Hapus Stigma Kusta, Temukan Kasus Sebanyak Mungkin dan Obati Segera 

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Kusta merupakan penyakit kuno yang masih mengintai masyarakat di dunia. Penyakit ini sudah ditemukan sejak 3.500 tahun yang lalu. Namun, sejumlah negara kini masih harus berjuang melawan kusta, termasuk Indonesia.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, kusta masih ditemukan di 120 negara di seluruh dunia. Sebanyak 200.000 kasus kusta baru dilaporkan setiap tahunnya. Sekitar 71 persen kasus kusta di dunia berada di India, Brasil, dan Indonesia.

Di Indonesia, kasus kusta baru yang tercatat pada 2023 mencapai 12.798 kasus. Kasus tertinggi berada di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, dan Papua.

”Namun, kusta ini tidak hanya ditemukan di Indonesia bagian Timur. Masih ada titik-titik wilayah di kota besar di Indonesia yang juga butuh perhatian, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Bahkan, di Bekasi dan Tangerang juga masih ditemukan,” ujar Guru Besar Bidang Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi saat dihubungi di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Baca JugaKusta, Penyakit Kuno yang Masih Mengintai Indonesia
Baca JugaMengalahkan Kusta
Baca JugaDisabilitas Kusta Bisa Dicegah

Meski begitu, menurut dia, penanganan kusta di Indonesia sudah lebih cepat dan baik seiring dengan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan sistem surveilans yang dijalankan. Kasus kusta dilaporkan mengalami peningkatan. Akan tetapi, peningkatan itu terjadi karena deteksi dini dan penemuan kasus lebih banyak dilakukan.

Hal itu dinilai baik karena kunci utama dalam penanganan kusta ialah deteksi dan pengobatan sejak dini. Dengan deteksi dini, kasus kusta bisa cepat diobati sehingga risiko penularan serta komplikasi bisa dicegah.

Kusta merupakan penyakit menular yang terjadi secara menahun yang bisa menyerang kulit, jaringan saraf tepi, mata, dan selaput di bagian dalam hidung. Penyakit ini ditularkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Gejala khas dari penularan kusta berupa bercak putih atau kemerahan yang mati rasa.

Meski gejalanya khas, bercak yang tidak terasa gatal dan nyeri tersebut justru seringkali diabaikan sampai penyakit berkembang menjadi lebih berat. Pengabaian terhadap gejala ini dipengaruhi pula oleh kesadaran dan pengetahuan yang masih kurang di masyarakat.

Samsul (35), warga Bulukumba, Sulawesi Selatan, merupakan seorang penyintas kusta yang terlambat mendapatkan penanganan karena deteksi yang terlambat. Gejala kusta berupa bercak putih sudah muncul sejak ia berusia 9 tahun. Namun, bercak itu diabaikan sampai sekitar 2 tahun.

”Karena masih kecil, jadi hanya mengabaikan bercak itu. Bercaknya tidak gatal dan tidak terasa apa-apa. Orangtua juga tidak mengerti kenapa muncul bercak itu sehingga dibiarkan saja. Akan tetapi, lama-kelamaan setelah dua tahun bercak semakin banyak sampai tiba-tiba tangan menjadi bengkak, lalu bengkok, dan kaki saya sudah semper (bengkok),” katanya.

Stigma

Pengobatan pun baru kemudian didapatkan oleh Samsul. Setidaknya 12 bulan ia harus mendapatkan pengobatan hingga akhirnya bisa kembali bersekolah. Selepas dari pengobatan, tantangan bagi Samsul ternyata belum selesai. Stigma dan diskriminasi harus dihadapinya.

”Saya mau menyentuh teman saya tidak bisa. Saya juga tidak dipinjami (alat tulis). Padahal, saya sudah dinyatakan sembuh dan tidak menular. Mereka (teman-teman) awalnya tidak mau berteman dengan saya. Diskriminasi sangat saya rasakan karena mereka tidak tahu tentang penyakit ini,” ucap Samsul.

Baca JugaJangan Ada Kusta di Antara Kita
Baca JugaSkrining Penyakit Kusta Masuk Cek Kesehatan Gratis Mulai Tahun 2026
Baca JugaMenghapus Stigma, Menjaga Asa Anak dengan Kusta

Stigma dan diskriminasi memang masih menjadi tantangan besar yang tidak berubah dalam upaya penanganan kusta di masyarakat. Masih banyak orang dengan kusta dikucilkan dan ditolak oleh masyarakat. Hal itu akhirnya membuat orang dengan kusta diharapkan dengan beban ganda, yakni beban kesehatan fisik akibat penyakit kusta serta beban kesehatan mental akibat stigma dan diskriminasi yang dialami.

Stigma dan diskriminasi memang masih menjadi tantangan besar yang tidak berubah dalam upaya penanganan kusta di masyarakat. Masih banyak orang dengan kusta dikucilkan dan ditolak oleh masyarakat.

