JAKARTA, KOMPAS.TV - Situasi di Timur Tengah kembali memanas. Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dinilai bukan sekadar aksi militer biasa, melainkan potensi awal eskalasi besar di kawasan.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad), Teuku Rezasyah, menilai dampaknya tidak akan kecil.
"Ini akan berdampak besar," kata Rezasyah, Sabtu (28/2/2026) dikutip dari Antara.
Menurutnya, operasi serangan tersebut dilakukan secara senyap dari sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Padahal, banyak negara di kawasan itu sebelumnya menyatakan tidak memberikan izin wilayah udaranya digunakan untuk operasi militer tersebut.
Situasi ini, kata Rezasyah, membuat dinamika politik dan keamanan regional semakin kompleks.
Rezasyah memperkirakan Iran tidak akan tinggal diam. Ia menilai Teheran berpotensi membalas dengan skala yang jauh lebih besar, seperti pola serangan yang terjadi dalam Perang Dua Belas Hari pada Juni 2025.
"Yang dia balas saat ini adalah pembalasan kecil-kecil dan untuk itu, masih menunggu fatwa dari Ayatullah, karena Ayatullah belum memberikan jawaban final, masih memberikan jawaban yang standar," katanya.
Artinya, respons Iran sejauh ini masih terukur. Namun keputusan final berada di tangan otoritas tertinggi keagamaan dan politik negara tersebut.
Meski demikian, Iran disebut tetap berhitung sebelum melancarkan serangan besar-besaran. Faktor teknis menjadi pertimbangan penting.
"Pemahaman atas cuaca dan juga pemahaman atas target itu penting. Jadi, walaupun Iran sudah memiliki target yang jelas, tapi ini kan harus disesuaikan dengan misalnya sistem penginderaan jauh, harus disesuaikan dengan sistem satelit yang ada," katanya.
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- iran
- israel
- amerika serikat
- konflik timur tengah
- selat hormuz
- geopolitik





