Bisnis.com, JAKARTA - Kesuksesan Bodo/Glimt melaju ke babak 16 besar Liga Champions UEFA bukan sekadar keberuntungan. Ada kisah inspiratif soal dampak nyata membina kesehatan mental terhadap prestasi di atas lapangan.
Sebagai pengingat, Bodo/Glimt baru saja menjegal jalan Inter Milan—finalis musim lalu, dan saat ini memimpin klasemen sementara Serie A—pada fase play-off 16 besar, bahkan mengalahkan mereka di kedua leg sekaligus.
Klub asal Norwegia itu mempermalukan Inter di kandang dengan skor 3–1. Lantas, saat bertamu ke Giuseppe Meazza, San Siro, lagi-lagi Kasper Hogh cs unggul dengan skor akhir 1–2. Agregat pun tembus 2–5 untuk Bodo/Glimt.
Kejutan performa Bodo/Glimt di Liga Para Raja musim ini sebenarnya sudah dimulai sejak mampu mengalahkan Manchester City dan Atletico Madrid di fase grup.
Bahkan, nama Bodo/Glimt sudah harum sejak Liga Europa UEFA musim 2024/25, seiring kesuksesannya mencapai semifinal, serta mengalahkan klub-klub ternama macam Lazio, Olympiacos, Twente, Besiktas, dan Porto.
Siapa sangka, semua capaian itu berakar sekitar satu dekade lalu, tentang mantan pilot jet tempur yang jadi pelatih kesehatan mental, sampai soal pentingnya meditasi sebelum berlatih, diskusi melingkar saat kebobolan, hingga kisah pemain yang sering mulas karena grogi.
Baca Juga
- Hasil Undian Liga Champions UEFA 16 Besar: Arsenal Mujur, Real Madrid Bersua Man City
- Juventus Nyaris Cetak Sejarah, Ini 4 Comeback Liga Champions Paling Gila Sepanjang Masa
- Daftar Tim Lolos ke Babak 16 Besar Liga Champions Eropa, Ini Jadwal Drawingnya
Waktu itu jelang musim 2017, klub asal kota Bodo, kawasan Bodø Municipality, Nordland tersebut baru saja terdegradasi dari Eliteserien, kasta tertinggi liga sepak bola Norwegia.
Nahas, sebab tahun itu bertepatan dengan perayaan 100 tahun klub berdiri.
Manajemen percaya faktor tekanan mental merupakan penyebab utama Bodo/Glimt terdegradasi. Salah satunya, dari pendapat pelatih kepala saat ini, Kjetil Knutsen yang kala itu masih menjabat asisten manajer.
Knutsen dan manajemen percaya, kualitas skuad sebenarnya tak jelek-jelek amat. Bahkan, ada beberapa pemain muda yang punya skill mumpuni, potensinya besar, dan masa depannya cemerlang. Tapi tetap saja, masalahnya, mereka masih muda.
Tuah Tempaan Mental Mantan Pilot Jet Tempur
Itulah awal mula pihak klub menghubungi skuadron angkatan udara Norwegia untuk meminta bantuan, lantas bertemu dengan pilot tempur, Bjørn Mannsverk.
Menariknya, tentara yang baru saja punya misi ke Afghanistan sampai Libia itu sama sekali tidak mengikuti sepak bola.
Waktu itu, Mannsverk sepakat ingin membantu, menjelaskan filosofi dan metodenya dengan sangat terukur, tapi belum mau masuk ke dalam struktur.
Bahkan, ada syarat yang dia ajukan: setiap pemain yang ingin mencoba sesi konseling, harus sukarela mengetuk pintu kantornya dengan kemauan sendiri.
Dari sanalah muncul kisah unik tentang gelandang muda yang cemerlang dalam latihan, tapi kerap meleyot di akhir pekan, karena mengaku suka mulas di tengah laga. Ulrik Saltnes namanya.
Saltnes menjadi pemain pertama yang mengetuk pintu kantor Mannsverk, tapi bukan buat sekadar konseling: dia mau resain.
