Selat Hormuz Ditutup Imbas Serangan ke Iran, Pengusaha Mulai Menghitung Dampak

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Invasi Israel dan Amerika Serikat ke Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz berpotensi menaikkan biaya logistik. Hal ini bisa berimbas pada kenaikan harga barang di dalam negeri. Pelaku usaha pun mulai menghitung dampak dari eskalasi terbaru itu ke perekonomian dalam negeri.

Ketua Dewan Penasihat Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Tutum Rahanta, Minggu (1/3/2026), mengatakan, saat ini semua pelaku usaha masih memantau perkembangan situasi ke depan. Serangan AS dan Israel ke Iran jelas mengganggu perdagangan dan jalur logistik, terutama melalui Selat Hormuz.

Baca JugaIran Tutup Selat Hormuz, Pelayaran Internasional Terganggu

Ketidakpastian yang belakangan membayangi dunia usaha semakin membesar. Tutum mengatakan, tekanan ke perekonomian domestik memang tidak akan langsung datang melalui jalur perdagangan. Sebab, produk konsumsi yang masuk ke pasar Indonesia saat ini masih lebih banyak berasal dari Asia, terutama China.

Tekanan itu akan datang secara tidak langsung melalui kenaikan biaya logistik yang pada akhirnya akan berdampak pada harga akhir produk yang beredar di pasaran.

Tutum mengatakan, pengusaha saat ini sedang mengkalkulasi seberapa besar dampak dari serangan AS-Israel ke Iran tersebut dalam 2-3 bulan ke depan. ”Kemungkinan kenaikan harga ke depan tetap perlu dipersiapkan dalam penjualan saat ini untuk menjaga keberlangsungan usaha,” katanya.

Untuk bahan bakar logistik, pengusaha tetap akan memerhatikan langkah PT Pertamina (Persero) pascagejolak terbaru di Timur Tengah ini. Pasalnya, hampir semua pasokan bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik saat ini bergantung pada suplai Pertamina, sedangkan listrik tentu bergantung pada PLN.

Oleh karena itu, ia mengingatkan, stabilitas harga di dalam negeri akan bergantung pada kebijakan pemerintah sebagai pemegang saham utama dari perusahaan-perusahaan energi tersebut.

Biaya logistik naik

Di sisi lain, Founder & CEO Supply Chain Indonesia Setijadi menyatakan, gangguan di Selat Hormuz bisa meningkatkan biaya distribusi nasional dan memicu kenaikan harga barang di dalam negeri. Sebab, jalur ini dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan 20-25 persen perdagangan LNG (gas alam cair) global.

“Setiap gangguan (di Selat Hormuz) dapat mendorong kenaikan harga energi internasional,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu.

Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12 persen.

Saat ini, Iran telah menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional menyusul serangan gabungan AS dan Israel pada Sabtu (28/1/2026). Eskalasi juga meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal, seperti telah dikonfirmasi stasiun televisi Iran dan kantor berita resmi Iran, IRNA. PM Israel Benjamin Netanyahu mengklaim hal ini terjadi ketika Israel menyerang kompleks bangunan yang diyakini tempat Khamenei berada, Sabtu.

Adapun penutupan Selat Hormuz disiarkan Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui siaran radio frekuensi tinggi, Sabtu. Kapal-kapal tidak diizinkan melintasi Selat Hormuz, sehingga membuat perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG.

Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran serta menghubungkan wilayah Teluk di sisi utara dengan Teluk Oman di selatan serta Laut Arab di seberangnya.

Kehadiran Selat Hormuz sangat penting untuk pasar energi, mengingat seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati jalur ini. Menurut data dari perusahaan analitik Vortexa, lebih dari 20 juta barrel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melewati selat itu setiap hari pada tahun lalu.

Baca JugaSerangan Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Emas, Rupiah Tertekan

Anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengirim sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat itu menuju Asia. Qatar, salah satu negara pengekspor LNG terbesar di dunia, juga mengirimkan hampir semua LNG produksinya melalui selat itu pula.

Oleh karena itu, penutupan Selat Hormuz diperkirakan bakal segera menaikkan harga minyak global (Brent) serta berimbas pada harga solar domestik. Saat ini, solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional.

Setijadi memperhitungkan kenaikan harga ini dalam tiga skenario. Dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar 25 dolar AS per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp 750-2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga. Dalam skenario lebih berat, kenaikan harga minyak dunia bahkan bisa mencapai 50 dolar AS per barel.

Ia melanjutkan, dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35-40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen (skenario ringan) dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5-4 persen. Sementara, jika harga solar meningkat 20 persen (skenario moderat), ongkos truk berpotensi naik 7-8 persen.

”Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12 persen,” tutur Setijadi.

Baca JugaLonjakan Harga Minyak Efek Serangan ke Iran Berpotensi Tekan APBN dan Picu Inflasi

Dengan rata-rata biaya logistik di Indonesia sekitar 14 persen dari harga produk dan sekitar separuh komponen logistik berasal dari transportasi jalan, Setijadi memperkirakan, kenaikan ongkos truk 7-8 persen berpotensi meningkatkan harga barang rata-rata sekitar 0,5 persen.

Dalam kondisi lebih ekstrem, kenaikan ongkos truk di atas 10 persen dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas bulky (barang berukuran besar/curah) dan margin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji.

Setijadi pun mengingatkan bahwa risiko inflasi biaya produksi berdampak pada komoditas pangan dan kebutuhan pokok. Menurutnya, industri berbasis impor bahan baku kini menghadapi risiko ganda, yakni kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak serta peningkatan biaya distribusi domestik.

”Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin,” tambahnya.

Untuk itu, Setijadi menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif serta mempercepat diversifikasi energi. Penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api, juga dinilai krusial untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar.

Selain itu, industri perlu mengefisiensikan rute distribusi, konsolidasi muatan, serta menerapkan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik. “Tanpa reformasi struktural sistem logistik, setiap gejolak eksternal berisiko langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Satlantas Polres Pati Tanamkan Disiplin Lalu Lintas Melalui Kegiatan Pesantren Kilat
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
AHY harap serangan AS-Israel ke Iran tak terlalu ganggu penerbangan
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
PalmCo dan Pemprov Kaltim Bersinergi Entaskan Stunting di Paser Melalui Program Gizi Terpadu
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Khamenei Gugur, Iran Umumkan 40 Hari Masa Berkabung
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Putin Berduka Khamenei Tewas Dibunuh AS-Israel: Langgar Semua Norma Moral
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.