Momentum PSM Menjaga Harga Diri di Parepare
FAJAR, MAKASSAR — Sepak bola sering kali bukan sekadar soal taktik dan statistik. Ia juga tentang momentum, kepercayaan diri, dan cara sebuah tim menjaga harga dirinya di tengah tekanan musim yang panjang. Itulah situasi yang kini dihadapi PSM Makassar menjelang duel melawan Persita Tangerang di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Senin (2/3/2026).
Pertandingan ini datang pada waktu yang menarik. Bukan hanya karena posisi klasemen yang semakin ketat, tetapi juga karena kedua tim membawa beban psikologis yang berbeda arah. PSM membutuhkan kemenangan untuk menjaga stabilitas performa, sementara Persita datang dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Tim berjuluk Pendekar Cisadane itu sedang menjalani periode sulit. Dalam lima pertandingan terakhir BRI Super League 2025/2026, mereka hanya mampu meraih satu kemenangan. Kekalahan terbaru dari Dewa United dengan skor tipis 0-1 di kandang sendiri menjadi pukulan tambahan yang terasa menyakitkan.
Kekalahan di rumah sendiri selalu memiliki dampak lebih dalam. Ia bukan hanya kehilangan tiga poin, tetapi juga menggoyahkan rasa percaya diri tim. Pelatih Persita, Carlos Pena, bahkan tak menutupi kondisi tersebut.
Ia mengakui timnya sedang menghadapi persoalan serius, terutama di lini serang yang kehilangan efektivitas. Produktivitas gol menurun, sementara jadwal kompetisi tidak memberi banyak ruang untuk bernafas.
“Kami tidak dalam kondisi yang baik secara menyerang. Kami harus segera memulihkan diri karena dalam beberapa hari kami sudah harus bermain lagi,” ujar Pena, menggambarkan situasi timnya yang masih mencari keseimbangan.
Pernyataan itu seolah menjadi sinyal bahwa Persita datang ke Parepare bukan dalam kondisi ideal. Namun sepak bola jarang berjalan sesuai logika sederhana. Tim yang tertekan justru kerap tampil tanpa beban dan sulit diprediksi.
Di sisi lain, bagi PSM Makassar, laga ini memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar pertandingan kandang biasa. Bermain di Stadion Gelora BJ Habibie selalu membawa ekspektasi tinggi dari publik Sulawesi Selatan. Dukungan suporter bukan hanya energi tambahan, tetapi juga tuntutan untuk tampil dominan.
PSM tidak boleh memberi ruang bagi lawan untuk bangkit.
Situasi Persita yang sedang goyah justru menjadi ujian kedewasaan bagi Juku Eja. Tim besar tidak hanya dinilai dari kemampuannya menghadapi lawan kuat, tetapi juga dari konsistensinya memanfaatkan momentum saat lawan sedang rapuh.
Kesalahan terbesar yang bisa terjadi adalah meremehkan kondisi lawan.
Sepanjang sejarah kompetisi domestik, banyak tim justru terpeleset ketika menghadapi lawan yang sedang terpuruk. Tekanan untuk menang sering kali berubah menjadi beban yang mengganggu ritme permainan.
Karena itu, laga ini lebih menyerupai ujian mental dibandingkan duel taktik semata.
PSM dituntut bermain disiplin, sabar, dan efektif. Mereka harus mampu mengendalikan tempo pertandingan sejak awal, memaksa Persita bermain di bawah tekanan, sekaligus menjaga fokus agar tidak memberi ruang serangan balik.
Sementara itu, kontroversi turut menyelimuti kubu Persita setelah Carlos Pena melontarkan kritik tajam terhadap kualitas wasit di Indonesia. Pelatih asal Spanyol itu membandingkan pengalaman kepelatihannya di berbagai negara dengan situasi yang ia temui saat ini.
“Saya pernah melatih di Spanyol, India, dan Thailand, tapi level wasit di sini sangat buruk,” ujarnya.
Komentar tersebut menambah warna jelang pertandingan, sekaligus memperlihatkan frustrasi yang sedang dirasakan tim tamu. Namun di atas lapangan, segala polemik akan kehilangan arti ketika peluit kick-off dibunyikan.
Bagi PSM Makassar, pertandingan ini adalah kesempatan menjaga marwah kandang sekaligus menegaskan bahwa mereka bukan tim yang mudah diremehkan. Musim kompetisi selalu menghadirkan fase naik dan turun, tetapi tim yang mampu bertahan adalah mereka yang tahu kapan harus memaksimalkan momentum.
Parepare kini menjadi panggung pembuktian itu.
Jika mampu tampil solid dan memanfaatkan situasi lawan, kemenangan bukan hanya soal tambahan tiga poin, melainkan juga pesan kuat kepada pesaing bahwa PSM Makassar masih memiliki daya gigit dalam persaingan musim ini.
Sepak bola, pada akhirnya, selalu memberi ruang bagi cerita baru. Dan di Stadion Gelora BJ Habibie, cerita itu akan kembali ditulis — antara tim yang ingin bangkit dan tuan rumah yang tak ingin diremehkan.





