Trump Sebut Rudal Iran Segera Capai AS, Intelijen Sendiri Berkata Lain

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: (via REUTERS/WANA NEWS AGENCY)
Dafar Isi
  • Gedung Putih dan Pernyataan Rubio
  • Bantahan Teheran
  • Penilaian IAEA dan Kapabilitas Teknis

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan bahwa Iran "segera" memiliki rudal yang mampu menjangkau daratan Amerika, pernyataan itu langsung menjadi sorotan di Washington. Namun, menurut tiga sumber yang memahami laporan intelijen AS, klaim tersebut tidak didukung oleh penilaian intelijen terbaru dan dinilai berlebihan.

Alhasil, hal itu memunculkan pertanyaan atas sebagian argumen Trump untuk kemungkinan menyerang Republik Islam tersebut.

Dalam pidato kenegaraannya di hadapan Kongres pada Selasa (24/2/2026), Trump mulai membangun argumen kepada publik Amerika mengenai alasan Washington dapat melancarkan serangan terhadap Iran. Ia mengatakan Teheran sedang "mengerjakan rudal yang akan segera mencapai" AS.


Baca: Mediator Buka-Bukaan Fakta Perundingan AS-Iran, Jadi Bakalan Perang?

Akan tetapi, dua sumber menyebut tidak ada perubahan terhadap penilaian tak terklasifikasi Badan Intelijen Pertahanan AS (Defense Intelligence Agency/DIA) tahun 2025. Dalam laporan itu disebutkan bahwa Iran kemungkinan membutuhkan waktu hingga 2035 untuk mengembangkan "rudal balistik antarbenua yang layak secara militer" (ICBM) dari kendaraan peluncur satelit (space-launch vehicles/SLV) yang sudah dimilikinya.

Salah satu sumber mengatakan bahwa bahkan jika China atau Korea Utara, yang bekerja sama erat dengan Iran, memberikan bantuan teknologi, Iran kemungkinan masih memerlukan waktu hingga delapan tahun paling cepat untuk menghasilkan "Sesuatu yang benar-benar setara dengan ICBM dan beroperasi."

Ketiga sumber tersebut berbicara dengan syarat anonim karena membahas informasi intelijen sensitif. Mereka menyatakan tidak mengetahui adanya penilaian intelijen AS yang menyebut Iran sedang mengembangkan rudal yang segera dapat menjangkau wilayah daratan AS.

Namun, mereka tidak menutup kemungkinan adanya laporan intelijen baru yang belum mereka ketahui.

Laporan serupa pertama kali diberitakan oleh The New York Times yang menyebut badan intelijen AS meyakini Iran kemungkinan masih bertahun-tahun lagi sebelum memiliki rudal yang mampu menghantam Amerika Serikat.

Baca: Media Arab Sorot Kunjungan Prabowo ke Yordania & UEA
Gedung Putih dan Pernyataan Rubio

Menanggapi keraguan tersebut, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly membela pernyataan presiden.

"Presiden Trump benar sekali dalam menyoroti kekhawatiran serius yang ditimbulkan oleh Iran, sebuah negara yang meneriakkan 'matilah Amerika,' yang memiliki rudal balistik antarbenua," ujarnya, dilansir Reuters, Jumat (27/2/2026).

Pernyataan Trump muncul ketika perwakilan AS dan Iran tengah bernegosiasi terkait program nuklir Teheran. Hingga kini, belum terlihat tanda terobosan yang dapat mencegah kemungkinan serangan AS, di tengah pengerahan militer besar-besaran Washington di kawasan.

Trump sendiri belum banyak menjelaskan secara terbuka alasan yang dapat membawa AS pada tindakan paling agresif terhadap Iran sejak Revolusi 1979.

Dalam pidatonya, ia menyinggung dukungan Teheran terhadap kelompok militan, penindasan terhadap demonstran, serta program rudal dan nuklir Iran sebagai ancaman bagi kawasan dan Amerika Serikat.

