JAKARTA, KOMPAS — Serangan mendadak Israel ke Teheran yang memicu ledakan besar pada Sabtu (28/2/2026) memperburuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan mendorong lonjakan harga minyak dunia, keuangan, dan emas.
Seperti diberitakan Kompas.id, Israel telah memulai serangan ke Iran. Media Israel, Jerusalem Post, melaporkan, Militer Israel (IDF) telah melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Bersamaan dengan serangan itu, Israel mengirimkan peringatan kepada seluruh warga.
Di Teheran, ledakan terdengar diikuti dengan kolom debu dan asap. Lokasi ledakan disebut dekat dengan Universitas Teheran. Media Iran, Irna, melaporkan, ledakan terdengar di setidaknya dua lokasi di Teheran.
Media Amerika Serikat, CNN, melaporkan, Israel berkoordinasi dengan AS dalam serangan ini. Sumber CNN dan kantor berita Associated Press menyebut, AS terlibat dalam serangan itu. Serangan dinyatakan sebagai besar-besaran.
Ekonom sekaligus ahli perdagangan internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Fithra Faisal Hastiadi, mengatakan, eskalasi konflik dinilai berpotensi meluas dan mengguncang pasar energi serta keuangan global.
Pengiriman dua kapal induk menunjukkan status peringatan serius, meski belum masuk kategori perang skala penuh (full-scale war) yang umumnya ditandai pengerahan tiga hingga empat kapal induk. Namun, jarak antara konflik terbatas dan perang terbuka dinilai sangat tipis.
Ia memperkirakan konflik dapat berlangsung hingga dua pekan. ”Kalau berlangsung lebih dari seminggu hingga dua minggu, dampaknya ke Selat Hormuz akan signifikan,” katanya.
Selat Hormuz merupakan jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Gangguan distribusi di kawasan tersebut berpotensi mengerek harga minyak mentah global.
Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), harga minyak mentah Brent melonjak 2,45 persen atau naik 1,73 dolar AS menjadi 72,48 dolar AS per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,78 persen atau bertambah 1,81 dolar AS ke level 67,02 dolar AS per barel.
Menurut Fithra, dalam skenario terburuk jika konflik berlarut lebih dari dua pekan, harga minyak dapat menembus batas psikologis 100 dolar AS per barel, bahkan berpotensi mendekati 120 dolar AS per barel.
”Karena efeknya langsung ke Selat Hormuz. Itu faktor kunci,” ujarnya.
Dinamika Yield dan Safe Haven
Di sisi keuangan global, Fithra menyoroti korelasi antara kebijakan geopolitik dan geoekonomi Amerika Serikat dengan pergerakan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun (UST 10-year yield).
Ia mencontohkan, pada April tahun lalu ketika kebijakan tarif diumumkan, pasar saham terkoreksi, tetapi permintaan terhadap obligasi AS meningkat karena dianggap sebagai aset safe haven. Peningkatan permintaan tersebut sempat menekan yield.
Saat ini, UST 10-year yield berada di bawah 4 persen, mencerminkan tingginya permintaan obligasi. Namun, jika risiko global meningkat tajam, arus dana berpotensi beralih dari obligasi AS ke aset lindung nilai lain, seperti emas dan yen Jepang.
Fithra memperkirakan, jika tekanan risiko meningkat dalam beberapa hari ke depan, Pemerintah AS kemungkinan akan berupaya meredakan ketegangan melalui jalur diplomasi guna menghindari gejolak lanjutan di pasar keuangan.
Bagi Indonesia, dampak langsung terutama berasal dari potensi lonjakan harga minyak dunia. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikan harga energi dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar.
Dalam jangka pendek, menurut Fithra, tekanan terhadap rupiah relatif terbatas karena indeks dolar AS melemah dan yield US Treasury menurun. Kondisi tersebut secara teori mengurangi tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang.
Namun, jika konflik berlangsung lebih dari tiga hari dan berkembang menjadi sentimen risk-off global, arus modal dapat keluar dari pasar negara berkembang.
”Kalau lebih dari dua minggu, rupiah dalam skenario terburuk bisa menuju 17.200 per dolar AS karena flight to safety,” ujarnya.
Ia menambahkan, periode awal pekan depan bertepatan dengan rebalancing indeks MSCI yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar saham. Meski demikian, sebagian arus dana asing diperkirakan beralih ke pasar obligasi domestik sehingga dapat menahan tekanan pada rupiah dalam jangka sangat pendek.
”Kita harus bersiap untuk skenario terburuk, terutama jika harga minyak dunia benar-benar menembus 100 dolar AS per barel,” kata Fithra.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketidakpastian geopolitik menjadi katalis utama penguatan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Pada Sabtu (28/2/2026) pagi, pasar emas dunia ditutup di level 5.280 dolar AS per troy ons, sementara harga emas batangan di dalam negeri (logam mulia) mencapai Rp 3.085.000 per gram.
”Kalaupun terkoreksi, penurunannya tipis, kemungkinan di 5.260 dolar AS per troy ons. Untuk logam mulia, bisa di sekitar Rp 3.045.000 per gram,” ujar Ibrahim, Sabtu.
Dalam skenario koreksi mingguan, harga emas global diperkirakan dapat turun ke kisaran 5.200 dolar AS per troy ons dengan harga logam mulia sekitar Rp 3.000.000 per gram. Namun, menurut dia, peluang penguatan pada pekan depan justru lebih besar.
Ia memperkirakan level resisten pertama emas dunia berada di 5.365 dolar AS per troy ons dengan harga logam mulia berpotensi menembus Rp 3.150.000 per gram. Bahkan, dalam sepekan ke depan, harga emas global bisa mencapai 5.500 dolar AS per troy ons dan logam mulia Rp 3.400.000 per gram.
