JAKARTA, KOMPAS.TV - Harga daging sapi berpotensi melebihi Rp140.000 per kilogram menjelang Idulfitri 2026. Tekanan pasokan domestik, bayang-bayang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), serta ketidakpastian impor menjadi faktor pemicu.
Pengamat pertanian dan pangan, Khudori, menilai kenaikan harga sangat mungkin terjadi apabila pasokan daging sapi dalam negeri tidak bisa dipastikan.
“Kalau pasokan daging (sapi/kerbau) produksi domestik ini tak bisa dipastikan, kenaikan harga adalah keniscayaan. Itu hukum besi supply-demand,” kata Khudori dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/2/2026).
Ia menerangkan, selama ini produksi dalam negeri hanya menopang sekitar 45–46 persen kebutuhan nasional. Sisanya dipenuhi dari impor, baik dalam bentuk sapi bakalan maupun daging beku.
Baca Juga: Waspada Virus Nipah, Malut Tahan Pengiriman Ilegal Ratusan Kilogram Daging dan Satwa Liar
Merujuk data Sensus Pertanian 2023, populasi sapi dan kerbau dalam 10 tahun terakhir turun 17,2 persen, dari 14,23 juta ekor pada 2013 menjadi 11,79 juta ekor pada 2023.
Penurunan ini salah satunya dipicu merebaknya kembali PMK sejak 2022. Kemudian pada Januari 2026, dilaporkan sekitar 800 ekor sapi terpapar PMK.
Pemerintah mendistribusikan 4 juta dosis vaksin tahun ini, namun Khudori bilang, jumlah tersebut belum memadai karena hanya mencakup sekitar sepertiga populasi ternak nasional.
Ia pun mengingatkan adanya gejala normalisasi PMK sebagai penyakit yang dianggap akan selalu ada, padahal dampaknya sangat besar terhadap populasi dan produktivitas ternak.
Baca Juga: BGN Minta SPPG Putus Kerja Sama dengan Mitra yang Mark Up Harga Bahan Baku MBG
Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti
Sumber :
- harga daging sapi
- penyakit mulut dan kuku
- kenaikan harga daging sapi
- pasokan daging sapi
- daging kerbau
- impor daging sapi