Sri Linuwih menyampaikan, stigma yang membuat orang dengan kusta harus mengalami diskriminasi, dijauhi oleh lingkungan, serta kehilangan pekerjaan dan kesempatan untuk bersekolah. Stigma berdampak besar pada aspek psikososial penderita. Padahal, kusta bisa disembuhkan. Kusta juga bukan penyakit kutukan.

“Kalau kita bisa memastikan masyarakat punya wawasan dan pengetahuan yang cukup mengenai kusta, penyakit itu tidak akan diabaikan. Orang dengan kusta tidak harus mendapatkan stigma. Gejala kusta juga bisa segera disadari sehingga bisa cepat diobati dan tidak harus mengalami kecacatan,” tuturnya.

Kusta bukan penyakit yang mematikan. Angka kematian akibat kusta amat rendah. Akan tetapi, kusta memiliki angka morbiditas atau kesakitan serta dampak jangka panjang yang sangat besar. Kusta membuat jaringan saraf tepi menjadi mati rasa.

Jika tidak segera diobati, kondisi itu bisa berlanjut pada kecacatan, mulai dari kebutaan, kondisi kaki atau tangan yang bengkok, hingga membuat tulang dan jari memendek. Kondisi tersebut yang membuat kualitas hidup pasien kusta bisa sangat menurun ketika terlambat diobati.

Duta Besar Kehormatan WHO untuk Eliminasi Kusta, Yohei Sasakawa dalam talkshow “Ending Leprosy Without Stigma”, Kamis (15/1) juga menegaskan bahwa kusta bukan sekadar masalah medis. Kusta sangat rentan terhadap diskriminasi dan stigmatisasi. Orang dengan kusta yang tidak diobati akan berisiko mengalami disabilitas jangka panjang. “Ketika pasien hidup lebih lama dengan disabilitas, stigma pun akan ikut menetap pada diri mereka,” ucapnya.

Deteksi dini

Sri Linuwih menyebutkan, deteksi dini kusta perlu dilakukan sejak dini, sejak usia anak-anak. Masa inkubasi dari bakteri penyebab kusta cukup lama sekitar 3-5 tahun, bahkan bisa lebih dari 10 tahun. Saat tertular pada usia bayi atau anak, gejala bisa muncul saat usia remaja atau dewasa.

Apabila pada satu komunitas ditemukan satu kasus kusta, obat pencegahan perlu diberikan pula bagi orang-orang di sekelilingnya. Obat ini berfungsi sebagai profilaksis atau obat untuk mencegah terjadinya penularan. Obat ini sudah tersedia di puskesmas. Obat ini hanya perlu diminum satu kali dosis.

Baca JugaEnam Provinsi Belum Eliminasi Kusta
Baca JugaInspirasi Pemuda Jepang dan Indonesia Menyapa Orang dengan Kusta
Baca JugaKenali Tanda Dini Kusta pada Anak

“Kendalanya itu masih ada masyarakat yang tidak mau minum obat pencegahan ini. Karena merasa tidak sakit dan takut jika tertular. Padahal, obat ini efektif untuk memastikan penularan bisa dicegah. Jadi harus ada edukasi yang masif untuk memastikan masyarakat punya pemahaman yang lebih baik,” ujar Linuwih.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah telah berupaya untuk terus memperkuat deteksi dini kusta di masyarakat. Itu dilakukan antara lain dengan memasukkan pemeriksaan skrining kusta dalam program cek kesehatan gratis. Sebanyak 70 juta masyarakat yang menjadi peserta program cek kesehatan gratis sudah dilakukan skrining kusta.

Selain itu, pemerintah juga berupaya untuk menekan stigma serta meningkatkan kesadaran masyarakat soal kusta lewat kader-kader kesehatan. Kementerian Kesehatan telah membentuk kader kesehatan yang disebut dengan “kusta warrior” di 514 kabupaten/ kota di seluruh Indonesia. Tokoh masyarakat serta tokoh agama pun diajak untuk memberikan edukasi mengenai kusta.

Dengan begitu, kasus kusta diharapkan bisa semakin banyak ditemukan dan dideteksi. Kenaikan jumlah kasus dalam beberapa tahun ini justru dinilai baik karena itu menunjukkan semakin banyak kasus yang ditemukan dan bisa diobati.

Selain deteksi dini, setiap kasus yang ditemukan harus dipastikan bisa mengonsumsi obat sampai tuntas. Pengobatan untuk pencegahan perlu diberikan pula bagi kontak erat dari kasus yang ditemukan.

“Kusta bukan kutukan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang penularannya juga sangat sulit dan butuh (paparan) waktu lama. Yang terpenting, kusta ada obatnya dan bisa disembuhkan,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapal Bocor Diterjang Cuaca Buruk, Nelayan Lansia Hilang di Laut Sulawesi
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Koperasi Desa Lawan Kartel! Ferry Juliantono: Untungnya Harus Kembali ke Desa, Ini Strateginya |ROSI
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Jadwal Buka Puasa Kota Bogor Hari Ini 28 Februari 2026
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Iran Balas Serangan Israel-AS
• 4 jam lalucelebesmedia.id
thumb
AS-Israel Serang Iran, Dua Anggota Kataeb Hezbollah Tewas di Irak
• 4 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.