BEKASI, KOMPAS.com – Di sisi bawah Jalan Tol Jakarta–Cikampek, tepatnya di Desa Pasirtanjung, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, terdapat sebuah lorong tanah yang oleh warga sekitar dijuluki “Terowongan Sapi”.
Meski jauh dari standar kelayakan jalan umum, jalur ini justru menjadi andalan pengendara roda dua untuk memangkas waktu tempuh saat kemacetan melanda kawasan Tegal Danas.
Terowongan tersebut menghubungkan Jalan Inspeksi Kalimalang dengan kawasan Deltamas hingga Desa Sukamahi.
Akses ini kerap dipilih pengendara yang hendak menuju Kompleks Pemerintah Kabupaten Bekasi, AEON Mall, hingga kawasan industri Greenland International Industrial Center (GIIC).
Baca juga: Cerita Pedagang Mie Ayam Bekasi Tertipu Endorse Rp 1 Juta, Usaha Sempat Tutup 3 Bulan
Kondisi Minim Penerangan dan Berbatu
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Sejumlah pengendara sepeda motor melintas bersamaan dengan kawanan sapi di Terowongan Sapi, Desa Pasirtanjung, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Sabtu (28/2/2026).
Pantauan di lokasi, kondisi terowongan masih berupa tanah merah berbukit dengan taburan kerikil tajam. Permukaannya tidak rata dan hanya cukup untuk dua sepeda motor beriringan.
Di bagian menanjak, kemiringan terasa cukup curam. Saat hujan turun, tanah berubah menjadi licin dan berlumpur sehingga meningkatkan risiko tergelincir.
Di dalam lorong, pencahayaan sangat minim. Cahaya hanya masuk dari kedua ujung terowongan, menyisakan bagian tengah yang gelap dan lembap.
Dinding beton tampak kusam dengan bekas aliran air dan coretan grafiti.
Menjelang sore, suasana semakin ramai. Sejumlah penggembala melintas sambil menggiring sapi dan kambing dari lahan berbukit di sisi terowongan.
Baca juga: 5 Warga Bekasi Mengaku Jadi Korban Dugaan Penipuan Endorse Influencer Pandu Bone
Hemat Waktu Hingga Setengah Jam
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Sejumlah pengendara sepeda motor melintas bersamaan dengan kawanan sapi di Terowongan Sapi, Desa Pasirtanjung, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Sabtu (28/2/2026).
Sunata (40), pedagang bakso keliling, mengaku hampir setiap hari melintasi jalur tersebut dengan sepeda motor yang menarik gerobak dagangannya.
“Lebih enak jalan sini, cepat sampainya. Kalau mau ke Mall Aeon paling 5 menit, kalau ke Pemda ya paling 20 menit,” ujar Sunata saat ditemui di lokasi, Sabtu (27/2/2026).
Menurutnya, jika harus memutar lewat Tegal Danas, waktu tempuh bisa membengkak hingga hampir satu jam saat macet.
“Kalau muter itu hampir satu jam kalau macet. Makanya mending lewat sini walau ngeri dikit,” katanya.
Sebagai warga lokal, ia mengaku sudah terbiasa melintas bahkan pada malam hari.