Perang Iran–Israel Buka Kotak Pandora Energi, Harga Minyak Dunia Terancam Tembus US$100

tvonenews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Israel dinilai berpotensi mengguncang pasar energi global. Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, memperingatkan bahwa konflik ini bisa memicu lonjakan tajam harga minyak dunia, terutama jika berlangsung berkepanjangan dan mengganggu jalur distribusi utama.

Saat dihubungi di Jakarta, Minggu (1/3/2026), Faisal menyebut harga minyak mentah global saat ini masih berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun situasi tersebut sangat rentan berubah seiring meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah.

“Kalau konflik ini berlanjut dan eskalasinya makin luas, harga minyak sangat mungkin naik ke level 80 dolar AS per barel. Itu skenario awal yang realistis,” kata Faisal.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Menurut Faisal, risiko terbesar berada pada potensi terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz, jalur sempit namun vital yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati selat ini setiap hari.

Jika konflik Iran–Israel menyeret kawasan Teluk ke dalam pusaran perang terbuka dan distribusi minyak di Selat Hormuz terganggu, Faisal menilai harga minyak bisa melonjak jauh lebih ekstrem.

“Kalau pasokan di Selat Hormuz terganggu, harga bisa menembus 100 dolar AS per barel. Itu sudah masuk zona harga sangat tinggi, bahkan mendekati rekor,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa dunia sudah lama tidak mengalami lonjakan harga minyak setinggi itu. Kenaikan terakhir dengan skala serupa terjadi pada awal perang Rusia–Ukraina, ketika ketidakpastian geopolitik memicu kepanikan pasar energi global.

Konflik Berisiko Jadi Perang Regional

Faisal menilai konflik Iran–Israel saat ini memiliki potensi besar untuk meluas menjadi konflik regional, terlebih dengan keterlibatan langsung Amerika Serikat. Dukungan dari negara-negara besar yang berada di belakang masing-masing pihak juga dinilai bisa memperpanjang durasi konflik.

“Kalau Amerika Serikat makin dalam terlibat, lalu ada respons dari China atau negara-negara lain yang mendukung Iran, eskalasinya bisa sangat panjang. Ini bukan konflik jangka pendek,” kata Faisal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jika PT. Agrinas Tetap Melanjutkan Import 105 Ribu Pik Up India, KSPN minta KPK dan BPK Segera Lakukan Audit
• 42 menit lalukompas.com
thumb
Proyek Miliaran Molor, Dugaan Nepotisme Menguat di Toraja
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Serangan Drone Iran Hantam Bandara di Abu Dhabi UEA: 1 Orang Tewas, 7 Terluka
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Bandara Dubai Tersentak di Tengah Perang Timur Tengah, Empat Staf Terluka dalam Insiden Misterius
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Televisi Iran Konfirmasi Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei Usai Serangan AS
• 11 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.