Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi menekan pasar modal global maupun domestik melalui peningkatan risiko geopolitik. Eskalasi ketegangan tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi, yang pada akhirnya memicu tekanan inflasi dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas dan obligasi. Bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampaknya diperkirakan negatif dalam jangka pendek.
“Tekanan jual, potensi arus keluar dana asing, serta meningkatnya sentimen risk-off global dapat mendorong indeks mengalami koreksi,” ujar Reydi kepada Warta Ekonomi, Minggu (1/3/2026).
Menurut dia, apabila konflik masih dapat dikendalikan dan tidak berkembang menjadi eskalasi yang lebih luas, pelemahan pasar berpotensi bersifat sementara dengan peluang rebound seiring meredanya sentimen.
“Namun sebaliknya, jika konflik berlanjut atau membesar, volatilitas dapat meningkat lebih dalam dengan tekanan lanjutan terhadap indeks,” jelasnya.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal William Hartanto menilai ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memang berpotensi memicu pergerakan emosional pelaku pasar. Meski demikian, dampaknya terhadap IHSG diperkirakan tidak signifikan secara fundamental.
“Menurut kami, dampak sentimen konflik AS–Iran tidak besar terhadap IHSG,” kata William saat dihubungi terpisah.
Dari sisi pergerakan indeks secara keseluruhan, IHSG diproyeksikan masih bergerak fluktuatif dalam kisaran 8.100 hingga 8.400. Rentang tersebut mencerminkan tingginya volatilitas akibat sentimen eksternal global.
“Pergerakan IHSG masih berada dalam volatilitas tinggi di rentang 8.100–8.400,” imbuhnya.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Biaya Logistik Nasional Bisa hingga 12%
Meski berada dalam kondisi volatil, William menambahkan bahwa sentimen konflik global tetap memunculkan dua reaksi sekaligus di pasar, yakni panic selling dan panic buying. Aksi jual panik biasanya terjadi ketika investor menghindari risiko di tengah ketidakpastian. Sebaliknya, aksi beli panik muncul pada sektor-sektor tertentu yang dinilai diuntungkan oleh situasi perang.
“Masih ada potensi panic selling, tetapi juga panic buying pada sektor yang secara khusus diuntungkan saat sentimen perang, terutama sektor emas dan minyak yang dianggap sebagai aset safe haven,” pungkasnya.





