CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Perang Timur Tengah yang meletus setelah duet Israel-Amerika Serikat (AS) dan melancarkan serangan militer ke Iran memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global.
Analis cemas pasar minyak dunia diproyeksi mengalami lonjakan tajam pada pembukaan perdagangan awal pekan depan.
Mengutip CNBC International, Sabtu (28/2/2026), fokus utama pelaku pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Alasannya, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari, setara 31% dari total arus minyak laut dunia melewati jalur tersebut.
Analis energi menilai risiko geopolitik kali ini jauh lebih besar dibandingkan krisis sebelumnya, termasuk ketegangan Venezuela.
“Ini jelas memiliki dampak yang lebih besar daripada Venezuela,” kata salah satu kepala bagian investasi di Santa Lucia Asset Management Florian Weidinger.
Jika Iran mengambil langkah balasan yang mengganggu arus kapal tanker, harga minyak berpotensi melonjak 5% hingga 10% dalam waktu singkat.
“Itulah sebab risikonya lebih besar. Anda bisa memperkirakan harga minyak akan naik lebih tajam minggu depan sebagai akibatnya,” tambahnya.
Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi memicu tekanan inflasi global.
Negara-negara importir minyak, terutama di Asia dan Eropa, akan menghadapi kenaikan biaya produksi dan transportasi.
Akan tetapi, lonjakan harga bisa bersifat sementara apabila petang tidak berkembang menjadi berkepanjangan dan Selat Hormuz tetap beroperasi normal.