Dalam wawancara kepada ESPN dan Skysport, Mannsverk mengungkap masalah Saltnes sebenarnya hanya karena tingkat stres yang terlalu tinggi.
Sebagai pemain muda, Saltnes sebenarnya telah meningkatkan skill dengan baik hingga layak masuk skuad utama. Namun, tekanan untuk langsung perform di laga sesungguhnya, justru membuatnya semakin melempem.
"Jadi saya bilang kepadanya [Saltnes], toh, kamu tidak bisa dipecat karena mau mengundurkan diri. Jadi, coba bermain lepas saja, mengikuti arus," ungkap Mannsverk.
Benar saja, setelah itu Saltnes justru moncer menjadi sayap kiri andalan yang rajin mencetak gol. Rasa mulasnya di tengah laga pun berangsur hilang.
Performanya paling mencolok, salah satunya lewat mencetak dwigol melawan Lazio di perempat final Liga Europa UEFA musim lalu, membuat Bodo/Glimt sukses menjegal langkah klub asal Italia itu menuju semifinal.
Setelah Saltnes, akhirnya semakin banyak pemain yang mencoba sesi 'curhat' bersama Mannsverk. Dari situlah lahir beberapa ide, salah satunya soal memperkuat meditasi dan diskusi.
Mannsverk awalnya mengadakan pertemuan kelompok selama 30 menit dengan sejumlah pemain. Semuanya di ruang terbuka, tempat saling berbagi pikiran dan ide, serta bersikap jujur satu sama lain tentang penampilan masing-masing.
Semua itu menciptakan gesekan. Bahkan, dengan pelatih. Tapi, semuanya selesai di sana.
"Ternyata, selama ini mereka tidak terbiasa berdialog dan memberikan umpan balik. Hanya mendengar monolog. Padahal, belajar dari konteks keselamatan penerbangan, berbagi pandangan soal kesalahan itu penting. Berbagi, saling mendengarkan, bukan saling menyalahkan," jelasnya.
Dia menggambarkan bahwa setiap pilot tempur pasti dan wajib memberikan umpan balik secara jujur, tepat sasaran, dan tetap tenang. Bahkan, harus cepat di setiap saat.
Metode itu ternyata sekaligus menancapkan filosofi klub untuk fokus berproses, memprioritaskan pada apa yang bisa dikendalikan, dan tidak menambah tekanan kepada sesama rekan.
Salah satu cerita menarik tentang ini adalah pengalaman mantan gelandang bintang Bodo/Glimt yang saat ini merantau ke Club Brugge, Hugo Vegard Vetlesen.
Pemain tengah Timnas Norwegia yang kini berusia 29 tahun itu secara tak langsung mengasah para gelandang Bodo/Glimt lain lewat kegemarannya berdiskusi. Padahal secara pragmatis, rekan-rekannya itu notabene juga kompetitornya buat berebut masuk skuad utama.
Keterbukaan seperti itu, nyatanya justru menjadi fondasi beberapa budaya positif lain. Misalnya, saat Bodo/Glimt kebobolan gol, semua pemain pasti akan melingkar untuk berdiskusi sejenak.
Bahkan, saat berhasil memasukkan gol pun mereka akan melakukan hal serupa. Kabarnya, budaya ini belajar dari pengalaman masa lalu, bahwa intensitas permainan skuad biasanya turun karena terbawa suasana unggul, sehingga lebih mudah kebobolan.
Hingga kini, Mannsverk masih menjadi pelatih mental yang sekaligus pahlawan di balik layar kesuksesan klub di kompetisi kancah Eropa. Uniknya, dia justru lebih suka disebut budayawan.
Tak heran, sejak 2020, Bodo/Glimt menjelma klub raksasa Norwegia dengan empat trofi Eliteserien. Lima tahun belakangan, pamornya bahkan mengalahkan klub populer macam Rosenborg, Viking, dan Fredrikstad.
Semua itu bukan karena skill individu pemain bintang, dampak instan suntikan modal, pelatih ternama, atau taktik bermain serba canggih, melainkan berkat satu dorongan kecil: budaya menjaga atmosfer kondisi mental yang sehat dan kondusif.





