TABLOIDBINTANG.COM - Banyaknya produk toksin botulinum di pasaran membuat pasien harus ekstra hati-hati. Harga murah sering kali jadi godaan utama.
Padahal, menurut Dr. Raynald Agus Setiawan, kesalahan terbesar pasien adalah hanya fokus pada harga.
“Murah belum tentu asli. Belum tentu juga tekniknya tepat,” tegasnya.
Cold Chain Sangat Penting di Indonesia
Dr. Raynald mengaku selalu memprioritaskan produk yang sudah mendapatkan persetujuan dari US Food and Drug Administration (US FDA).
Produk yang telah lolos FDA berarti telah melalui uji klinis ketat dan didukung jurnal ilmiah.
Salah satu yang ia rekomendasikan adalah Nabota dari Daewoong Pharmaceutical.
“Sudah lama saya menggunakan produk Daewoong. Produk ini sudah US FDA approved dan distributornya resmi. Jadi saya tidak khawatir soal kualitas maupun sistem cold chain-nya,” jelasnya.
"Sejauh ini, hasil tindakan yang dilakukan dan yang didapatkan pasien juga maksimal, sehingga kualitasnya terjamin," tambahnya.
Toksin botulinum harus disimpan pada suhu 2–8°C. Karena Indonesia beriklim tropis, sistem distribusi dengan cold chain menjadi krusial.
Jika tidak disimpan dalam suhu stabil, struktur protein bisa rusak. Akibatnya, hasil tidak maksimal, efek cepat hilang, hingga risiko reaksi meningkat
“Karena toksin sangat sensitif terhadap suhu, distribusi yang tepat dan penggunaan produk original menjadi faktor utama untuk menjaga keamanan dan efektivitas perawatan,” tegasnya.
Tips Penting Sebelum Suntik
Dr. Raynald memberikan beberapa tips penting bagi pemula:
1. Pilih klinik berizin resmi.
2. Pastikan dokter memiliki sertifikasi dan izin praktik.
3. Minta diperlihatkan boks dan kemasan asli produk.
4. Pastikan produk masih dalam kondisi segel.
Di Indonesia, pengawasan produk medis dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Kementerian Kesehatan.
“Pasien berhak tahu apa yang disuntikkan ke wajah mereka. Apa pun yang dimasukkan ke dalam tubuh, pasien harus tahu mereknya dan apakah diambil dari distributor resmi atau tidak," tegas Dr. Raynald.
Menurutnya, membangun ekspektasi realistis jauh lebih penting dibanding hanya mengejar durasi hasil.
Ia selalu menjelaskan bahwa ini bukan soal gagal atau berhasil, melainkan respons tubuh yang berbeda-beda.
“Edukasi adalah garda terdepan. Kalau pasien paham prosesnya, mereka akan lebih puas. Saat konsultasi awal saya biasanya mengajak pasien berdiskusi mengenai tujuan mereka," cerita Dr. Raynald.
"Ketika tujuan pasien sudah sesuai dengan tindakan yang dilakukan secara medis, barulah prosedur dilakukan," sambungnya.
Langganan Seleb
Menariknya, Dr. Raynald mengaku sering menangani figur publik tanpa ia sadari. Ia baru menyadari setelah diberi tahu oleh stafnya bahwa pasien yang ditangani adalah artis.
Namun menurutnya, kebutuhan artis dan pasien umum pada dasarnya sama. "Mereka ingin terlihat cantik, lebih muda, segar, dan natural, terutama saat tampil di depan kamera," sebutnya.




