Bukan Pembiayaan, Barang Impor China Disebut Jadi Penghambat Kemajuan UMKM

idxchannel.com
11 jam lalu
Cover Berita

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan penyebab utama pelaku UMKM sulit naik kelas yakni pasar yang dibanjiri barang impor ilegal.

Bukan Pembiayaan, Barang Impor China Disebut Jadi Penghambat Kemajuan UMKM. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengatakan penyebab utama pelaku UMKM sulit naik kelas bukan terletak pada akses pembiayaan maupun pelatihan, melainkan persoalan pasar yang dibanjiri barang impor ilegal.

Menurutnya, dari sisi pembiayaan, pemerintah telah memberikan dukungan yang sangat besar kepada sektor UMKM. Dia menyebutkan bahwa akses pembiayaan bagi UMKM saat ini telah mencapai Rp1.600 triliun, meningkat signifikan dibandingkan 20 tahun lalu.

Baca Juga:
Berkah Ramadan, UMKM Kue Kering Asal Bangka Hasilkan Omzet Berlipat Ganda

"Saya mau bilang bahwa, kalau dari sisi pembiayaan, akses pembiayaan tidak ada isu, sudah meningkat," kata Maman saat media gathering di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026).

Maman menilai persoalan utama berada pada sisi pasar. Dia menggambarkan kondisi pasar domestik saat ini dipenuhi barang impor ilegal yang membuat produk UMKM sulit bersaing. Meski pelaku UMKM sudah mendapatkan dukungan modal dan pelatihan, mereka tetap kesulitan menjual produknya karena pasar telah dibanjiri barang impor murah dari China.

Baca Juga:
UMKM Kini Bisa Bikin NIB Lebih Cepat Berkat SE Izin Lokasi lewat Pernyataan Mandiri

"Pasar Indonesia ini becek, kotor, dan jorok. Jadi sebagus apapun kita bantu UMKM hari ini, contoh misalnya kita bantu pembiayaan kepada mereka. Kita support apapun pelatihan kepada mereka. Mereka bisa produksi, tapi mereka nggak bisa jual barang," ujarnya.

Baca Juga:
Ekspansi Ritel Modern Gerus PKL dan UMKM, Menkop Minta Paket Kebijakan Ekonomi 2015 Dikaji Ulang

Maman juga menyoroti praktik under-invoicing dalam aktivitas perdagangan internasional. Dia mencontohkan adanya ketidaksesuaian data antara nilai impor yang tercatat di Indonesia dengan data ekspor dari China.

"Yang menjadi masalah ini adalah barang-barang ilegal impor yang masuk, yang tidak terdapat itu. Itu yang disebut oleh Pak Presiden, under-invoicing. Data impor di tempat kita masuk, barang-barang impor ini, itu 100. Tapi dari China, yang tercatat barang ekspor ini itu 900. Berarti ada 800 yang nggak tercatat," kata Maman.

Selisih data tersebut menunjukkan adanya barang impor ilegal yang masuk ke pasar domestik. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada penerimaan negara dari sektor bea masuk, tetapi juga menimbulkan persoalan sosial karena menghimpit pelaku usaha dalam negeri.

"Itu membanjiri produk domestik kita, pasar domestik kita. Akhirnya apa? Problem. Ya bukan hanya sekadar dari problem pendapatan negara dari impor. Enggak. Saya selalu bilang, ini sudah masuk problem sosial," ujarnya.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dokter Ayu Raih Pengakuan Nasional di Awal 2026 dengan 3 Rekor Muri
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Wamendagri Minta Gubernur Kaltim Kaji Ulang Mobil Dinas Rp 8,5 M
• 4 jam laludetik.com
thumb
Jadwal Buka Puasa Wilayah Medan Hari Ini 28 Februari 2026
• 33 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Wapres Gibran Dukung Lahirnya UU Konsultan Pajak, Ini Respons Ketum IKPI
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Natalius Pigai Tolak Debat Penanganan Kasus HAM Indonesia dengan Uceng, Host Dilarang Bertanya?
• 2 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.