Visa, perusahaan sistem pembayaran global, merilis proyeksi pengeluaran Ramadan 2026 untuk Indonesia. Pengeluaran konsumen sepanjang bulan suci dan periode Idulfitri diperkirakan meningkat karena didorong adopsi pembayaran digital yang semakin luas, aktivitas belanja yang lebih kuat pada akhir bulan, dan meningkatnya permintaan dari sector perjalanan (travel).
Visa memperkirakan total belanja menggunakan kartu selama Ramadan 2026 akan melampaui capaian 2025. Aktivitas belanja diperkirakan semakin intensif pada paruh kedua bulan Ramadan dan akan mencapai puncaknya sekitar pekan ketiga Ramadan seiring konsumen meningkatkan pembelian terkait perjalanan, hadiah, dan persiapan hari raya.
Belanja daring (online) tetap memainkan peran utama. Sebanyak 62% masyarakat Indonesia kini berbelanja daring dua hingga tiga kali per bulan. Hal ini menegaskan perilaku konsumen yang semakin gencar menggabungkan belanja daring dan luring (offline).
"Situasi ekonomi di bulan Ramadan di Indonesia sedang mengalami pergeseran struktural. Kami melihat adanya perubahan dari sekadar peningkatan volume menuju perilaku konsumen yang lebih canggih dan digital native," kata Vira Widiyasari, Country Manager, Visa Indonesia.
Integrasi yang tak berbatas antara pencarian produk secara daring dan luring kini menjadi ekspektasi dasar. "Agar bisnis dapat berhasil di periode krusial ini, mereka harus menawarkan pengalaman pembayaran yang aman dan tanpa hambatan, sesuai dengan keluwesan perjalanan konsumen masa kini, baik saat memesan perjalan mudik maupun membeli kebutuhan hari raya," ujar Vira.
Visa memprediksi tren peningkatan belanja ini akan berlanjut pada 2026. Belanja dengan kartu diproyeksikan tumbuh lebih cepat dibandingkan 2025, didorong oleh konsumsi domestic yang kuat serta adopsi cepat pembayaran nirsentuh (contactless), e-commerce, dan pembelian dalam aplikasi (in-app) di seluruh Indonesia.
Analisis Visa menunjukkan pada pertengahan Ramadan hingga pekan terakhir menjelang Idulfitri tetap menjadi periode krusial bagi peritel. Puncak pengeluaran terkonsentrasi pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Secara historis, volume transaksi pada hari Idulfitri turun sekitar 30-40% di bawah rata-rata Ramadan karena konsumen memprioritaskan ibadah dan keluarga. Volume transaksi akan kembali meningkat singkat beberapa hari setelah Idulfitri ketika pola belanja kembali normal.
"Pola belanja selama Ramadan memberikan peta jalan yang jelas bagi pelaku usaha," ujar Simon Baptist, Asia Pacific Principal Economist, Visa.
Ia mengatakan data menunjukkan adanya jendela peluang yang sangat terkonsentrasi di pekan-pekan terakhir Ramadan, diikuti jeda yang dapat diprediksi pada saat Idulfitri.
"Wawasan kami mengindikasikan bisnis yang secara proaktif menyelaraskan rantai pasok, promosi terarah, dan infrastruktur pembayaran dengan lonjakan yang dapat diprediksi -terutama di kategori pertumbuhan tinggi seperti perjalanan- akan memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan pada 2026.




