Sehat di Bulan Puasa, Warga Jakarta Lebih Jeli Memilih Takjil

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Lapak takjil dadakan yang menjamur di trotoar Jakarta setiap sore memang selalu menggoda mata. Susunan gelas plastik berisi es pisang ijo, kolak, hingga gorengan renyah seolah memanggil-manggil untuk dibeli. Namun, warga Jakarta kini makin selektif, menimbang keamanan dan kualitas sebelum membeli.

Bayang-bayang penggunaan pewarna tekstil pada es sirop yang kelewat merona, kandungan boraks pada cincau yang terlalu kenyal, hingga penggunaan minyak goreng bekas pakai yang menghitam pada tahu isi, membuat banyak warga Jakarta mengerem kebiasaan jajan sembarangan.

Bagi warga Jakarta Selatan, Tania (29), menyeleksi jajanan berbuka puasa bukan lagi sekadar urusan selera, melainkan mitigasi risiko. Ia kini jauh lebih jeli sebelum membeli makanan di luar karena kesehatan anggota keluarga adalah investasi utama.

Untuk menyiasati rasa waswas, Tania kini lebih memilih memborong takjil dari pedagang yang memiliki izin resmi atau membelinya di ritel modern yang berada di bawah pengawasan ketat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

”Meskipun harganya sedikit lebih mahal, rasa aman itu jauh lebih penting daripada sekadar murah,” ujar Tania di Jakarta, Minggu (1/3/2026).

Baca JugaBerburu Takjil dan Kemacetan di Jalan Panjang Jelang Berbuka Puasa

Beberapa tahun lalu, Tania tidak terlalu memperhatikan keamanan takjil. Selama terlihat menarik, ia akan langsung membeli. Namun setelah semakin banyak informasi tentang penggunaan bahan berbahaya pada makanan, ia mulai mengubah kebiasaan.

”Bulan puasa seharusnya menjadi momen menjaga kesehatan, bukan justru memicu gangguan pencernaan akibat salah memilih makanan,” ujar Tania.

Berbeda dengan Tania, Variska (30), warga Jakarta Pusat, menyiapkan menu takjil sendiri di rumah. Hal ini bukan hanya untuk memastikan kebersihan, tetapi juga demi mengontrol asupan nutrisi dan kalori.

”Kalau bikin sendiri, kebersihannya sudah pasti terjamin. Kita juga bisa eksplorasi menu, misalnya bikin bomboloni, mochi, atau bolu untuk dessert berbuka. Porsi gulanya bisa benar-benar disesuaikan,” tutur Variska.

Pengalaman buruk saat membeli takjil di luar menjadi salah satu alasan utama Variska lebih berhati-hati. Ia mengaku pernah membeli gorengan yang begitu digigit, minyaknya terasa begitu banyak hingga menutupi langit-langit mulut. Es campur yang dibelinya juga terlalu manis sehingga membuat tenggorokannya gatal.

”Sejak saat itu, kalau memang harus beli takjil di luar, saya selalu membungkus gorengan dengan tisu untuk menyerap minyak dan minta agar sirup es tidak terlalu banyak,” ujarnya.

Makanan berbahaya

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jakarta juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada dalam memilih takjil selama Ramadhan. Kepala BBPOM Jakarta, Sofiyani Chandrawati Anwar, menegaskan pentingnya mengenali ciri-ciri makanan yang berpotensi mengandung bahan berbahaya.

Salah satu yang perlu diperhatikan adalah penggunaan pewarna tekstil. Pewarna ini biasanya berwarna sangat cerah atau terang dan cenderung tidak pudar saat terkena panas, berbeda dengan pewarna makanan yang aman.

Konsumsi makanan yang mengandung pewarna tekstil seperti Rhodamin B maupun Methanyl Yellow berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari iritasi saluran pencernaan hingga kerusakan organ hati dan kandung kemih.

