Tak hanya itu, laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali juga melonjak 48,5 persen menjadi Rp1,66 triliun. Kenaikan ini terutama didorong oleh turunnya biaya provisi serta pengelolaan biaya operasional yang semakin disiplin.
Baca juga: Maybank Marathon 2026 di Bali, Dorong Sport Tourism hingga Ekonomi Lokal
Pendapatan bunga bersih (NII) naik tipis 1,6persen secara tahunan. Kenaikan ini ditopang penerapan pricing berbasis risiko yang lebih disiplin serta strategi pendanaan yang lebih efisien. Marjin bunga bersih (NIM) tercatat di level 4,3 persen.
Dari sisi nonbunga, pendapatan tumbuh 8,1 persen. Kontributor utamanya berasal dari bisnis Global Markets yang membukukan Rp441 miliar, ditambah kontribusi dari asset recovery dan wealth management. Secara keseluruhan, gross operating income (GOI) mencapai Rp9,55 triliun atau naik 3,1 persen.
Rasio efisiensi (BOPO) pun terjaga di 86,3 persen.Laba operasional sebelum provisi (PPOP) ikut
terdongkrak 4,8 persen menjadi Rp3,10 triliun. Sementara itu, beban pencadangan turun cukup signifikan, yakni 28,7 persen, seiring kualitas kredit yang lebih terjaga.
Presiden Direktur BNII Steffano Ridwan mengatakan 2025 menjadi momentum untuk memperkuat fundamental di tengah pasar yang penuh ketidakpastian. Fokus utama adalah kualitas pendapatan, efisiensi biaya, dan manajemen risiko yang disiplin.
Sementara itu, Presiden Komisaris Khairussaleh Ramli menyebut kinerja 2025 mencerminkan fondasi yang semakin kuat. Ia juga menyinggung strategi baru grup bertajuk ROAR30, yang akan menjadi arah pertumbuhan lima tahun ke depan dengan tetap mengusung misi Humanising Financial Services.
Dengan fondasi yang makin solid, Maybank Indonesia tampaknya siap melangkah lebih agresif, namun tetap selektif, di tahun-tahun berikutnya. Kredit Turun Tipis karena Rebalancing Total kredit yang disalurkan hingga akhir Desember 2025 tercatat Rp123,64 triliun, turun 3,1 persen secara tahunan. Penurunan ini lebih disebabkan oleh penyesuaian portofolio di segmen Global Banking (GB) yang turun 18,4 persen.
Meski begitu, segmen Large Local Corporates (GB-LLC) justru mencatat pertumbuhan kuartalan 13,1 persen. Kedepan, segmen ini masih akan menjadi fokus pertumbuhan.
Di luar segmen korporasi besar, pertumbuhan masih terlihat sehat. Kredit nonritel naik 5,2 persen, ditopang Business Banking yang tumbuh 11,6 persen dan SME+ naik 6,6 persen.
Kredit ritel juga naik 5,2 persen, didorong pembiayaan otomotif yang tumbuh 8,6 persen serta kartu kredit dan KTA yang naik 5,4 persen. Sementara KPR cenderung stabil dengan pertumbuhan 0,2 persen.
Secara total, kredit yang dikelola melalui Community Financial Services (CFS) mencapai Rp87,17 triliun atau tumbuh 5,2 persen.
Di sisi pembiayaan berkelanjutan, portofolio KKUB mencapai Rp21,23 triliun. Pembiayaan transportasi ramah lingkungan melonjak 131 persen, dan energi terbarukan bahkan tumbuh 499 persen sepanjang 2025. Dana Murah Makin Tebal Dari sisi pendanaan, dana murah (CASA) tumbuh 6,3persen. Giro naik 12 persen, didorong peningkatan transaksi nasabah korporasi melalui platform M2E yang menembus 5 juta transaksi.
Meski tabungan turun 3,3 persen, transaksi ritel melalui M2U justru melonjak 23,4 persen menjadi lebih dari 30 juta transaksi.
Deposito berjangka turun 12,1 persen sejalan strategi bank mengoptimalkan struktur dana yang lebih efisien. Hasilnya, rasio CASA naik menjadi 57,6 persen dari sebelumnya 52,9 persen. Total dana pihak ketiga tercatat Rp116,19 triliun, turun 2,4 persen secara tahunan.
Kualitas aset menunjukkan perbaikan. Rasio NPL gross turun menjadi 2,2 persen dari 2,7 persen, sementara NPL net membaik menjadi 1,3 persen. Saldo kredit bermasalah juga turun hampir 20 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





