REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Ulul Albab mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan bulan Alquran karena pada bulan inilah kitab suci umat Islam diturunkan sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak interaksi dengan Alquran secara lebih khusyuk dan mendalam selama bulan suci.
Menurut Ulul Albab, membaca Alquran di bulan Ramadhan bukan sekadar untuk mengejar keberkahan, tetapi juga agar Alquran benar-benar menjadi petunjuk hidup, obat bagi penyakit hati, sumber rahmat, serta pemberi syafaat di hari akhir.
- Ruang Udara Ditutup Sebabkan Pembatalan Keberangkatan Jamaah Umroh, Ini Mitigasi Pemerintah
- Putri, Menantu, Hingga Cucu Khamenei Dikonfirmasi Gugur, Bagaimana Kondisi Sang Ayatollah?
- Terkait Serangan Iran, Trump Sampaikan Soal Ini ke Putra Mahkota Arab Saudi
“Pada bulan inilah Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Karena itu, di bulan Ramadhan kita mengkhususkan diri untuk lebih banyak, lebih khusyuk, dan lebih dalam membaca Alquran,” ujarnya kepada Republika.co.id, Sabtu (28/2/2026).
Ia menjelaskan, membaca Alquran seharusnya menghadirkan pengalaman spiritual yang hidup. Seorang Muslim idealnya dapat merasakan kedamaian, keindahan, dan kebahagiaan batin ketika berinteraksi dengan ayat-ayat Allah. Bahkan, tidak jarang seseorang merasa ditegur atau diingatkan oleh ayat yang dibacanya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Menurut Ulul Albab, pengalaman batin seperti merasa tersentuh, tersindir, atau tertegur oleh pesan Ilahi merupakan tanda bahwa seseorang benar-benar berinteraksi dengan Alquran. Hal ini menunjukkan bahwa membaca Alquran tidak hanya sebatas melafalkan huruf, tetapi juga menyelami makna.
“Bukan hanya menyelesaikan halaman demi halaman, tetapi menyelami makna demi makna. Hingga akhirnya kita 'ketagihan' untuk terus membaca, mendalami, dan mentadaburinya,” ucapnya.
Ulul Albab juga mengingatkan bahwa keterbatasan kemampuan membaca Alquran tidak boleh menjadi penghalang untuk memahami isinya. Bagi yang belum lancar membaca, mempelajari terjemahan Alquran dapat menjadi jalan untuk memahami makna ayat-ayat Allah.
Dari pemahaman tersebut, kata dia, makna Alquran dapat diresapi dalam hati dan dihidupkan dalam kesadaran sehari-hari. Ketika makna ayat benar-benar menyentuh hati, seseorang bisa merasakan getaran spiritual hingga meneteskan air mata karena takut akan peringatan Allah sekaligus bahagia atas janji dan kasih sayang-Nya.
Ia menegaskan, salah satu cara agar seseorang mencintai Alquran adalah dengan menjadikannya sebagai dialog pribadi antara hamba dan Allah.
Ulul Albab juga menyarankan agar kegiatan khataman Alquran tidak hanya berorientasi pada penyelesaian bacaan, tetapi juga memberi ruang refleksi. Misalnya dengan mengajak jamaah menunjukkan ayat mana yang paling menyentuh hati mereka selama membaca Alquran.
Menurutnya, jika seseorang membaca Alquran namun tidak merasakan apa pun, maka mungkin ada hal yang perlu dibenahi, baik dari cara membaca, cara memahami, maupun kesiapan hati.
“Jika ada yang menjawab bahwa selama membaca Alquran ia tidak merasakan apa-apa, maka mungkin ada yang perlu dibenahi. Bisa jadi cara membacanya, bisa jadi cara memahaminya, atau bisa jadi kesiapan hatinya,” kata Ulul Albab.




