Kisah BJ Habibie, Pemuda Berpaspor Hijau yang Pilih Indonesia di Puncak Karier Eropa

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Di saat mayoritas mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Eropa berangkat dengan biaya negara, seorang pemuda asal Sulawesi Selatan justru terbang ke Jerman bermodal paspor biasa dan hasil kerja keras ibunya. Pemuda itu adalah Bacharuddin Jusuf Habibie, yang di kemudian hari menjadi salah satu nama paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
 
Perjalanan Habibie ke Jerman terwujud berkat kerja keras sang ibu. Kisahnya bukan sekadar cerita sukses di luar negeri.  Perjalanan hidup Habibie juga dipenuhi pengorbanan dan kemandirian. Meski raga jauh di perantauan, cintanya pada Tanah Air tak pernah pudar.
 
Sebelum membahas lebih jauh perjalanan hidupnya yang luar biasa, yuk kenalan dulu dengan sosok Mr. Crack dari Parepare berikut ini. Profil BJ Habibie Melansir dari laman kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo.

Sejak kecil, Habibie dikenal tegas dan berpegang pada prinsip. Namun duka menghampirinya lebih awal ketika sang ayah wafat pada 3 September 1950 akibat serangan jantung. Habibie kemudian pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya, dan sejak di SMA prestasinya mulai menonjol, terutama di bidang eksakta. Jejak Pendidikan dan Karier BJ Habibie Setelah mengenal sosok presiden ketiga ini, yuk saatnya menyimak perjalanan pendidikan dan karier Habibie yang penuh lika-liku namun menginspirasi. Berikut jejak pendidikan dan karier BJ Habibie: Kuliah di ITB lalu Hijrah ke Jerman Setelah lulus SMA di Bandung pada 1954, Habibie masuk Universitas Indonesia di Bandung yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun ia hanya menempuh satu tahun di sana sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Jerman.
 
Habibie meraih gelar Diploma dari Technische Hochschule di Jerman pada 1960. Ia kemudian melanjutkan studi di kampus yang sama dan meraih gelar doktor pada 1965. Kuliah Mandiri dengan Biaya Ibu, Tanpa Ikatan Dinas Berbeda dari kebanyakan mahasiswa Indonesia di Eropa saat itu yang berangkat dengan beasiswa negara, Habibie justru berangkat dengan biaya mandiri menggunakan paspor biasa, bukan paspor ikatan dinas. Sang ibu rela memeras keringat dengan membuka indekos dan katering di Bandung demi membiayai pendidikan putranya di Jerman.
 
"Di tengah karier yang gemilang di Eropa, B. J. Habibie memilih pulang ke Indonesia. Sebuah keputusan yang lahir dari keyakinan bahwa ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat lebih luas bagi tanah air. Bagi beliau, cinta pada negeri bukan sekadar rasa memiliki, melainkan kesediaan untuk berkontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki," tulis unggahan di akun Instagram @wismahabibieainun, dikutip Sabtu, 28 Februari 2026.
 
Keputusan itu menjadi bagian dari perjalanan panjang pembangunan bangsa. Ia menunjukkan bahwa ilmu menemukan maknanya ketika kembali memberi.
 
Tak hanya itu, sang ibu bahkan menolak tawaran beasiswa untuk Habibie. Ia berpegang pada sumpah yang diucapkannya di depan jasad sang suami.
 
Baginya, pendidikan anak adalah tanggung jawab pribadi sebagai wujud cinta dan kemandirian. Harapannya sederhana yakni agar kelak anaknya tumbuh merdeka dan berguna bagi bangsa. Raih Gelar Doktor dengan Predikat Summa Cum Laude Kegigihan Habibie dan pengorbanan ibunya tidak sia-sia. Habibie menempuh kuliah hingga 10 tahun di Jerman dan berhasil meraih gelar Doktor konstruksi pesawat terbang dari Technische Hochschule, Jerman pada 1965 dengan predikat Summa Cum Laude. Karier Meroket hingga Jadi Vice President di Perusahaan Penerbangan Raksasa Jerman Karier Habibie meroket tajam setelah lulus. Ia berhasil menduduki posisi Vice President sekaligus Direktur Teknologi di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), perusahaan penerbangan raksasa asal Jerman. Fasilitas lengkap, gaji tinggi, dan status sosial tinggi sudah ada di tangannya. Pada 1967, ia juga diangkat sebagai Profesor Kehormatan di Institut Teknologi Bandung. Tinggalkan Segalanya, Pilih Pulang untuk Indonesia Di puncak segalanya, Habibie justru memilih melepaskan semua kenyamanan Eropa. Saat panggilan Ibu Pertiwi datang pada 1974, ia tidak ragu meninggalkan Jerman. Ia teringat pesan mendiang ayahnya, "Jadilah mata air yang jernih." Habibie memilih pulang untuk mengairi tanah airnya yang sedang kehausan akan teknologi. Kepulangannya adalah memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali membangun Indonesia. Mengabdi untuk Indonesia hingga Menjadi Presiden RI Kembali ke Tanah Air, pengabdian Habibie tidak berhenti. Selama 20 tahun ia menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sekaligus Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN industri strategis, sebelum akhirnya terpilih sebagai Wakil Presiden dan kemudian dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia ke-3 menggantikan Soeharto.
 
"Bagi Eyang Pendidikan tinggi sejatinya bukan sekadar tiket untuk lari mencari kenyamanan pribadi, melainkan bekal untuk kembali dan membangun negeri. Di bulan Ramadan, saat kita menata ulang niat dan pengabdian, kisah ini mengingatkan bahwa setiap kesempatan dan pengetahuan yang dititipkan kepada kita dapat menjadi jalan kebaikan bagi sesama dan bagi negeri," tulisnya
 
Kisah BJ Habibie membuktikan bahwa cinta pada negeri bukan sekadar rasa memiliki, melainkan kesediaan untuk berkontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki. Semoga kisahya bisa menginspirasi kamu ya! 

Baca Juga :

Bangga! Alumni LPDP Aulia Sarah Bawa Filosofi Jawa 'Urip Iku Urup' ke Podium Wisuda Duke University

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dirut Bulog tegaskan harga pangan strategis di Semarang aman
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Eskalasi Konflik Timur Tengah, Kemenhaj Pastikan Keamanan Jamaah Umrah Terpantau
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Pantesan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Kritis dan Kuliah Filsafat, Gaya Filsafat Nietzsche Buku Favorit di SMP
• 10 jam laludisway.id
thumb
Perang AS-Iran Belum Kondusif, Ini Daftar Nomor Hotline yang Bisa Dihubungi WNI di Timur Tengah
• 8 jam laludisway.id
thumb
Konflik AS-Israel Kontra Iran Bisa Picu Krisis Energi dan Perang Global
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.