Dunia Dilanda Perang Bertubi-tubi, Harga Perak Melonjak Drastis

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas perak (XAG) berpotensi menghadapi lonjakan volatilitas dan apresiasi tajam pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Prospek ini didorong oleh kombinasi dua faktor utama, yakni eskalasi konflik geopolitik yang ekstrem di Timur Tengah serta kondisi pasar fisik perak yang tengah mengalami defisit pasokan struktural secara global.

Berdasarkan data perdagangan sepekan terakhir di penghujung bulan Februari 2026, harga perak telah menunjukkan tren penguatan yang solid. Membuka pekan pada level US$ 88,22 per troy ons pada Senin (23/2/2026), harga sempat mengalami konsolidasi di US$ 87,33 pada Selasa (24/2/2026) dan US$ 88,35 pada Kamis (26/2/2026), sebelum akhirnya ditutup pada level tertingginya di US$ 93,81 per troy ons pada Jumat (27/2/2026).

Baca: Dikuasai China: Ini Logam Paling Diburu, Harga Rp10 Miliar/Ton

Jika ditarik lebih jauh, tren ini tergolong signifikan mengingat pada pertengahan bulan, tepatnya 17 Februari 2026, perak masih diperdagangkan di level US$ 73,45 per troy ons karena koreksi pasar yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.

Sentimen Geopolitik dan Peralihan Arus Modal

Katalis terdekat yang menjadi fokus utama para pelaku pasar saat ini adalah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran selama akhir pekan lalu. Sentimen pasar global merespons cepat beredarnya laporan mengenai tewasnya sejumlah petinggi militer dan politik Iran akibat serangan yang terjadi.

Ketegangan semakin memuncak menyusul klaim dari Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di media sosial yang menyatakan bahwa Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, turut wafat dalam insiden tersebut.

Baca: Trump-Israel Klaim Khamenei Sudah Meninggal, Iran Bilang Begini

Perkembangan situasi ini memicu sentimen risk-off secara masif di pasar keuangan. Indikasi awal dari kepanikan ini telah terlihat dari pergerakan aset kripto berbasis emas yang mencatatkan kenaikan hampir 4% selama akhir pekan, di saat bursa tradisional sedang tutup.

Dalam situasi krisis berskala besar, perak sering kali mencatatkan persentase kenaikan yang lebih agresif dibandingkan emas. Momentum kepanikan geopolitik ini mendorong investor untuk segera memindahkan likuiditas mereka ke instrumen safe haven sebagai langkah lindung nilai, yang berpotensi memicu lonjakan harga pembukaan perak pada bursa komoditas.

Defisit Struktural dan Permintaan Sektor Teknologi

Di luar faktor geopolitik, apresiasi harga perak secara fundamental ditopang oleh kondisi pasokan fisik yang semakin ketat dan hal ini terjadi hampir di seluruh belahan dunia terutama daerah Timur Tengah dan AS.

Permintaan masif dari sektor industri teknologi, khususnya untuk infrastruktur data center, AI, kendaraan listrik, dan panel surya, terus menguras ketersediaan pasokan global. Tingkat konduktivitas listrik perak yang tinggi menjadikannya material krusial yang sulit digantikan dalam industri-industri masa depan tersebut.

Baca: Revolusi AI Haus Energi, Tagihan Listrik Dunia Meledak

Di sisi lain, produksi perak sangat terbatas dan kurang elastis terhadap permintaan. Mayoritas pasokan perak global bergantung pada produk sampingan dari tambang emas dan tembaga, sehingga pasar mengalami defisit struktural yang diperkirakan mencapai 200 juta ons per tahunnya. Pelaku industri ritel di Amerika Serikat melaporkan bahwa ketersediaan perak batangan di pasaran terus menipis dan terserap oleh konsumen dengan perputaran yang sangat cepat.

Dengan kombinasi antara ketatnya pasokan industri dan lonjakan permintaan akibat kepanikan geopolitik, para analis komoditas kini memproyeksikan potensi pergerakan harga perak yang lebih tinggi.

Beberapa proyeksi pasar bahkan mulai mengkaji kemungkinan harga perak menyentuh level resistensi baru di angka tiga digit jika fundamental pasokan dan ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Cara Memanfaatkan Kulit Lemon untuk Bikin Masakan Makin Istimewa
• 4 jam lalutabloidbintang.com
thumb
BCA Siapkan Rp65,7 Triliun Uang Tunai Jelang Lebaran 2026, Ini Cara Tukar Uang Pecahan Kecil
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo di Puncak Perayaan Imlek 2026: Bangsa Besar Tidak Takut Perbedaan
• 15 jam laludetik.com
thumb
Tren Belanja Konsumen RI saat Ramadan Meningkat, Ditopang Pembayaran Digital
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Amankan Perayaan Imlek Nasional, Polda Metro Jaya Kerahkan 722 Personel Gabungan
• 20 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.