Indonesia menyetujui impor sebanyak 580 ribu Grand Parent Stock (GPS) atau bibit nenek ayam dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari kesepakatan dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang baru saja ditandatangani.
Kepala Pusat Riset Peternakan di Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Santoso, menjelaskan GPS merupakan bibit nenek ayam yang berada pada tingkatan tertinggi dalam hierarki pembibitan ayam komersial.
Bibit tersebut merupakan hasil seleksi genetik dan persilangan yang dikembangkan perusahaan pembibit internasional, seperti Aviagen dari Amerika Serikat, Lohmann dari Jerman, serta Cobb dari Amerika Serikat.
Dari GPS inilah kemudian dihasilkan Parent Stock (PS), yang selanjutnya digunakan untuk menghasilkan ayam komersial, baik jenis pedaging (broiler) maupun petelur (layer).
Santoso menerangkan dalam struktur pembibitan, GPS tersusun atas sedikitnya empat lini, yakni Line A (male line untuk pejantan PS jantan), Line B (female line untuk pejantan PS jantan), Line C (male line untuk PS betina), serta Line D (female line untuk PS betina).
“Jadi yang diimpor utamanya biasanya tergantung line D nya, misal 1.000 line D, nanti line A nya 16 persen dari D, line B 35 persen dan line C nya 20 persen, ini misal, tidak pasti,” kata Santoso kepada kumparan, dikutip Sabtu (28/2).
Ia melanjutkan, Indonesia sampai saat ini belum mampu memproduksi GPS secara mandiri. Hal tersebut disebabkan GPS merupakan produk berbasis kekayaan intelektual milik perusahaan prinsipal luar negeri, sehingga Indonesia harus melakukan impor setiap tahun sesuai kuota.
“GPS itu tidak bisa dikembangkan oleh Indonesia, akan selalu impor setiap tahun ada kuotanya, karena itu hasil KI dari principle, sehingga kita selalu impor GPS setiap tahun,” ucap Santoso.
Saat ini, mayoritas GPS yang dipakai di Indonesia berasal dari Aviagen Amerika Serikat. Produk dari Lohmann dan Cobb juga digunakan, tetapi jumlahnya relatif lebih kecil.
Selain persoalan hak kekayaan intelektual, pengawasan sistem genetika pada GPS juga sangat ketat. Dalam praktiknya, lini betina hanya boleh berisi ayam betina dan lini jantan hanya boleh berisi ayam jantan. Apabila ditemukan jenis kelamin yang tidak sesuai dalam satu lini, maka individu tersebut harus dieliminasi. Skema persilangan untuk menghasilkan PS pun telah ditetapkan secara baku oleh perusahaan prinsipal.
Perusahaan pembibit unggas global telah melakukan pengujian performa genetik dalam jangka sangat panjang. Lohmann misalnya telah menjalankan riset lebih dari satu abad, begitu pula Cobb yang memiliki pengalaman lebih dari 100 tahun, sementara Tetra telah melakukannya sekitar 75 tahun.
Sebaliknya, pengembangan galur ayam unggul lokal di Indonesia baru berlangsung sekitar 15 tahun dengan beberapa varietas seperti KUB-1, Sensi, Sembawa, IPB-D1, KUB Janaka, Gaosi, dan KUB Narayana.
“Ini baru galur-galur yang dihomogenkan untuk bisa menghasilkan produksi telur yang tinggi dan BB yang seragam, panen umur 70 hari atau ukuran 1 kg. Belum diarahkan ke GPS male line, dan female line karena begitu beragamnya ayam lokal sehingga sulit menentukan feather sexing dan color sexing seperti pada ayam ras,” jelas Santoso.
Keragaman genetik ayam lokal menjadi hambatan utama dalam pengembangan GPS nasional karena variasi warna bulu dan karakter fisik menyulitkan metode identifikasi jenis kelamin cepat seperti feather sexing dan color sexing. Meski demikian, Santoso mengatakan pihaknya masih berupaya mengarah ke pengembangan GPS berbasis unggas lokal, walau membutuhkan waktu panjang dan dukungan riset berkelanjutan.
“Jadi Indonesia belum memiliki GPS sendiri, namun periset BRIN sedang berproses ke arah situ, di mana dengan fokus kepada unggas lokal dan tentu saja ini memerlukan waktu,” terangnya.
Adapun Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional, Pardjuni, menilai rencana impor 580 ribu GPS berpotensi memicu kelebihan pasokan ayam pada 2028 jika direalisasikan tahun ini. Ia menjelaskan satu ekor GPS dapat menghasilkan sekitar 150–155 DOC final stock melalui parent stock.
Berdasarkan pengalaman tahun lalu, impor 578 ribu GPS berpotensi menghasilkan lebih dari 80 juta DOC per minggu pada 2027, padahal kebutuhan hanya sekitar 65 juta. Ia juga mengingatkan bahwa jika kuota impor tahun ini benar-benar mencapai 800 ribu ekor, maka risiko oversupply pada 2028 akan semakin besar.
“Jika GPS tahun ini benar-benar akan terealisasi di 800 ribu, mungkin akan over di tahun 2028,” katanya kepada kumparan.
Dalam dokumen ART, nilai impor 580 ribu induk ayam diperkirakan mencapai sekitar USD 17–20 juta atau setara Rp 286 miliar–Rp 336,48 miliar (kurs Rp 16.824 per dolar AS). Dengan perhitungan tersebut, harga rata-rata induk ayam impor dari AS sekitar Rp 493 ribu per ekor, mendekati Rp 500 ribu.





