Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendesak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk segera mengatasi krisis air bersih di lokasi bencana alam, seperti di Padasari, Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
"Mengingat kebutuhan air bersih tidak bisa ditunda, kami berharap ada pengingat untuk BRIN, mungkin melalui pemerintah provinsi agar masalah ini segera diatasi," kata Fikri dikutip di Jakarta, Sabtu.
Desakan itu disampaikan Fikri menyusul temuan dalam Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Komisi X DPR RI di Gedung Setda Kabupaten Semarang, Ungaran. Dia mengatakan kebutuhan mendesak itu salah satunya terjadi di area pembangunan hunian sementara (huntara) korban bencana tanah bergerak di Padasari, Kabupaten Tegal.
Fikri yang meninjau lokasi bencana itu bersama Ketua MPR RI mendapati laporan dari Kementerian PU terkait kurangnya sumber air. Ia pun langsung menghubungi Kepala BRIN Arif Satria untuk meminta bantuan penyediaan mesin Air Siap Minum (Arsinum).
Mengingat seluruh stok mesin Arsinum saat ini telah dikirim ke Aceh, wilayah Padasari kini tengah menunggu penyelesaian produksi mesin penjernih air mobile buatan BRIN. Inovasi berkapasitas 10.000 liter per hari itu mampu mengolah berbagai jenis air, termasuk air keruh dan berlumpur menjadi air siap minum sesuai standar Kementerian Kesehatan.
"Mesin Arsinum ini sangat fleksibel karena sumber airnya bisa dari mana saja, termasuk memurnikan air sungai yang keruh," kata Fikri.
Selain krisis air bersih, legislator Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX ini juga menyoroti kondisi mati suri yang dialami industri logam lokal di Tegal. Wilayah yang dahulu dijuluki "Jepangnya Indonesia" itu kini tengah terpuruk, dengan 70 hingga 80 persen industri rumahannya berhenti berproduksi.
Fikri menilai bahwa lumpuhnya roda industri itu diakibatkan oleh minimnya pendampingan riset ilmu bahan sehingga perajin lokal kalah bersaing di era modern.
Ancaman serupa, ujarnya melanjutkan, juga membayangi sentra industri daerah lain, seperti produsen knalpot di Purbalingga, pabrikasi logam di Boyolali, dan pengecoran logam di Klaten.
Sebagai langkah nyata, Fikri memastikan seluruh aspirasi daerah ini akan dirumuskan secara tertulis dan diteruskan kepada Panitia Kerja (Panja) DPR RI.
Ia juga mendorong adanya peninjauan kembali undang-undang terkait guna memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi keberlangsungan industri lokal.
Baca juga: Pergerakan tanah di Tegal masih aktif, pengungsi mencapai 2.453 jiwa
Baca juga: BNPB: Korban tanah bergerak di Tegal bisa tentukan lokasi huntara
Baca juga: BRIN pastikan Arsinum optimal layani warga terdampak bencana Sumatera
"Mengingat kebutuhan air bersih tidak bisa ditunda, kami berharap ada pengingat untuk BRIN, mungkin melalui pemerintah provinsi agar masalah ini segera diatasi," kata Fikri dikutip di Jakarta, Sabtu.
Desakan itu disampaikan Fikri menyusul temuan dalam Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Komisi X DPR RI di Gedung Setda Kabupaten Semarang, Ungaran. Dia mengatakan kebutuhan mendesak itu salah satunya terjadi di area pembangunan hunian sementara (huntara) korban bencana tanah bergerak di Padasari, Kabupaten Tegal.
Fikri yang meninjau lokasi bencana itu bersama Ketua MPR RI mendapati laporan dari Kementerian PU terkait kurangnya sumber air. Ia pun langsung menghubungi Kepala BRIN Arif Satria untuk meminta bantuan penyediaan mesin Air Siap Minum (Arsinum).
Mengingat seluruh stok mesin Arsinum saat ini telah dikirim ke Aceh, wilayah Padasari kini tengah menunggu penyelesaian produksi mesin penjernih air mobile buatan BRIN. Inovasi berkapasitas 10.000 liter per hari itu mampu mengolah berbagai jenis air, termasuk air keruh dan berlumpur menjadi air siap minum sesuai standar Kementerian Kesehatan.
"Mesin Arsinum ini sangat fleksibel karena sumber airnya bisa dari mana saja, termasuk memurnikan air sungai yang keruh," kata Fikri.
Selain krisis air bersih, legislator Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX ini juga menyoroti kondisi mati suri yang dialami industri logam lokal di Tegal. Wilayah yang dahulu dijuluki "Jepangnya Indonesia" itu kini tengah terpuruk, dengan 70 hingga 80 persen industri rumahannya berhenti berproduksi.
Fikri menilai bahwa lumpuhnya roda industri itu diakibatkan oleh minimnya pendampingan riset ilmu bahan sehingga perajin lokal kalah bersaing di era modern.
Ancaman serupa, ujarnya melanjutkan, juga membayangi sentra industri daerah lain, seperti produsen knalpot di Purbalingga, pabrikasi logam di Boyolali, dan pengecoran logam di Klaten.
Sebagai langkah nyata, Fikri memastikan seluruh aspirasi daerah ini akan dirumuskan secara tertulis dan diteruskan kepada Panitia Kerja (Panja) DPR RI.
Ia juga mendorong adanya peninjauan kembali undang-undang terkait guna memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi keberlangsungan industri lokal.
Baca juga: Pergerakan tanah di Tegal masih aktif, pengungsi mencapai 2.453 jiwa
Baca juga: BNPB: Korban tanah bergerak di Tegal bisa tentukan lokasi huntara
Baca juga: BRIN pastikan Arsinum optimal layani warga terdampak bencana Sumatera





