Paparan layar pada anak usia dini masih menjadi perhatian serius para ahli tumbuh kembang. Menurut Anggota Unit Kerja koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si Med., Sp.A, Subsp.TKPS (K), kelompok paling berisiko terhadap dampak screen time berlebihan adalah balita, terutama anak usia di bawah dua tahun.
Pada rentang usia tersebut, anak berada dalam masa golden period, di mana otak tumbuh dan berkembang sangat cepat. Jika pada periode emas ini anak lebih banyak terpapar layar dibandingkan mendapatkan stimulasi langsung dari lingkungan, maka kualitas dan kuantitas rangsangan perkembangan bisa berkurang.
“Sehingga semua keterampilan perkembangan akan tidak terstimulasi dengan optimal, padahal sedang dalam periode emas, sedang dalam hebat-hebatnya otak itu tumbuh cepat dan berkembang cepat,” kata dr. Farid dalam acara webinar bersama IDAI, Selasa (24/2).
Terdapat faktor protektif yang dapat mengurangi dampak buruk screen time. Salah satunya yaitu kualitas konten yang ditonton atau dimainkan anak.
Tak Perlu Buru-buru Kenalkan Gadget pada AnakOrang tua juga tidak perlu merasa tertekan untuk memperkenalkan teknologi sejak dini. Sebab anak memiliki kemampuan belajar yang sangat cepat meskipun baru dikenalkan teknologi pada usia tiga atau empat tahun.
Tayangan dengan pergantian gambar yang terlalu cepat juga sebaiknya dihindari karena dapat mempengaruhi perilaku anak menjadi serba cepat dan sulit fokus. Televisi yang menyala tanpa ditonton atau dikenal sebagai background television juga tidak direkomendasikan.
“Lalu jangan mengandalkan media elektronik sebagai satu-satunya cara untuk menenangkan anak. Itu juga tidak direkomendasikan. Tidak juga memaparkan screen time 1 jam sebelum tidur,” tegasnya.
Rekomendasi 2020 IDAI tentang Batas Screen Time Anak
Pada 2020, Ikatan Dokter Anak Indonesia juga mengeluarkan rekomendasi pembatasan screen time, terutama saat masa pembelajaran jarak jauh. Anak di bawah satu tahun tidak direkomendasikan terpapar layar sama sekali. Usia di bawah dua tahun hanya diperbolehkan melakukan video chatting dengan keluarga inti.
“Kemudian anak umur 2-6 tahun screen timenya jangan lebih dari 1 jam,” kata dr. Farid.
Orang tua juga diimbau menciptakan aktivitas alternatif non-layar serta menjadi teladan dengan membatasi penggunaan gadget pribadi di depan anak. Menentukan waktu bebas media bersama keluarga pun bisa menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan tumbuh kembang anak di era digital.
Dengan pengawasan dan keterlibatan aktif orang tua, risiko gangguan perkembangan akibat paparan layar berlebihan dapat diminimalkan sejak dini, Moms.