Kenaikan harga emas dunia dan logam mulia itu tak lepas dari masalah geopolitik. Ibrahim menilai, kegagalan pertemuan delegasi Amerika Serikat dan Iran di Geneva, Swiss, telah amemperburuk situasi. Pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan yang diharapkan, terutama terkait isu reaktor nuklir dan pengembangan misil Iran.
Ketegangan meningkat setelah serangan Israel ke Teheran. Situasi kian kompleks dengan konflik di kawasan lain, seperti Afghanistan dan Pakistan, serta potensi keterlibatan negara sekutu masing-masing pihak, termasuk Amerika Serikat di belakang Israel serta China dan Rusia yang selama ini mendukung Iran.
Selain mendorong emas, eskalasi konflik berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi dinilai dapat menimbulkan efek berantai terhadap inflasi global dan memperlemah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
”Ini bisa menjadi babak baru konflik di Timur Tengah pada Maret 2026. Dampaknya, kemungkinan besar harga emas naik, logam mulia naik, rupiah melemah. Kemudian kalau harga minyak mentah naik, nah, ini akan berdampak terhadap turunannya,” ujarnya.
Perang dagang dan kebijakan The Fed
Faktor lain yang menopang harga emas adalah ketidakpastian perang dagang Amerika Serikat. Mahkamah Agung AS sebelumnya menyatakan kebijakan tarif impor yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump ilegal karena menggunakan undang-undang darurat. Namun, kebijakan tarif tetap berjalan, bahkan dinaikkan dari 10 persen menjadi 15 persen.
Menurut Ibrahim, dinamika politik domestik AS turut memicu ketidakpastian global. Negara-negara yang telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dagang dengan AS kemungkinan perlu melakukan penyesuaian kebijakan di dalam negeri.
Dari sisi moneter, sejumlah pejabat Federal Reserve memberi sinyal kemungkinan penurunan suku bunga hingga dua kali pada tahun ini, terutama setelah pertumbuhan ekonomi kuartal IV tidak memenuhi ekspektasi. Penurunan suku bunga umumnya memperkuat daya tarik emas karena menurunkan imbal hasil instrumen berbasis dolar AS.
Di sisi lain, tren diversifikasi cadangan devisa sejumlah bank sentral ke emas serta proyeksi keterbatasan pasokan dari perusahaan tambang global turut menopang sentimen positif harga logam mulia dalam jangka menengah.
Rupiah berisiko melemah
Tekanan eksternal tersebut dinilai berpotensi melemahkan rupiah. Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah dapat terdepresiasi signifikan pada pekan depan dan berpotensi menuju level Rp 17.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari konflik geopolitik, tetapi juga dampak perang dagang, termasuk penerapan tarif tinggi terhadap sejumlah produk Indonesia.
”Bank Indonesia perlu melakukan intervensi dan pengawasan moneter secara ketat untuk mengantisipasi volatilitas yang lebih besar,” kata Ibrahim.
Ia menegaskan, kombinasi ketegangan geopolitik, perang dagang, kebijakan suku bunga AS, serta dinamika pasokan dan permintaan emas global menjadikan pekan depan sebagai periode krusial bagi pasar keuangan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan, nilai perdagangan bilateral Indonesia–Iran relatif kecil, sekitar 200 juta dolar AS per tahun. Angka tersebut dinilai tidak cukup besar untuk menjatuhkan ekspor Indonesia.
Menurut dia, yang perlu diwaspadai bukanlah trade channel atau saluran perdagangan, melainkan oil channel atau saluran minyak. Meski Indonesia tidak tergantung Iran sebagai pasar, Iran berpengaruh terhadap harga minyak dunia.
Iran merupakan produsen minyak anggota OPEC dan berada di kawasan strategis Selat Hormuz, jalur distribusi utama energi dunia. Setiap peningkatan ketegangan di kawasan Selat Hormuz akan langsung menaikkan risiko harga minyak global.
”Aspek perdagangan, dampaknya ke Indonesia muncul lewat harga energi, terus ke inflasi, kemudian rupiah, dan lanjut ke pasar keuangan, bukan lewat ekspor-impor bilateral,” kata Rizal.
Indonesia, sebagai net importer minyak dan gas, akan terdampak melalui kenaikan biaya impor energi, memperbesar kebutuhan kompensasi dan subsidi, serta mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Tekanan inflasi dan rupiah
Dari sisi moneter, kenaikan harga minyak mentah berisiko memicu imported inflation atau inflasi dari luar melalui kenaikan harga bahan bakar minyak, transportasi, dan logistik pangan. Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia diperkirakan lebih memprioritaskan stabilitas nilai tukar ketimbang melonggarkan suku bunga.
Saat pasar global memasuki fase risk-off, arus modal cenderung bergerak ke aset safe haven, seperti dolar AS dan obligasi Pemerintah Amerika Serikat. Pergerakan tersebut berpotensi menekan rupiah dan mempersempit ruang penurunan suku bunga domestik.
”Konsekuensinya transmisi ke sektor riil terjadi melalui perlambatan kredit dan investasi,” ujarnya.
Sementara dari sektor keuangan terdampak melalui kanal pembiayaan. Ketidakpastian geopolitik meningkatkan volatilitas pasar, menaikkan imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN), dan memperbesar biaya utang pemerintah ataupun korporasi.
”Jika konflik berkepanjangan dan harga minyak bertahan tinggi, tekanan simultan terhadap fiskal, rupiah, dan biaya pembiayaan ekonomi berpotensi menjadi risiko makroekonomi yang lebih serius dibanding dampak langsung perdagangan,” kata Rizal.





