Grid.ID - Selama bulan puasa, menahan haus seharian seringkali membuat kita kalap mencari minuman dingin saat adzan maghrib berkumandang. Banyak orang memilih meneguk minuman isotonik kemasan karena dipercaya sebagai cara paling instan untuk mengganti cairan tubuh.
Akan tetapi, tahukah kamu kalau kebiasaan ini ternyata bisa digantikan dengan yang jauh lebih sehat? dr. Tirta Mandira Hudhi alias Dokter Tirta membagikan edukasi kesehatan perihal tersebut.
Ia secara blak-blakan menyebut bahwa jus buah alami sejatinya jauh lebih unggul untuk menu berbuka puasa daripada minuman isotonik buatan pabrik.
"Sebaik-baiknya minuman isotonik yang dibuat oleh pabrik, tidak akan bisa menandingi buah-buahan yang udah disediakan oleh alam," kata Dokter Tirta dalam tayangan YouTube PengPengPeng yang Grid.ID kutip, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, buah-buahan asli dari alam menyimpan cadangan mineral dan elektrolit yang kompleks untuk mengembalikan (recover) hidrasi tubuh kita setelah belasan jam berpuasa.
Agar tidak mudah lemas akibat dehidrasi, Dokter Tirta membeberkan 3 jenis buah yang pas selama Ramadan:
1. Air Kelapa Murni
Bukan rahasia lagi kalau air kelapa adalah raja minuman rehidrasi. Dokter Tirta menjelaskan bahwa air kelapa murni memiliki komposisi elektrolit yang sangat lengkap dan merupakan cairan alami yang paling mirip dengan cairan di dalam tubuh manusia.
2. Semangka
Buah berdaging merah dan segar ini menjadi andalan kedua. Karena kandungan cairan alaminya yang tinggi, semangka sangat efektif mencegah dehidrasi.
Semangka mengandung hingga 92 persen air dan sarat akan mineral seperti magnesium serta kalium. Mengonsumsi semangka tak hanya menghilangkan haus seketika, tapi juga aman bagi lambung yang kosong setelah berpuasa.
3. Apel
Sebagai pelengkap dari air kelapa dan semangka, Dokter Tirta menyebut apel sebagai buah ketiga yang wajib distok untuk mengembalikan vitalitas dan kesegaran tubuh secara natural.
Nah, meski sangat disarankan, Dokter Tirta mewanti-wanti satu syarat mutlak jika kamu ingin memblender buah-buahan tersebut menjadi jus.
"Jangan dikasih sirup apalagi susu kental manis, beda urusan itu ya!" tegasnya.
Selain larangan menambahkan gula buatan, ada satu lagi pantangan besar, yakni jus buah tidak boleh disaring.Dokter Tirta mengingatkan bahwa ampas dari jus buah adalah serat (fiber) yang menguntungkan pencernaan.
"Dengan catatan jusnya tuh nggak disaring ya, diminum sesari-sarinya juga. Kalau disaring ya otomatis kalian cuma minum air gula," ungkapnya.
Lantas, apakah minuman isotonik kemasan itu buruk?
Meski mengagungkan buah segar langsung dari alam, Dokter Tirta tidak lantas menyalahkan konsumsi minuman isotonik atau air elektrolit. Menurutnya, minuman elektrolit diformulasikan memang untuk meniru kebaikan buah.
Minuman kemasan ini bisa menjadi solusi darurat kalau kamu benar-benar tidak punya waktu ke pasar atau sedang kehabisan stok buah di rumah.
"Bukan berarti air elektrolit jelek, tidak. Kalau nggak bisa beli buah, baru beli air elektrolit," tandas dr. Tirta.
Namun, ia tetap mengingatkan bahwa sebaik-baiknya nutrisi (protein, mineral air gunung, hingga elektrolit) sejatinya sudah disediakan dengan sempurna oleh alam.(*)
Artikel Asli



