Katalis Kerja Sama Prabowo-Trump di Emiten Unggas RI

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah menandatangani The Agreement on Reciprocal Trade (ART). Kerja sama perdagangan tersebut salah satunya dijalin untuk sektor perunggasan.

Dalam perjanjian tersebut, Indonesia mengimpor produk ayam AS dalam bentuk live poultry yakni untuk kebutuhan Grand Parent Stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor dengan estimasi nilai sekitar US$17-20 juta. 

Untuk kebutuhan industri makanan domestik, Indonesia juga melakukan importasi mechanically deboned meat (MDM) sebagai bahan baku pembuatan sosis, nugget, bakso, dan produk olahan lainnya dengan estimasi volume impor sekitar 120.000-150.000 ton per tahun.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Wilastita Muthia Sofi dalam risetnya yang rilis 25 Februari 2026 menyatakan dari kuota kerja sama impor GPS dari AS 580.000, kontribusinya akan lebih rendah pada sepanjang 2026 lantaran total impor GPS tahun ini diperkirakan tetap di 800.000 ekor. Pasokan dari AS tersebut hanya 73% dari total impor GPS 2026 yang diperkirakan sekuritas.

Dari estimasi itu, sekuritas tetap mempertahankan pandangan adanya risiko kelebihan pasokan (oversupply) pada 2028, serta risiko kekurangan pasokan (undersupply) pada 2026.

"Dalam skenario yang lebih positif, terdapat keterbatasan pasokan DOC GPS yang menyebabkan kuota impor GPS Indonesia dari AS meningkat 18% secara tahunan menjadi 580 ribu ekor pada 2026, dibandingkan rencana awal 38%. Jika eksportir DOC GPS lain juga mengalami keterbatasan serupa (kenaikan produksi hanya 18%), maka total impor GPS Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai 682.000 ekor," tulis sekuritas, dikutip Sabtu (28/2/2026).

Baca Juga

  • Saham Emiten Bakrie dan CT Bersinar Saat IHSG Tertekan Sepekan
  • Peringatan S&P soal Rating RI, Begini Strategi Amankan Portofolio Saham
  • Indeks Bisnis-27 Ditutup Merah, Terbebani Pelemahan Saham UNTR hingga TLKM

Bila itu terjadi, akan menghasilkan keseimbangan pasokan-permintaan yang lebih baik dengan potensi oversupply 8%-11% pada 2028 hingga 2029, lebih rendah dibanding proyeksi sekuritas sebelumnya di rentang 27% sampai 31%.

Sedangkan, impor MDM dinilai akan mendorong margin perusahaan produsen daging olahan karena MDM umumnya lebih kompetitif dari segi biaya karena menggunakan teknologi yang efisien dalam proses pengolahannya.

Di sisi lain, sekuritas menilai impor MDM bagi produsen live bird akan berpotensi menjadi pesaing produk substitusi. Namun, dampaknya akan terbatas mengingat skala impor yang kecil, yakni 150.000 ton yang hanya mencakup 5% dari total permintaan unggas sepanjang 2026 yang ditaksir sekuritas. 

"Impor MDM ini akan mendukung margin bisnis makanan olahan karena kami memperkirakan MDM akan memenuhi sekitar 37% dari kebutuhan ayam olahan," ujarnya.

Adapun, bila menilik segmen penjualan emiten unggas Tanah Air sepanjang Januari-September 2025, produk olahan berkontribusi sebesar 15,88% penjualan total PT Charoen Pokhpand Indonesia Tbk. (CPIN), 17,92% bagi PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan sebesar 1,12% bagi PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN). Sedangkan, tidak ada segmen olahan di penjualan PT Janu Putra Sejahtera Tbk. (AYAM).

Atas perhitungan outlook dari katalis yang dibawa oleh kerja sama Trump-Prabowo itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor unggas, mempertimbangkan dinamika pasokan-permintaan yang solid, khususnya pada semester pertama 2026 yang didukung kinerja kuat emiten kuartal IV/2025 dan kuartal I/2026 sebagai katalis jangka pendek bagi sektor ini.

"CPIN menjadi pilihan utama (top pick) karena posisinya yang relatif lebih longgar dari sisi kompetisi. Untuk rekomendasi taktis jangka tiga bulan, kami tetap pada posisi overweight, dengan sejumlah potensi katalis positif dalam waktu dekat, antara lain momentum perayaan Idulfitri, musim panen jagung, serta rilis kinerja keuangan yang solid," tulisnya.

Sementara itu, risiko terhadap proyeksi dalam riset ini mencakup cuaca ekstrem yang dapat mengganggu pasokan jagung dan soybean meal (SBM) domestik, serta potensi pelemahan lebih lanjut daya beli masyarakat.

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy CPIN dengan target harga Rp5.600, JPFA di target harga Rp3.100, dan MAIN di target harga Rp1.500.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bandar Narkoba Ko Erwin Dikonfrontasi dengan 6 Tersangka Lain, Ini yang Digali Polisi
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Dua WNA Disalahgunakan Izin Tinggal, Imigrasi Jakarta Selatan Deportasi DJ dan Penari Asal China dan Thailand
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Besar di Omah Dongeng Marwah Bentuk Pemikiran Kritis Tiyo Ardianto, Berani Kritik Program MBG Prabowo!
• 3 jam laludisway.id
thumb
Kasus Pengusiran Nenek Elina Masuk Babak Baru, Kejari Surabaya Terima Pelimpahan Tiga Tersangka
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Misteri Sosok Boy di Kasus Narkoba Eks Kapolres Bima Kota Terungkap, Kini Diburu Bareskrim
• 5 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.