JAKARTA, KOMPAS — Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mengganggu penerbangan internasional. Sejumlah operator penerbangan hari ini telah membatalkan penerbangan dari dan menuju kawasan Timur Tengah. Pemerintah meminta maskapai untuk meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan data operasional terakhir Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu (1/3/2026) sore, ada 39 penerbangan rute Timur Tengah yang terjadwal pada hari ini. Dari jumlah tersebut, 20 penerbangan dibatalkan sebagai dampak dari penutupan wilayah udara di kawasan Timur Tengah, baik kedatangan (arrival) maupun keberangkatan (departure).
Untuk rute Abu Dhabi, ada empat penerbangan oleh Etihad Airways yang dibatalkan. Untuk rute Doha, ada delapan penerbangan yang dibatalkan, terdiri atas enam penerbangan oleh Qatar Airways dan dua penerbangan oleh Garuda Indonesia.
Untuk rute Dubai, ada empat penerbangan yang dibatalkan dan semuanya oleh Emirates. Untuk rute Jeddah, ada dua penerbangan oleh Saudia Airlines yang dibatalkan. Sementara itu, untuk rute Madinah, ada dua penerbangan oleh Saudia Airlines yang dibatalkan.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencatat ada satu penerbangan yang telah berangkat, yaitu Saudia Airlines SV827 menuju Jeddah, serta tiga penerbangan yang telah mendarat, yaitu Lion Air JT115 dari Jeddah, Saudia Airlines SV816 dari Jeddah, dan Garuda Indonesia GA969 dari Madinah.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, sejumlah penerbangan internasional yang melewati kawasan Timur Tengah telah terdampak oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Sebagian perjalanan dibatalkan dan dialihkan, meski ada juga yang belum terdampak.
Pembatalan penerbangan sejauh ini lebih banyak dilakukan oleh sejumlah maskapai penerbangan asing. Mereka tidak mengoperasikan penerbangan dari dan menuju semua kota di Timur Tengah sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Menurut catatan Kementerian Perhubungan, ada 10 maskapai yang telah membatalkan penerbangan atau tidak mengoperasikan penerbangan. Mereka antara lain adalah Etihad Airways, Qatar Airways, Emirates, Malaysia Airlines, Philippine Airlines, Indigo Airlines, Sri Lanka Airlines, China Southern Airlines, Singapore Airlines dan Scoot Airlines.
Maskapai lain, seperti Saudia Airlines, masih melakukan pemantauan terhadap beberapa kota tujuan di Timur Tengah. Sementara, Oman Air masih beroperasi seperti biasa. Ethiopian Airlines masih beroperasi seperti biasa, tetapi tidak mengoperasikan penerbangan ke Amman (Jordania) dan Tel Aviv (Israel).
"Kami imbau maskapai untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan penumpang agar secara aktif memantau perkembangan informasi," ucap Dudy dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
Beberapa negara telah menutup ruang udara untuk semua kedatangan dan keberangkatan, baik penerbangan komersial maupun pribadi. Negara-negara tersebut antara lain Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah.
"Kami telah berkoordinasi dan meminta maskapai memonitor kondisi ruang udara Timur Tengah, termasuk untuk perjalanan umrah,” kata Dudy.
Ia menyatakan, Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan Airnav Indonesia, maskapai penerbangan, pengelola bandara dan otoritas asing untuk memperbaharui informasi keamanan wilayah Timur Tengah serta memastikan penerbangan aman dan lancar.
Dengan adanya pembatalan dan penyesuaian penerbangan, maskapai dan pengelola bandara diminta menangani penumpang yang terdampak sesuai prosedur yang berlaku. Ini termasuk proses pembatalan dokumen perjalanan di area imigrasi, pengaturan akomodasi, dan penjadwalan ulang penerbangan.
Dalam keterangan terpisah, Pejabat Pengganti Sementara Asisten Deputi Komunikasi dan Hukum Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Aziz Fahmi Harahap, menjelaskan, penanganan terhadap penumpang terdampak dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku. Secara umum, situasi di terminal tetap dalam kondisi aman dan kondusif.
"Kami mengimbau kepada para calon penumpang yang akan melakukan perjalanan menuju rute Timur Tengah untuk secara aktif memantau perkembangan informasi penerbangan melalui kanal resmi masing-masing maskapai atau dengan menghubungi layanan pelanggan maskapai terkait," ucap Aziz.





