DEPOK, KOMPAS.com – Kepolisian mengungkap identitas pengirim pesan ancaman kepada anggota pemadam kebakaran (Damkar) Kota Depok, Khairul Umam. Polisi menegaskan, pelaku bukan anggota Polri.
Auditor Kepolisian Madya TK II Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri Kombes Manang Soebeti menyampaikan, identitas pengirim diperoleh melalui penelusuran data terbuka di internet.
Menurut Manang, peneror bernama Wawan Gunawan, seorang buruh harian lepas asal Subang, Jawa Barat. Informasi tersebut, kata dia, didapatkan melalui metode profiling yang lazim digunakan aparat dalam mengidentifikasi seseorang.
Baca juga: Peneror Damkar Depok yang Buat Konten Helm Disebut Bukan Anggota Polisi
“(Data) itu banyak, data kayak gitu ada di website mana-mana, ini data profiling biasa,” kata Manang saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (28/2/2026).
Ia menyebut, teror yang dialami Khairul tidak bersifat serius karena hanya dilakukan melalui pesan WhatsApp dan tidak disertai tindakan lanjutan.
“Dan ini tujuannya sebenarnya bukan teror karena hanya dilakukan satu kali dan dua kali. Kalau teror itu pasti intens dong, misalnya di-spam atau didatangi,” terang Manang.
Menurut dia, tindakan tersebut lebih tepat disebut pesan iseng yang dikirim karena pelaku terpancing emosi.
“Kalau hanya WhatsApp, siapa pun bisa melakukannya, hanya iseng itu bisa, terpancing emosi bisa,” ujar Manang.
Profiling untuk tegaskan bukan polisiManang menjelaskan, pengungkapan identitas itu dilakukan untuk meluruskan asumsi warganet yang mengaitkan teror dengan institusi kepolisian.
Ia mengakui, Khairul tidak secara langsung menuding anggota polisi sebagai pelaku. Namun, menurut dia, sejumlah komentar di media sosial mengarah pada dugaan keterlibatan aparat.
Baca juga: Manang Soebeti Ungkap Identitas Peneror Petugas Damkar yang Buat Konten Helm
“Dan yang paling penting, tuduhan yang dikomentarkan itu kan arahnya yang meneror dicurigai adalah polisi. Nah itu aja yang saya ingin buktikan bahwa (peneror) bukan polisi,” tambahnya.
Menurut dia, peneror bernama Wawan itu hanya iseng mengirim pesan ancaman kepada Khairul karena terpancing emosi.
“Kalau hanya WhatsApp, siapa pun bisa melakukannya, hanya iseng itu bisa, terpancing emosi bisa,” ujar Manang.
Awal mula terorSebelumnya, Khairul Umam menerima pesan bernada ancaman setelah mengunggah konten edukasi tentang fungsi helm sebagai alat pelindung diri (APD).
Dalam video tersebut, ia menjelaskan helm dirancang untuk melindungi kepala dari benturan, bukan untuk melukai.