Tanpa menyertakan bukti, Trump juga menyatakan bahwa Teheran mulai membangun kembali program nuklir yang menurutnya telah "obliterated" oleh serangan udara AS pada Juni lalu terhadap tiga fasilitas utama pengayaan uranium.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu berbicara dengan nada lebih hati-hati. Ia mengatakan Iran berada "dalam perjalanan menuju kemampuan untuk suatu hari nanti mengembangkan senjata yang dapat mencapai daratan Amerika Serikat."

Baca: Kronologi & Sebab Perang Terbuka 2 Negara Muslim Pakistan-Afghanistan

Bantahan Teheran

Iran membantah tengah mengejar senjata nuklir. Teheran menyatakan pengayaan uranium, proses yang dapat menghasilkan bahan bakar pembangkit listrik maupun hulu ledak nuklir tergantung tingkatannya, dilakukan semata untuk tujuan sipil.

Dalam wawancara dengan India Today TV yang dirilis Rabu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah bahwa negaranya memperluas kemampuan rudal jarak jauh.

"Kami tidak mengembangkan rudal jarak jauh. Kami sengaja membatasi jangkauan hingga di bawah 2000 kilometer," katanya. "Kami tidak ingin hal itu menjadi ancaman global. Kami hanya memilikinya untuk membela diri. Rudal kami membangun daya jera."

Baca: Ada Bahaya Baru dari Tarif Trump, Peneliti Sebut Risiko Geopolitik

Penilaian IAEA dan Kapabilitas Teknis

Komunitas intelijen AS dan International Atomic Energy Agency (IAEA) sebelumnya menyatakan bahwa Iran menghentikan program pengembangan senjata nuklir pada 2003.

Namun, menurut IAEA, Teheran dalam beberapa tahun terakhir terus memperkaya uranium, termasuk hingga mendekati tingkat yang dapat digunakan untuk senjata.

Trump juga mengancam akan menyerang Iran jika negara itu mengeksekusi orang-orang yang ditangkap dalam protes nasional anti-pemerintah pada Januari atau gagal mencapai kesepakatan nuklir dalam perundingan dengan AS.

Iran diketahui memiliki kekuatan rudal balistik terbesar di Timur Tengah, dengan kemampuan menjangkau Israel, pangkalan-pangkalan AS di kawasan, serta sebagian wilayah Eropa.

Negara itu juga mengembangkan kendaraan peluncur satelit yang telah menempatkan satelit ke orbit, teknologi yang menurut para ahli dapat dimodifikasi menjadi ICBM yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

Perbedaannya, SLV digunakan untuk meluncurkan satelit ke orbit, sementara ICBM harus memiliki re-entry vehicle (RV) yang mampu melindungi hulu ledak dari suhu dan tekanan ekstrem saat memasuki kembali atmosfer bumi.

David Albright, mantan inspektur nuklir PBB dan presiden lembaga pemikir Institute for Science and International Security, menilai Iran masih jauh dari kemampuan tersebut.

"Iran mampu meluncurkan rudal jarak sangat jauh berkat program peluncuran antariksa yang dimilikinya," ujar Albright. "Namun, dibutuhkan banyak upaya untuk mengembangkan RV yang memadai."

Albright dan sejumlah pakar lain juga mencatat bahwa serangan udara Israel tahun lalu dan pada 2024 telah merusak parah fasilitas-fasilitas utama tempat Teheran memproduksi rudal balistik berbahan bakar cair dan padat.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video:Menlu AS Sebut Program Rudal Jarak Jauh Iran Jadi Ancaman Serius

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PSI Siap Tempur jika Nasdem Paksakan Parliamentary Threshold Naik Jadi 7 Persen
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Pemprov DKI Jakarta Bangun Jalur Bawah Tanah yang Hubungkan Empat Hotel Bundaran HI ke MRT
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Hasil Drawing Babak 16 Besar Liga Champions dan Jadwal Pertandingan
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Raisa Hadiri Show Onitsuka Tiger di Milan Fashion Week
• 15 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pidato Kenegaraan Trump Umumkan : Zaman Keemasan Amerika Serikat Telah Tiba
• 18 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.