EtIndonesia. Di sebuah malam musim dingin yang membekukan, seorang sopir taksi bernama Adun tetap keluar bekerja demi menghidupi keluarganya. Meski bulan Desember terasa sangat dingin, dia menggertakkan gigi dan menyalakan mobilnya.
Malam itu gerimis turun tipis.
Dari radio pangkalan taksi terdengar panggilan: ada penumpang yang memesan di suatu titik. Adun melirik arlojinya—sudah pukul 1 dini hari.
“Hari ini terakhir saja,” gumamnya.
Dia tiba di lokasi yang dijanjikan. Namun belum ada penumpang. Dia menyalakan sebatang rokok dan menatap sekeliling.
Tiba-tiba dia teringat cerita rekan kerjanya beberapa hari lalu: “Di dekat Pemakaman Nomor 8, setiap lewat jam 1 malam selalu ada yang pesan taksi. Tapi harus menunggu belasan menit dulu baru penumpangnya muncul…”
Adun tertegun.
Dia tersadar—dia sedang berada di dekat Pemakaman Nomor 8. Dan dia memang sudah menunggu sekitar sepuluh menit.
Rasa dingin merambat di punggungnya.
“Sudahlah, pulang saja…” pikirnya.
Baru saja hendak menyalakan mobil, tiba-tiba seorang wanita berbaju merah muncul di samping jendela.
Dia kembali teringat cerita temannya: “Dan penumpangnya selalu wanita berbaju merah… minta diantar ke Kota B…”
Adun menatap wanita itu. Sempat terpikir untuk langsung tancap gas. Namun melihat hujan yang turun dan sosok gadis sendirian, hatinya melunak.
Wanita itu masuk dan berkata pelan : “Pak sopir, tolong antar ke Kota B…”
Adun ragu sejenak : “Biayanya cukup mahal, lho, Nona…”
Wanita itu menjawab tenang: “Tidak apa-apa. Saya sedang terburu-buru.”
Akhirnya Adun melaju ke jalan tol. Meski sudah satu jam perjalanan, rasa dingin aneh tak juga hilang dari hatinya.
Dia beberapa kali melirik kaca spion, memastikan wanita itu masih ada di kursi belakang.
Wanita itu tidak menghilang. Bahkan sempat tersenyum tipis padanya.
Satu jam kemudian mereka tiba. Adun memarkir mobil dan melihat argo.
“Totalnya 5320.”
Saat dia menoleh ke belakang— Kursi itu kosong.
Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar jendela: “Pak sopir, 5320 ya?”
Wanita berbaju merah berdiri di samping mobil.
Adun hampir melompat kaget.
“Ya… iya, Nona…”
Wanita itu berkata pelan, “Maaf… uang saya kurang. Saya pulang dulu ambil uang, ya. Rumah saya yang di ujung gang itu.”
Dia menunjuk rumah pertama di gang.
“Baik… saya tunggu.” Setengah jam berlalu. Wanita itu tidak kembali.
Adun mulai merasa tidak beres. Dia turun dari mobil dan berjalan ke rumah yang ditunjuk. Dia menekan bel.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu—tampaknya ibu si gadis.
“Maaf, tadi putri Anda naik taksi saya. Ongkosnya belum dibayar…”
Wanita itu menatapnya heran: “Putri saya? Tidak ada yang pulang barusan. Dan… putri saya sudah meninggal karena kecelakaan satu tahun lalu. Anda orang ketiga bulan ini yang mengatakan mengantar putri saya.”
Wajah Adun pucat pasi. Dia berbalik dan berlari menuju mobilnya.
Begitu dia pergi, wanita paruh baya itu berteriak ke dalam rumah:“Keluar saja, dia sudah pergi!”
Seorang wanita berbaju merah keluar dari dalam rumah. “Lain kali jangan begitu lagi! Perempuan kok pulang larut malam. Ketinggalan kereta, naik taksi mahal sekali!”
“Maaf, Bu… tadi Ibu aktingnya bagus sekali, seperti artis!”
Tiba-tiba gadis itu terkejut.
“Ah, berkas kantor saya tertinggal di taksi! Bagaimana ini?”
“Telepon saja ke pangkalan taksi!”
Gadis itu menelepon : “Permisi, saya ingin mencari mobil nomor 444. Saya tertinggal barang di dalamnya.”
Petugas menjawab: “Nona naik dari mana?”
“Dari Pemakaman Nomor 8. Kenapa?”
Suara di seberang terdengar berat.
“Mobil nomor 444 sebulan lalu mengalami kecelakaan setelah menjemput penumpang dari Pemakaman Nomor 8. Penumpangnya hanya luka ringan. Tapi sopirnya, Adun, meninggal di tempat.”
Renungan
Cerita ini benar-benar penuh kejutan. Awalnya kita mengira yang mistis adalah si wanita berbaju merah. Ternyata, kebenaran jauh lebih menyeramkan.
Namun perlu ditegaskan: dalam kehidupan nyata, tindakan ibu dan anak itu adalah penipuan. Jangan pernah menirunya.
Cerita ini juga mengingatkan bahwa memanfaatkan ketakutan orang terhadap hal gaib untuk keuntungan pribadi adalah perbuatan yang tidak benar.
Orang bijak berkata: “Jika terlalu sering berjalan di malam hari, cepat atau lambat akan bertemu hantu.”
Hidup yang paling tenang adalah hidup yang jujur dan lurus.
Karena kadang yang kita anggap menipu orang lain… justru membawa kita berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.(jhn/yn)