Untuk makanan berjenis tahu, kandungan formalin bisa dikenali dari tekstur dan baunya. Tahu yang mengandung formalin biasanya terasa keras saat ditekan dan berbau menyengat, sementara tahu aman memiliki tekstur lembek.

Selain itu, BBPOM Jakarta terus mendorong masyarakat agar lebih kritis dan teliti dalam memilih takjil. Warga dianjurkan selalu memeriksa kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa sebelum membeli makanan.

Pengawasan di lapangan juga terus diperketat. Pada Kamis (26/2/2026), misalnya, BBPOM Jakarta bersama Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, melakukan inspeksi pangan takjil di Sentra Takjil Pos Polisi RW 01 Bendungan Hilir, Tanah Abang. Dari 27 sampel yang diuji, satu sampel kue bolu kukus diduga mengandung pewarna tekstil, Rhodamin B.

Rhodamin B adalah pewarna sintetis berbentuk serbuk merah keunguan yang jika larut berwarna merah terang. Zat ini biasanya digunakan dalam industri tekstil dan kertas.

”Dari total 27 sampel yang diuji, ada satu kue bolu kukus yang diduga menggunakan pewarna tekstil,” ujar Sofiyani.

Baca JugaBerburu Takjil di Bazaar Ramadhan Benhil

Sofiyani mengatakan, bolu kukus tersebut langsung ditarik dari peredaran, dan pedagang diberikan edukasi agar dapat mengenali dan memilih bahan pangan yang aman bagi konsumen.

Adapun berdasarkan pengawasan BBPOM di sentra takjil dan ritel modern sepanjang 2025, dari 147 sampel yang diuji, enam sampel (4,1 persen) tidak memenuhi syarat, sedangkan 141 sampel lainnya (95,9 persen) dinyatakan layak dikonsumsi.

Satgas pangan

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Selatan akan membentuk satuan tugas (satgas) untuk mengawasi keamanan pangan selama bulan Ramadhan 1447 Hijriah.

Wali Kota Jakarta Selatan Muhammad Anwar mengatakan, pembentukan satgas bertujuan memastikan seluruh pangan olahan di wilayah Jakarta Selatan, termasuk takjil, bebas dari zat berbahaya seperti formalin, pewarna tekstil, dan zat aditif lainnya. Satgas ini juga dirancang agar pembagian tugas pengawasan dapat berjalan lebih jelas dan efektif.

”Pengawasan juga akan dilengkapi dengan sosialisasi ke sekolah-sekolah serta lokasi lain yang perlu dipantau secara rutin,” ujar Anwar.

Baca JugaJakarta Tertibkan 19 Titik Trotoar Selama Ramadhan

Satgas ini akan melibatkan sejumlah Suku Dinas terkait, antara lain Suku Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM), Suku Dinas Kesehatan, serta Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP).

”Kami juga melibatkan para pemangku kepentingan setempat, termasuk koordinator lapangan di lokasi binaan pedagang kaki lima, untuk memastikan kawasan tersebut bebas dari zat berbahaya yang dapat membahayakan masyarakat,” kata Anwar.

Anwar juga meminta seluruh pihak untuk memberikan edukasi sejak dini melalui media sosial agar masyarakat mampu mengenali ciri-ciri makanan yang mengandung bahan berbahaya.

”Tujuannya agar masyarakat mampu membedakan makanan yang aman dikonsumsi serta mendukung terwujudnya Kota Pangan Aman,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hasil Lawatan Presiden Prabowo ke Empat Negara
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Putin Berduka Khamenei Tewas Dibunuh AS-Israel: Langgar Semua Norma Moral
• 29 menit laludetik.com
thumb
BHS Serahkan Hand Traktor untuk Petani Desa Gemurung, Sidoarjo
• 18 jam lalutvrinews.com
thumb
Siapa Pengganti Ayatollah Ali Khamenei? Ini Mekanisme Suksesi Pemimpin Iran
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Gerebek Puluhan Remaja di Kudus yang Mau Tawuran, Sita Celurit & 12 Motor
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.