Pejabat Partai Komunis Tiongkok Gunakan ChatGPT, Aksi Intimidasi Global Terungkap Secara Tak Terduga’

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa dalam insiden bentrokan antara personel kapal cepat AS dan petugas perbatasan Kuba yang terjadi di perairan lepas pantai Kuba pada Rabu (25 Februari), dari empat orang yang tewas, setidaknya satu adalah warga negara Amerika Serikat, dan satu korban luka juga merupakan warga AS.

Di sisi lain, OpenAI pada Rabu (25/2) merilis laporan terbaru yang mengungkap bahwa pasukan siber Partai Komunis Tiongkok (PKT) berupaya memanfaatkan ChatGPT untuk merencanakan dan mendokumentasikan operasi represi lintas negara, termasuk menyamar sebagai pejabat AS, memalsukan dokumen hukum, serta menyebarkan informasi palsu. 

Laporan tersebut menyebutkan bahwa operasi ini menunjukkan ciri berskala besar dan “terindustrialisasi”, yang dinilai sebagai eskalasi baru dalam praktik represi lintas batas PKT.

Menurut laporan OpenAI, seorang aparat penegak hukum PKT menggunakan ChatGPT sebagai buku harian, untuk mencatat secara rinci dan merencanakan berbagai operasi represi lintas negara—memicu kekhawatiran luas akan penyalahgunaan kecerdasan buatan.

Laporan itu mengungkap, dalam salah satu kasus, aparat tersebut menyamar sebagai pejabat imigrasi AS.  Bahkan, memperingatkan seorang pembangkang Tiongkok yang tinggal di Amerika Serikat, dengan mengklaim bahwa pernyataan publiknya berpotensi melanggar hukum.

Dalam kasus lain, pengguna tersebut meminta ChatGPT memalsukan dokumen pengadilan AS guna menipu sebuah perusahaan media sosial Amerika agar menutup akun seorang pembangkang Tiongkok. Ia juga memalsukan kabar kematian pembangkang tersebut, dengan tujuan menciptakan kekacauan dan tekanan psikologis.

OpenAI menyatakan, operasi ini mungkin melibatkan ratusan operator PKT, serta ribuan akun palsu yang beroperasi di berbagai platform media sosial.

Kepala peneliti OpenAI, Nimo, mengatakan bahwa ini merupakan bentuk terbaru represi lintas negara yang dilakukan PKT saat ini.

Analisis menilai, di tengah meningkatnya persaingan kecerdasan buatan antara AS dan Tiongkok, PKT memanfaatkan AI untuk memperkuat operasi informasi, yang secara serius merugikan kepentingan negara lain.

 “Ketika mereka menggunakan media daring untuk menyerang seseorang, itu menjadi sesuatu yang sulit dicegah,” kata pengamat isu terkini Xing Tianxing. 

Mantan pengacara Tiongkok sekaligus akademisi independen Lai Jianping mengatakan : “Ini jelas merupakan tindakan yang melanggar prinsip dasar hukum internasional dan norma hubungan internasional. Bukan hanya campur tangan terhadap urusan dalam negeri negara lain, tetapi juga pelanggaran berat terhadap hukum HAM internasional.”

Wakil Ketua Federasi Demokrasi Tiongkok Kanada, Sheng Xue, menilai:  “Menyamar sebagai pejabat imigrasi AS untuk mengintimidasi pembangkang yang tinggal di Amerika—ini bukan sekadar perang opini publik. Ini setara dengan memalsukan identitas pejabat negara lain untuk melakukan ancaman penegakan hukum.”

Pengamat juga membandingkan operasi semacam ini dengan ‘kantor polisi rahasia luar negeri’ PKT yang sebelumnya terungkap, dan menilai bahwa operasi intimidasi dan pengaruh berbasis daring ini lebih berbahaya, serta lebih sulit diawasi dan dicegah.

Sheng Xue menambahkan:  “Ini lebih berbahaya daripada kantor polisi luar negeri, karena lebih tersembunyi, lebih menyesatkan, dan lebih merusak. Ini adalah lembaga penegakan hukum virtual di ruang digital yang tanpa batas. Intimidasi dilakukan secara daring, penetrasi platform juga tanpa batas—baik sasarannya pembungkaman pembangkang, kelompok Mongol, Uighur, Tibet, atau Falun Gong—semuanya dapat dilakukan dengan menghindari prosedur hukum setempat.”

Selain itu, laporan Reuters menyebutkan bahwa sebuah yayasan Amerika Serikat merilis laporan terbaru yang menyatakan PKT menggunakan AI untuk memperluas operasi pengaruh di luar negeri, dengan target mencakup politik Asia dan Amerika Serikat, termasuk pemilu Jepang serta isu politik AS yang terkait dengan Donald Trump.

Menanggapi hal ini, Komite Khusus Kongres AS untuk Menghadapi Partai Komunis Tiongkok menyatakan di platform X bahwa mereka telah mencermati temuan terbaru OpenAI dan akan terus memantau serta mengungkap ancaman-ancaman terkait.

Laporan oleh wartawan NTD Chen Yue dan Chang Chun


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mardiono Buka Muswil PPP Kalbar dan Optimistis Kembali ke Senayan 2029
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
SIM Keliling 28 Februari 2026: Cek Lokasi Pelayanan Akhir Pekan
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Pertamina Dorong Ekosistem SAF Terverifikasi Global
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Harga Pangan 28 Februari 2026: Cabai Turun Tajam, Bapanas Sebut Harga Mulai Stabil Jelang Lebaran
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Indef: Pengecualian TKDN untuk AS Bisa Picu Kecemburuan Dagang
• 22 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.