar Wahab, Jumat, 27 Februari 2026.

Ia menjelaskan, campuran bahan tersebut dimasukkan ke dalam bambu yang telah dibersihkan dan dilapisi daun pisang. Selanjutnya, bambu dibakar di atas bara api selama kurang lebih enam jam hingga matang sempurna.

Menurutnya, proses pemanggangan inilah yang membuat lemang terasa istimewa dibandingkan olahan ketan lainnya. Aroma asap dari bambu memberikan sensasi rasa yang berbeda saat disantap.

"Lemang sering disajikan dalam berbagai acara penting, terutama di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha," ucapnya.

Pada Ramadan 1447 Hijriah kali ini, Wahab rutin memproduksi lemang untuk dijual di Pasar Juadah Ramadan Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Dalam sepekan, ia memproduksi sekitar 50 batang lemang untuk memenuhi pesanan pelanggan.

"Yang pesan lemang ini tidak hanya dari Sekayam saja, tetapi dari kecamatan lainnya seperti Entikong, Beduai, dan Kembayan. Untuk harga satu batang lemang kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu," jelasnya.

Biasanya, lemang disantap bersama rendang, kari, atau sambal. Selain rasanya yang lezat, lemang juga memiliki makna sosial dan budaya yang kuat sebagai simbol kebersamaan dan perayaan.

Seiring perkembangan zaman, lemang pun mengalami berbagai inovasi. Di sejumlah daerah, lemang kini hadir dengan variasi isian seperti daging atau kacang. Meski demikian, proses memasak secara tradisional menggunakan bambu tetap menjadi daya tarik utama yang mempertahankan cita rasa autentiknya.

Menikmati lemang bisa dilakukan dengan cara tradisional, langsung dari bambu, atau disajikan dalam potongan di atas piring. Dipadukan dengan lauk seperti rendang daging sapi, ayam, sambal, maupun sayuran, kelezatan lemang semakin terasa lengkap di momen kebersamaan.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mendag Targetkan Transaksi Trade Expo Indonesia Capai Rp 293 Triliun pada 2026
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kasatgas PRR Fokus Percepat Pemulihan di Wilayah Prioritas Pascabencana
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ratu Camilla dan Gisèle Pelicot Akhirnya Bertemu untuk Pertama Kalinya
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Menteri Sosial Saifullah Yusuf Minta Kepala Daerah Perketat Pengawasan Panti Sosial Usai Dugaan Kekerasan Terungkap
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Harga Emas Antam Jumat Ini Naik Tipis, Kini Rp 3,045 Juta per Gram
• 12 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.