Bisnis.com, JAKARTA — Konflik antara Israel–Amerika Serikat dan Iran berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Terlebih, ketegangan di kawasan Timur Tengah tersebut diikuti dengan seruan Iran menutup Selat Hormuz yang selama ini memegang peran krusial dalam rantai pasok energi dunia.
Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) menilai perang Iran melawan AS-Israel tersebut bakal mengganggu distribusi minyak dan gas global, terutama melalui jalur strategis Selat Hormuz.
Ketua Umum Aspermigas Elan Biantoro menuturkan, sekitar 20% distribusi minyak global dan 30% perdagangan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia melintasi jalur tersebut.
“Dengan kondisi yang sangat panas antara Iran, Israel, dan juga Amerika Serikat, itu sangat berpengaruh terhadap distribusi dan suplai minyak dan gas dunia. Jalur Timur Tengah itu kuncinya ada di sana,” ujar Elan kepada Bisnis, Minggu (1/3/2026).
Menurut dia, gangguan terhadap suplai otomatis memicu ketidakseimbangan suplai dan permintaan (supply-demand) global. Negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah akan terdampak langsung, sehingga tekanan harga sulit dihindari.
Elan mencatat, bahkan sebelum konflik memanas, harga minyak mentah jenis Brent sudah bergerak naik dari kisaran US$65–US$67 per barel menjadi sekitar US$73–US$74 per barel. Dengan eskalasi dua hari terakhir, termasuk kabar meninggalnya pimpinan tertinggi Iran Ali Khamenei, Elan memperkirakan potensi kenaikan harga masih terbuka lebar. “Kalau suplai dan demand terganggu, pasti harga akan naik. Itu hukum pasar,” katanya.
Dampak lonjakan harga minyak dunia..





