Memasuki puasa kesepuluh, ramadan mulai mengajarkan kita satu pelajaran penting: kemuliaan tidak selalu berisik. Ia sering tersembunyi di tempat yang tak dilirik manusia.
Di sebuah kota, para ulama dan ahli ibadah dikenal luas karena ilmunya. Masjid penuh oleh ceramah dan zikir. Namun suatu hari, seorang alim besar dalam sebagian riwayat disebut Syekh Abu Hasan menyampaikan sesuatu yang mengejutkan: orang paling mulia di kota itu bukanlah ahli ibadah di masjid, melainkan seorang pemuda pembersih sampah pasar.
Orang-orang terkejut. Bagaimana mungkin?
Bukan dari Kalangan Ulama BesarPemuda itu bukan ahli ceramah. Pakaiannya sederhana, bahkan penuh tambalan. Setiap pagi ia menyapu pasar, membersihkan kotoran yang ditinggalkan orang-orang yang bahkan tak mengenalnya.
Pemuda itu menampilkan sosoknya yang lusuh. Ia tidak dikenal sebagai ahli zikir panjang. Namun dalam pandangan langit, ukuran berbeda dengan ukuran manusia.
Al-Qur’an menegaskan:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh nasab, jabatan, atau popularitas, tetapi oleh kualitas ketakwaan yang tersembunyi dalam hati.
Rahasia di Balik KemuliaanApa rahasia pemuda itu?
Setiap hari setelah bekerja, ia pulang dan merawat ibunya yang sudah renta, buta, tuli, dan lumpuh. Ia membersihkan, menyuapi, memandikan, dan menenangkan ibunya dengan penuh kesabaran. Tanpa keluhan. Tanpa pamer.
Al-Quran memerintahkan: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra’: 24).
Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa merendahkan diri kepada orang tua bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam sikap dan pelayanan. Bahkan ketika orang tua telah lemah dan sulit, kesabaran anak menjadi ukuran kedewasaan iman.
Doa Ibu yang Menembus LangitIbunya, dalam kelemahan fisik, selalu mendoakan anaknya. Doa yang mungkin tak terdengar manusia, tetapi mengguncang langit.
Nabi Muhammad saw. bersabda: “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. Ahmad dan Nasa’i).
Hadis ini bukan sekadar simbolis. Para ulama menjelaskan bahwa jalan menuju ridha Allah sangat erat dengan ridha orang tua. Dalam hadis lain disebutkan, ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua (HR. Tirmidzi).
Maka ketika sang ulama menyatakan derajat pemuda itu setingkat wali Allah, ia bukan sedang membesar-besarkan. Ia hanya membuka tirai yang selama ini tertutup oleh kesederhanaan.
Puasa dan Keikhlasan yang SunyiPuasa adalah ibadah yang tersembunyi. Tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar menahan lapar atau tidak kecuali Allah.
Demikian pula bakti kepada orang tua. Ia sering dilakukan dalam sunyi, jauh dari sorotan publik.
Satirnya, kita mudah mengunggah potongan ceramah dan aktivitas sosial di media, tetapi sulit menampilkan kesabaran merawat orang tua yang renta. Padahal mungkin di situlah letak nilai terbesar.
Puasa kesepuluh mengajak kita mengoreksi ulang definisi kemuliaan. Bukan pada seberapa banyak orang mengenal kita, tetapi seberapa tulus kita merawat amanah yang Allah titipkan.
Derajat Wali dalam Perspektif TafsirDalam QS. Yunus: 62 disebutkan:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
Para mufasir menjelaskan bahwa wali Allah bukan selalu sosok dengan karamah luar biasa. Mereka adalah orang-orang beriman dan bertakwa (QS. Yunus: 63), yang konsisten dalam kebaikan, meski tak dikenal manusia.
Pemuda penyapu sampah itu tidak mengejar gelar wali. Ia hanya mengejar ridha ibunya.
Dan mungkin, justru karena ia tidak mencari kemuliaan, kemuliaan itu yang mencarinya.
Menyapu Jalan Menuju SurgaPuasa kesepuluh membawa kita pada satu refleksi sederhana: jalan menuju Allah bisa dimulai dari menyapu pasar, membersihkan rumah, atau mengganti pakaian ibu yang sakit.
Kemuliaan bukan pada panggung, tetapi pada pengabdian.
Dan di antara banyak jalan menuju Tuhan, salah satu yang paling dekat dan sering kita abaikan adalah telapak kaki ibu.




