BEKASI, KOMPAS.com – Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di bawah tenda sederhana di Jalan Komodo Raya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, tampak berbeda.
Sejumlah siswa SLB Kembar Karya Pembangunan III berdiri di balik meja dagangan, menawarkan aneka takjil dan minuman yang mereka buat sendiri.
Meski berjualan di stan sederhana, semangat mereka tidak surut. Setiap kali pembeli datang, senyum para siswa langsung merekah.
Baca juga: Manang Soebeti Ungkap Identitas Peneror Petugas Damkar yang Buat Konten Helm
Dengan bahasa isyarat, mereka menunjuk menu, menyampaikan harga melalui gerakan tangan, memastikan pesanan, lalu menghitung pembayaran.
Gerakan tangan yang lincah menjadi jembatan komunikasi antara siswa dan pembeli. Di tengah keterbatasan pendengaran dan bicara, interaksi tetap terjalin hangat.
Para siswa menyapa pembeli dengan ekspresi ramah, kemudian kembali menggunakan bahasa isyarat untuk melayani transaksi.
"Mereka terbiasa menggunakan bahasa isyarat. Tapi kalau ketemu masyarakat kan tidak mungkin menggunakan bahasa isyarat, jadi itu memancing mereka untuk bisa berinteraksi dengan orang lain," ujar Kepala SLB Kembar Karya Pembangunan III, Vivi Sukmawati (53), saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis (26/2/2026).
Vivi berharap, keterlibatan langsung siswa di ruang publik dapat membuat mereka semakin percaya diri.
Ia juga berharap dukungan masyarakat terus mengalir agar para siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
"Harapan saya masyarakat bisa mendukung program kami. Jadi anak-anak bisa mandiri sendiri dan masyarakat menerima mereka dengan tangan terbuka," ujar Vivi.
Ia menjelaskan, kegiatan berjualan tersebut merupakan program perdana yang digelar selama bulan Ramadhan tahun ini.
“Ini adalah tahun perdana kami melaksanakan kegiatan ini. Kami membuka stan ini dari awal puasa dan sudah berjalan sampai saat ini,” ujar Vivi.
Baca juga: 73 KK Terdampak Proyek Flyover Bulak Kapal, Ganti Rugi Ditargetkan Cair Maret–April 2026
Awalnya, kegiatan itu direncanakan hanya berlangsung selama dua minggu. Namun, melihat antusiasme siswa yang tinggi, pihak sekolah mempertimbangkan untuk memperpanjangnya hingga sebulan penuh.
“Tapi kalau memang anak-anak masih sangat antusias, insyaAllah akan kami laksanakan sampai satu bulan penuh,” katanya.
Menurut Vivi, kegiatan ini bukan sekadar berjualan takjil. Ada tujuan lebih besar di baliknya, yakni melatih kemandirian sekaligus membangun kepercayaan diri siswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat.





