Pada Kamis (26 Februari), Amerika Serikat dan Iran menggelar putaran ketiga perundingan. Dunia internasional menaruh perhatian besar pada kemungkinan tercapainya kesepakatan kerangka antara kedua negara. Meski hasil pembicaraan belum diumumkan secara resmi, Oman selaku negara mediator menyatakan bahwa perundingan ini mencapai kemajuan signifikan, yang mana berhasil menghindari kemungkinan pengiriman pasukan militer AS.
EtIndonesia. Pada Kamis (26/2/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggelar dua pertemuan tidak langsung dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan mediasi Oman.
Usai perundingan, Araghchi menulis di media sosial bahwa ini adalah “perundingan paling serius dan terpanjang sejauh ini”. Ia menyebut telah tercapai kemajuan positif dalam isu nuklir dan pencabutan sanksi, serta ada kesepakatan pada sejumlah poin, meski perbedaan pendapat masih ada pada isu lain. Ia juga mengatakan bahwa pembahasan teknis akan dilanjutkan pada Senin depan (2 Maret).
Mediator perundingan, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, juga menyatakan bahwa perundingan ini menghasilkan terobosan besar.
Ia mengatakan bahwa setelah masing-masing pihak melakukan konsultasi di ibu kota negaranya, pembicaraan akan segera dilanjutkan, dengan diskusi teknis dijadwalkan berlangsung pekan depan di Vienna.
Sejumlah analis menilai kemungkinan perundingan berlanjut hingga Jumat (27 Februari) merupakan sinyal positif, yang menunjukkan kedua pihak memiliki tingkat kesepahaman yang cukup untuk melanjutkan konsultasi, bahkan berpotensi mengumumkan tercapainya kesepakatan.
“Jika Iran bersedia terus menangguhkan aktivitas pengayaan uranium yang telah diverifikasi, lalu hanya menjalankan program pengayaan skala kecil yang dinilai oleh International Atomic Energy Agency tidak mengarah pada proliferasi atau persenjataan nuklir, maka itu dapat menjadi dasar tercapainya kesepakatan,” kata Direktur Program Iran di International Crisis Group, Ali Vaez.
Perundingan ini berfokus pada sengketa nuklir Iran yang telah berlangsung puluhan tahun, serta ketegangan di Timur Tengah. Pihak AS berharap Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium. Isu lain yang dibahas mencakup program rudal balistik Iran serta dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Wakil Presiden AS JD Vance (25 Februari 2026) mengatakan: “Prinsipnya sederhana: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Kami telah melihat bukti bahwa mereka memang berupaya ke arah itu.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu (25 Februari) menyatakan bahwa penolakan Iran untuk membahas program rudal balistik merupakan masalah besar yang pada akhirnya harus diselesaikan, karena rudal-rudal tersebut “dirancang sepenuhnya untuk menyerang Amerika Serikat” dan mengancam stabilitas kawasan.
Sebelumnya, seorang pejabat tinggi Iran mengatakan kepada Reuters bahwa jika Washington bersedia memisahkan isu nuklir dan non-nuklir, maka kesepakatan kerangka antara AS dan Iran masih mungkin dicapai.
Beredar pula kabar bahwa Presiden Donald Trump akan bertemu dengan seluruh tim perunding pada Jumat, dan berencana mengumumkan keputusannya pada pukul 15.00 waktu AS.
JD Vance (25 Februari 2026) menambahkan: “Presiden telah berulang kali menyatakan bahwa ia ingin menyelesaikan masalah ini melalui jalur diplomatik. Namun tentu saja, presiden memiliki pilihan lain.”
Selama perundingan berlangsung, militer AS mengerahkan dua kapal induk—USS Abraham Lincoln dan kapal induk tercanggih USS Gerald R. Ford—di wilayah sekitar Iran.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Amerika Serikat juga telah mengirim sekitar 12 jet tempur F-22 ke Israel sebagai antisipasi kemungkinan operasi militer. Namun, Pentagon menolak memberikan komentar.
Sementara itu, sejumlah negara telah mulai menarik staf diplomatik dan keluarga personel non-esensial dari beberapa wilayah di Timur Tengah, atau mengimbau warganya untuk menghindari perjalanan ke Iran.
Laporan oleh reporter NTD Wang Ziyi, dari Amerika Serikat.





