Pantau - Perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran disebut mencapai kemajuan substansial menuju sebuah kesepakatan meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya tidak senang dengan progres pembicaraan tersebut.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyampaikan hal itu kepada CBS News pada Jumat 27 Februari dan menegaskan peluang tercapainya kesepakatan tetap terbuka melalui mediasi yang difasilitasi negaranya.
Albusaidi mengatakan Iran telah sepakat “tidak akan pernah memiliki ... bahan nuklir yang dapat digunakan untuk membuat bom,” dan menyebutnya sebagai “pencapaian besar.”
Ia menjelaskan stok uranium yang telah diperkaya Iran saat ini akan “dicampur hingga ke tingkat yang serendah mungkin” sebagai bagian dari komitmen tersebut.
Menurutnya, uranium tersebut juga akan “dikonversi menjadi bahan bakar, dan bahan bakar tersebut tidak dapat diubah kembali tidak reversibel,” sehingga tidak dapat digunakan kembali untuk tujuan militer.
Oman berperan sebagai mediator utama dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran guna menjembatani perbedaan sikap kedua negara terkait program nuklir Teheran.
Albusaidi menekankan kemajuan yang dicapai mencerminkan keseriusan para pihak untuk menemukan solusi diplomatik di tengah dinamika politik yang berkembang di Washington.
Pernyataan tersebut menunjukkan optimisme bahwa kesepakatan dapat dirumuskan dalam waktu dekat meski terdapat perbedaan pandangan di internal Amerika Serikat mengenai arah negosiasi.




