Dialog Antarumat dan Etika Kekuasaan dalam Pemikiran Romo Magnis

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Pemikiran filsuf dan rohaniawan Franz Magnis-Suseno tentang etika tidak hanya bertebaran di ranah akademik, tetapi juga di ruang-ruang publik. Tidak hanya berbicara di aspek kekuasaan, dia juga memandang etika sebagai pedoman dalam berdialog antarumat beragama agar tercipta kerukunan dan menghindari pertentangan.

Guru Besar Ilmu Filsafat yang kerap disapa Romo Magnis ini tersenyum lepas setelah tiga akademisi membahas pemikirannya dalam seminar bertajuk ”Pemikiran Magnis untuk Indonesia” di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, Sabtu (28/2/2026). Puluhan peserta yang hadir juga bertepuk tangan begitu dia berdiri dan menanggapi paparan yang disampaikan.

”Teman-teman, saya terima kasih sekali atas pengalaman ini. Saya belajar banyak mengenai pemikiran saya,” candanya yang disambut tawa oleh para peserta yang hadir.

Meskipun tahun ini akan menginjak usia 90 tahun, Romo Magnis masih bisa berbicara di podium seminar lebih dari 10 menit. Ingatan dia mengenai sejumlah peristiwa pada masa lalu masih membekas jelas dan membuatnya bersyukur hidup di Indonesia.

”Saya berterima kasih ke Indonesia karena pengalaman saya itu selalu bagus. Jadi, saya pada akhirnya berterima kasih kepada Tuhan, bahwa saya dikirim ke sini (Indonesia) dan diterima begitu baik,” ujarnya.

Sejak datang ke Indonesia pada 1961, Romo Magnis berkiprah sebagai rohaniawan dan menggeluti ilmu filsafat. Hingga saat ini, berbagai buku dan pemikirannya telah beredar dan menjadi salah satu referensi bagi akademisi hingga masyarakat yang tertarik dengan filsafat.

Dialog beragama

Selama di Indonesia, Romo Magnis mengagumi hubungan antarumat beragama di negeri ini. Baginya, dialog antarumat di negeri ini jauh lebih maju dibandingkan negara-negara lain.

Baca JugaCatatan Romo Magnis untuk Arah Perekonomian Indonesia ke Depan

”Saya berpendapat hubungan antaragama di Indonesia termasuk salah satu success story. Di antara (agama) mainstream, Islam dengan kami yang Katolik dan juga Protestan hubungannya sekarang enak, terbuka. Kalau ada masalah, kita bisa bicara,” ujarnya.

Pemikiran Romo Magnis dalam hubungan antarumat beragama juga disampaikan oleh Siti Musdah Mulia. Guru Besar Universitas Islam Syarif Hidayatullah ini menyatakan, landasan filsafat moral Romo Magnis ini mampu merajut dialog antarumat beragama di negeri ini. 

”Ini yang penting, Menurut Romo, itu berangkat dari prinsip setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati secara mutlak. Artinya, bagaimana menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap individu, dai itu mutlak adanya,” kata Musdah. 

Dari berbagai tulisan yang dipahami Musdah, pemikiran Romo Magnis dirangkum dalam tiga tesis utama. Pertama, dialog agama berakar pada martabat manusia universal. Kedua, dialog agama itu memerlukan struktur politik pluralistik. Ketiga, dialog harus dilindungi oleh negara hukum yang menolak intoleransi.

Bahkan, Romo Magnis selalu menghubungkan dialog agama dengan prinsip-prinsip demokrasi. Musdah menjelaskan, dialog tersebut berfungsi memperkuat nilai sosial, mencegah radikalisme, dan membangun solidaritas warga negara.

”Nah, di sinilah pentingnya dialog. Menurut Romo, masyarakat plural itu membutuhkan kesediaan warga untuk bekerja sama melampaui identitas religius masing-masing. Inilah prinsip demokrasi yang hakiki menurut saya,” tuturnya. 

Etika politik

Dalam seminar kali ini, sikap Romo Magnis dalam melihat etika politik di negeri ini juga menjadi sorotan. Bahkan, saat pemikirannya ini berisiko dan tidak disukai penguasa, dia tetap membawa nilai-nilai etika ini ke ranah publik.

”Darinya kita belajar, filsafat politik bukan hanya soal menafsirkan kekuasaan, tetapi soal keberanian untuk hadir ketika kekuasaan harus dipersoalkan,” ujar Guru Besar Ilmu Filsafat Universitas Pelita Harapan Fransisco Budi Hardiman.

Baca JugaFranz Magnis-Suseno: Oposisi Itu Perlu, tapi Setelah Sepakat Bisa Lanjut Ngopi

Romo Magnis, lanjut Budi, sadar elite penguasa tidak suka saat etika dipersoalkan. Namun, Romo Magnis tidak akan berhenti mengingatkan etika dalam memegang kekuasaan dari satu rezim ke rezim lainnya. Dalam demokrasi, publik perlu mendapatkan pencerahan, bahwa kekuasaan harus berhenti jika tidak memiliki legitimasi etis.

”Kontribusi terbesar Romo Magnis untuk Indonesia adalah keberaniannya untuk menarik filsafat dari kedaulatan teori dan menempatkannya di hadapan kekuasaan yang konkret. Romo Magnis tidak menawarkan sistem baru, tidak utopis, tetapi menjadikan etika sebagai batas yang terus mengganggu kekuasaan,” kata Budi.

Dalam perjalanan bangsa, Romo Magnis memberikan warna. Selain menguatkan dialog antarumat beragama dengan pemikiran yang setara, dia juga tidak sungkan mengingatkan para elite untuk tetap mengedepankan etika dalam berkuasa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saudi kecam serangan Iran, nyatakan solidaritas dengan UEA dan Qatar
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Perang Pakistan-Afghanistan! Perbatasan Dijaga Ketat, Warga Teriak
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
OPEC+ Bakal Tambah Pasokan Minyak Mentah Usai Israel-AS Serang Iran
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Ibu Kandung Nizam Akui Selama Ini Dihalang-halangi Saat Ingin Bertemu Anak, Bahkan Dianggap Sudah Meninggal
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Bison, BP2M, dan BNN Bentengi Generasi Muda dari Ancaman Narkoba
• 10 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.