BEKASI, KOMPAS.com – Siang itu, Anggi Pamungkas (26) berdiri di balik gerobak mie ayam dan bakso miliknya di Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, Sabtu (28/2/2026).
Tangannya cekatan meracik bumbu menjelang waktu berbuka puasa untuk melayani pesanan pembeli. Namun, sorot matanya menyimpan lelah yang tak bisa disembunyikan.
Di tengah ramainya isu dugaan penipuan kerja sama promosi oleh influencer Pandu Bone alias Pandu Sulaeman, terselip kisah perjuangan pedagang kecil yang berupaya bertahan di kerasnya persaingan usaha.
Anggi bercerita, usaha mie ayam dan bakso yang ia rintis bersama istrinya bukan kali pertama berdiri.
Warung itu sempat tutup selama tiga bulan karena tekanan ekonomi dan ketatnya persaingan.
“Karena ekonomi sedang susah dan persaingan juga banyak, warung kami sempat tutup selama tiga bulan. Akhirnya buka kembali di akhir Januari 2026,” ujar Anggi saat ditemui Kompas.com di warungnya, Sabtu.
Baca juga: 5 Warga Bekasi Mengaku Jadi Korban Dugaan Penipuan Endorse Influencer Pandu Bone
Ia mengaku belajar dari pengalaman sebelumnya. Salah satu penyebab sepinya pembeli, menurutnya, adalah kurangnya promosi.
“Dari sebelumnya saya sudah belajar kenapa usaha kami bisa sepi. Makanya saya sewa influencer biar orang tahu,” katanya.
Keinginan memperkenalkan kembali usahanya membuat Anggi menghubungi influencer bernama Pandu Sulaeman, yang dikenal sebagai pandu.bone, pada 23 Januari 2026.
Ia mengundang sang influencer untuk menghadiri grand opening pada 29 Januari 2026.
Dalam komunikasi awal, Pandu disebut menawarkan tarif promosi sebesar Rp 15 juta. Nominal itu membuat Anggi terkejut.
“Karena sudah terlanjur menghubungi, ya sudah saya basa-basi saja, ‘Ada harga buat UMKM enggak?’,” kata Anggi.
Baca juga: Polisi Ungkap Belum Ada Laporan Korban Influencer Pandu Bone, Jadwalkan Mediasi Senin
Menurut dia, tarif kemudian diturunkan menjadi Rp 5 juta, lalu Rp 3 juta. Namun, kemampuan anggarannya hanya Rp 1 juta.
“Saya sudah bilang budget saya itu Rp 1 juta, selebihnya kami enggak mampu,” ungkapnya.