Imbas Kesepakatan Tarif Dagang AS, Pemerintah Susun UU Ketenagakerjaan Baru

idxchannel.com
6 jam lalu
Cover Berita

Di dalam UU tersebut nantinya akan mengakomodir permintaan dari AS menyoal pembatasan penggunaan tenaga kerja outsourcing.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Anggie Arista/iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku saat ini Pemerintah tengah menyusun Undang-Undang Ketenagakerjaan baru pasca kesepakatan tarif dengan Amerika Serikat.

Menko Airlangga menjelaskan, di dalam UU tersebut nantinya akan mengakomodir permintaan dari AS menyoal pembatasan penggunaan tenaga kerja outsourcing, hingga pembatasan masa kontrak karyawan maksimal 1 tahun.

Baca Juga:
Tindaklanjuti Putusan MK, DPR dan Pemerintah Akan Buat UU Ketenagakerjaan Baru

"Kita sedang menyusun Undang-Undang Naker (Ketenagakerjaan) yang baru ya, sedang disusun. Jadi nanti itu (kesepakatan permintaan AS) akan masuk di dalam undang-undang Naker yang baru," katanya di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jumat (27/2/2026).

Menko Airlangga juga mengatakan, UU baru tersebut nantinya juga sekaligus mengakomodir beberapa pasal yang dibatalkan oleh MK terhadap beberapa pasal di Undang-Undang Cipta Kerja.

Baca Juga:
Perwakilan Massa Buruh Demo Diterima Puan di DPR, Tuntut Sahkan RUU Ketenagakerjaan

"Nanti kita akan monitor beberapa pasal dari UU CK yang dibatalkan oleh MK. Sehingga semuanya akan diintegrasikan di dalam Undang-Undang Tenaga Kerja yang baru," katanya.

Baca Juga:
Kadin Siap Kawal Tindak Lanjut Pembentukan UU Ketenagakerjaan Baru

Untuk diketahui, dalam perjanjian perdagangan resiprokal Indonesia-Amerika Serikat atau Agreement on Reciprocal Trade (ART)

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menyoroti isi klausul dalam perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang menyangkut pembatasan pekerja kontrak dan outsourcing.

Menurut Said Iqbal, pihaknya perlu memahami maksud di balik pasal yang disebut meminta pembatasan masa kerja Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) maksimal satu tahun serta pembatasan tenaga alih daya. Dia menilai klausul tersebut bisa memiliki dua kemungkinan tujuan.

Dia menegaskan, jika klausul itu berpotensi melemahkan daya saing tenaga kerja nasional, maka pemerintah harus mewaspadainya. Namun jika tujuannya benar-benar melindungi buruh melalui tekanan eksternal, KSPI dan Partai Buruh menyatakan terbuka untuk mendukung.

"Apakah bertujuan menurunkan daya saing pekerja Indonesia sehingga produk Indonesia tidak kompetitif, atau benar-benar ingin melindungi buruh Indonesia. Ini harus dipelajari yang tersirat dari pasal tersebut," katanya.

Said Iqbal menekankan bahwa pembatasan outsourcing sebenarnya sudah diatur dalam putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168 Tahun 2024. Putusan tersebut, kata dia, dimenangkan oleh gugatan Partai Buruh bersama KSPI, KSPSI Andegani, dan FSPMI.

Dia menilai tanpa adanya perjanjian dagang dengan pihak luar, pemerintah tetap wajib menjalankan putusan MK dengan memasukkan pembatasan outsourcing dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan baru.

(Nur Ichsan Yuniarto)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tenor KPR Subsidi Diperpanjang 30 Tahun, Cicilan Ringan
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Batal Rekrut Mateta karena Masalah Medis, AC Milan Malah Siapkan Investasi Gila-gilaan Musim Depan
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Ini Dia Sosok Koko Erwin, Bandar Sabu Kakap yang Diduga Setor Uang dan Narkoba ke Eks Kapolres Bima
• 17 jam lalusuara.com
thumb
Ratusan Mahasiswa Semarang Kepung Mapolda Jateng, Tuntur Reformasi Polri yang Mandek
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Anak Gajah Mati Kena Jerat di TN Tesso Nilo, Kapolda Riau Turun Tangan
• 18 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.