ISRAEL secara resmi mengumumkan nama operasi militer besar-besaran terhadap Iran dengan sandi 'Lion's Roar' (Auman Singa). Operasi gabungan bersama Amerika Serikat (AS) ini tidak hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga mulai menargetkan pusat-pusat kekuasaan dan petinggi rezim di Teheran.
Laporan Channel 12 menyebutkan bahwa gelombang serangan udara hari ini menyasar kediaman pribadi para menteri, kepala militer, instalasi Kementerian Pertahanan, markas intelijen, hingga fasilitas kepresidenan Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan memilih sendiri nama operasi ini, yang merupakan kelanjutan dari operasi 'Rising Lion' pada Juni 2025 lalu.
Serangan SiberSelain gempuran fisik, Iran juga dihantam gelombang serangan siber yang melumpuhkan infrastruktur digital. Kantor berita semipemerintah Iran, Fars, melaporkan bahwa sejumlah agensi berita utama Iran mengalami gangguan operasional parah. Selain itu, beberapa aplikasi seluler yang digunakan secara luas oleh masyarakat juga tidak dapat diakses.
Baca juga : Iran Bantah Klaim Gencatan Senjata Trump, Desak Israel Hentikan Agresi
Mantan Kepala Intelijen Israel, Amos Yadlin, menyatakan bahwa tujuan utama dari 'Lion’s Roar' adalah melemahkan kemampuan militer dan posisi tawar rezim secara dramatis.
"Anda tidak bisa menjatuhkan rezim hanya dari udara, tetapi Anda bisa membatasi apa yang bisa mereka lakukan," ujar Yadlin.
Ia juga menambahkan bahwa serangan ini kemungkinan merupakan strategi Presiden AS Donald Trump untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan nuklir, sekaligus memberikan dukungan nyata bagi kelompok demonstran yang ingin menggulingkan rezim.
Hingga saat ini, ledakan masih dilaporkan terdengar di beberapa titik strategis, sementara ruang udara di kawasan tersebut ditutup sepenuhnya untuk penerbangan sipil. (Times of Israel/B-3)





