Sebanyak sembilan ton pisang kepok keling diberangkatkan ke Malaysia dengan nilai sekitar Rp270 juta dari Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Pelepasan ekspor ini dipimpin Menteri Perdagangan Budi Santoso sebagai bagian dari penguatan akses pasar bagi pelaku UMKM.
Ekspor tersebut menjadi salah satu realisasi program “UMKM Bisa Ekspor” yang digagas Kementerian Perdagangan. Program ini dirancang untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli mancanegara melalui skema business matching.
Budi menjelaskan bahwa fasilitasi dilakukan secara rutin agar pelaku usaha memiliki kesempatan mempresentasikan produknya secara langsung.
“Setiap hari ada business matching. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah mempresentasikan produknya dan kami bantu mencarikan buyer (pembeli),” kata Budi dikutip dari ANTARA.
Melalui mekanisme tersebut, pelaku UMKM yang sebelumnya belum memiliki akses ekspor dapat terhubung dengan pasar luar negeri. Skema ini juga membuka peluang transaksi berkelanjutan bagi produk dalam negeri.
Kementerian Perdagangan mencatat sekitar 1.200 UMKM telah berhasil mencatatkan transaksi ekspor lewat program tersebut. Total nilai transaksi yang dihasilkan mencapai 134,8 juta dolar AS.
Budi menyebut sebagian besar peserta yang mengikuti business matching merupakan pelaku usaha yang baru pertama kali menembus pasar ekspor. Hampir 70 persen UMKM yang terlibat sebelumnya belum pernah melakukan pengiriman ke luar negeri.
Program ini diposisikan sebagai instrumen untuk memperluas pasar sekaligus menjaga perputaran ekonomi nasional. Dengan penetrasi pasar global, produk UMKM diharapkan tidak hanya bertumpu pada permintaan domestik.
Budi juga mendorong pemerintah daerah agar aktif mendukung pelaksanaan program tersebut. Sinergi pusat dan daerah dinilai penting untuk memperkuat daya saing UMKM di tingkat internasional.
Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya menyatakan pengiriman pisang ke Malaysia menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian daerah.
“Ini mungkin satu pengiriman, tetapi menjadi pesan kuat bahwa produk pertanian rakyat Sumut mampu bersaing di pasar internasional,” ujar Surya.
Ia menekankan bahwa ekspor bukan sekadar aktivitas pengiriman barang lintas negara. Menurutnya, konsistensi kualitas, keberlanjutan produksi, serta standar mutu menjadi faktor utama menjaga kepercayaan mitra dagang.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga terus mendorong hilirisasi pertanian agar nilai tambah tidak berhenti pada komoditas mentah. Pengembangan produk olahan dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi dan memperluas rantai industri agro.
Surya menyebutkan kinerja ekspor Sumut pada 2025 mencapai 12,3 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat sekitar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Kemenperin Fokus Tingkatkan Kapasitas dan Ekspor Perhiasan Indonesia
Ia mengatakan capaian tersebut mencerminkan kolaborasi antara petani, pelaku usaha, dan dukungan kebijakan pemerintah. Pemerintah provinsi berkomitmen menjaga tren positif ekspor melalui penguatan hilirisasi dan pengembangan agroindustri sebagai pusat pertumbuhan ekonomi daerah.
Pelepasan ekspor pisang ini menjadi contoh konkret bagaimana komoditas lokal dapat masuk ke pasar global melalui fasilitasi yang terstruktur. Program “UMKM Bisa Ekspor” diharapkan terus memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kontribusi UMKM terhadap perdagangan nasional.





