jpnn.com, JAKARTA - Evi Afiatin mengatakan peran Chief Financial Officer (CFO) menjadi krusial di tengah dunia yang berubah makin cepat, dipicu oleh ketegangan geopolitik, disrupsi rantai pasok global, hingga percepatan teknologi digital.
Di sisi lain, dinamika regulasi dan pasar modal yang semakin kompleks, masa depan tidak lagi bergerak secara linear.
BACA JUGA: Direktur Keuangan PT KITB Evi Afiatin Jadi Top 100 Most Outstanding Women 2023
“Ketidakpastian menjadi keniscayaan,” ungkap Evi dikutip, Sabtu (28/2).
Menurut Evi, perusahaan tidak cukup hanya mengejar kinerja jangka pendek.
BACA JUGA: Riset CFO Venteny: Analisa Perilaku Investor Saham Bank, Kontribusi Nyata Pasar Modal
Namun, harus dipersiapkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan masa depan, baik itu risiko yang tidak terduga maupun peluang yang muncul tiba-tiba.
Gagasan itu, membawa Evi Afiatin menerima penghargaan Best CFO 2025 dalam forum Indonesia Best CEO & CFO 2025 yang diselenggarakan oleh SWA Media Group bersama Dunamis Organization Services.
Penghargaan diberikan atas kepemimpinannya ketika menjabat Direktur PT. Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) serta Direktur Keuangan PT Sucofindo (Persero), di mana ia mendorong penguatan fundamental perusahaan melalui disiplin finansial, integrasi manajemen risiko, digitalisasi pengambilan keputusan, serta penguatan tata kelola korporasi.
Evi Afiatin kini mengemban mandat baru sebagai Direktur Transformasi, SDM & Umum PT Surveyor Indonesia (Persero), menandai perluasan perannya dari pemimpin fungsi keuangan menjadi penggerak transformasi institusi secara menyeluruh.
Peran CFO Modern
Dalam paparannya bertajuk “From Financial Steward to Enterprise Value Architect: Commanding Agility and Governance in an Age of Uncertainty”, Evi menegaskan CFO modern tidak lagi cukup berperan sebagai pengelola anggaran maupun penjaga stabilitas laporan keuangan.
Pada situasi perubahan yang begitu cepat dan tidak linear, CFO dituntut untuk memastikan kesiapan perusahaan untuk bertahan, beradaptasi, sekaligus bergerak cepat ketika risiko muncul maupun peluang terbuka.
“CFO harus menjadi strategic partner pertumbuhan bisnis dan penciptaan nilai, memastikan setiap keputusan strategis dapat meningkatkan nilai jangka panjang perusahaan,” pungkas Evi.
Evi memperkenalkan pendekatan Enterprise Value Architecture (EVA), sebuah kerangka yang menempatkan fungsi keuangan sebagai perancang sistem penciptaan nilai perusahaan secara terintegrasi.
Model tersebut bertumpu pada tiga pilar utama:
• Financial Strength — membangun neraca sehat, likuiditas kuat, dan fleksibilitas modal sebagai shock absorber menghadapi guncangan;
• Disciplined Growth — memastikan alokasi modal hanya ditujukan untuk aktivitas yang menghasilkan nilai lebih tinggi dari biaya modal;
• Governance & Risk Integration — mengintegrasikan tata kelola dan manajemen risiko ke dalam setiap keputusan strategis yang memberikan kapasitas bagi organisasi untuk mengambil keputusan lebih cepat, lebih tepat, dan dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi.(mcr10/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul



