EtIndonesia. Tanggal 26 Februari 2026 diperingati sebagai Hari Perlawanan Pendudukan Krimea. Pada hari yang sama, militer Rusia kembali melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa diamnya komunitas internasional 12 tahun lalu telah mendorong ambisi Rusia untuk melakukan invasi skala penuh.
Di hari yang sama, perwakilan Amerika Serikat dan Ukraina mengakhiri perundingan di Geneva, dan diperkirakan awal Maret akan digelar perundingan damai trilateral AS–Ukraina–Rusia di Abu Dhabi.
Hari Perlawanan Pendudukan Krimea Rusia Gempur Ukraina dengan Serangan Udara Skala BesarPada Februari 2014, di hari-hari terakhir aksi unjuk rasa Lapangan Maidan di Ukraina, Rusia menduduki Krimea. Beberapa tahun kemudian, perang Rusia–Ukraina pecah secara menyeluruh. Sejak itu, 26 Februari diperingati sebagai Hari Perlawanan Pendudukan Krimea. Bagi rakyat Ukraina, hari ini adalah luka sejarah sekaligus pelajaran pahit.
Presiden Zelenskyy pada hari itu menegaskan bahwa dunia saat itu mengabaikan perlawanan rakyat Ukraina dan justru menasihati Ukraina untuk tetap diam. Karena itulah, menurutnya, Vladimir Putin merasa dapat melancarkan perang yang lebih besar dan bersikap semakin agresif terhadap Barat.
Di hari yang sama, Rusia kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke Ukraina. 420 drone dan 39 rudal dari berbagai jenis menghantam delapan wilayah di seluruh Ukraina, merusak infrastruktur penting dan gedung apartemen, serta menyebabkan puluhan orang terluka.
Wartawan: “Bagaimana kondisi apartemen Anda?”
Warga Ukraina: “Tidak ada yang tersisa. Semua hancur, semuanya rusak. Api terus menyebar.”
Menurut laporan Reuters, sejumlah pakar menilai—berdasarkan rekaman terbaru yang dirilis militer Ukraina—bahwa Rusia kemungkinan menggunakan rudal jelajah darat 9M729 yang dapat membawa hulu ledak nuklir dalam serangan terbaru.
Rudal ini sangat sensitif secara politik, karena menjadi penyebab utama runtuhnya INF Treaty antara AS dan Rusia pada 2019. Para ahli militer menyatakan jangkauannya mampu menutup ibu kota banyak negara Eropa, sehingga memicu kekhawatiran Barat akan eskalasi perang.
Rencana Perundingan Tiga Pihak Rubio: Perang Tak Bisa Diakhiri dengan Cara MiliterDi tengah berlanjutnya pertempuran, upaya perdamaian tetap berjalan. Pada Kamis (26 Februari), perwakilan Amerika Serikat dan Ukraina menggelar pembicaraan di Jenewa, dengan fokus pada isu ekonomi dan dukungan jangka panjang bagi Ukraina.
Seusai pertemuan, Zelenskyy berbicara lewat telepon dengan pihak AS dan menyatakan bahwa putaran baru pertemuan trilateral AS–Ukraina–Rusia kemungkinan digelar awal Maret di Abu Dhabi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan : “Kami tahu bahwa perang di Ukraina pada akhirnya tidak dapat diselesaikan dengan cara militer. Perang ini pasti berakhir lewat perundingan. Saat ini, kami adalah satu-satunya negara yang mampu memfasilitasi perundingan tersebut. Jika kami menyerah dari peran ini, negara lain tidak akan mampu melakukannya. Meski begitu, apakah kesabaran Presiden (Donald Trump**) tak terbatas? Saya rasa tidak.”
Menurut laporan situs berita AS Axios, Presiden Trump pada Rabu (25 Februari) melakukan panggilan telepon dengan Zelenskyy dan menyatakan bahwa perang ini telah berlangsung terlalu lama, serta berharap konflik dapat diakhiri dalam waktu satu bulan.
Namun, sikap Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia, sangat berbeda. Ia menyatakan bahwa tidak ada tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan. (Hui)
Laporan komprehensif oleh reporter NTD Yi Jing.





