Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat, Minggu (1/3/2026), tampak meriah. Setengah jalur kendaraan digunakan untuk mendirikan dua tenda raksasa yang berisi aneka usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM asal Bogor. Satu tenda berhias kain warna merah dan lampion, satu tenda lainnya berhias kain hijau.
Tenda-tenda itu menaungi sekitar 300 UMKM Kota Bogor yang berpartisipasi dalam ajang Pasar Malam Jadoel, bagian dari Cap Go Meh-Bogor Street Festival 2026.
Acara yang menggabungkan nuansa Ramadhan dan Imlek ini digelar mulai Minggu sampai Selasa (3/3/2026) pada pukul 16.00 sampai 23.00 WIB. Hiburan disiapkan untuk warga yang menanti waktu berbuka ataupun jeda dari jam maghrib sampai tarawih.
Tahun ini, Ramadhan jatuh berdekatan dengan perayaan Imlek dan puncaknya, Cap Go Meh. Momen unik ini pun menciptakan ruang perputaran uang yang cukup masif bagi ekonomi rakyat sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Koordinator Pasar Malam Jadoel Benyamin Mbo'oh menjelaskan, konsep pasar malam sengaja memadukan nuansa Imlek, Ramadhan, serta kekuatan kopi-kopi legendaris Bogor. Ajang ini pun mengumpulkan jenama-jenama lokal dalam satu kemasan khusus.
Beberapa jenama kopi khas Bogor seperti Kopi Bahsipit, Kopi Liong Bulan, Kopi Cap Teko, dan Kopi Oplet tersedia di pasar malam ini. Produk kolaborasi beragam jenama kopi digabungkan dalam satu kemasan khusus untuk disajikan kepada pengunjung.
Selain kopi lokal khas Bogor, sekitar 300 tenant UMKM juga berjualan di sepanjang tenda-tenda besar yang dipasang di sisi Jalan Suryakencana.
Makanan seperti bakmie, siomay, bakpia, lontong capgomeh, sampai penganan khas Bogor seperti dodongkal, gemblong, ketan bakar, dan gambang serta produk minuman bisa ditemukan di sini. Tak hanya makanan dan minum, beraneka ragam kerajinan khas Bogor juga dijajakan.
"Semua UMKM yang mendaftar kami kurasi sesuai tema Imlek dan Ramadhan, selain tentunya sesuai kualitas. Kami ingin menghadirkan UMKM yang akan bertahan dalam jangka panjang," tutur Benyamin.
Para tenant pun tak dipungut biaya untuk berjualan. Mereka hanya diminta berkomitmen untuk terus berjualan sampai jam 23.00 WIB. "Kami ingin memfasilitasi ekonomi kerakyatan dan berharap acara ini membawa keuntungan sebesar-besarnya bagi masyarakat," ucapnya.
Animo masyarakat yang hadir ke Pasar Malam Jadoel pun besar. Santi dan Yono, warga Ciapus, Bogor, misalnya, sengaja mendatangi Jalan Suryakencana untuk berkunjung ke Pasar Malam Jadoel sembari mencari makanan untuk berbuka puasa.
Berbagai acara seperti Pasar Malam Jadoel, menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero, sangat bermanfaat untuk mengungkit perekonomian Indonesia yang sedang lesu. Apalagi, sudah menjadi tradisi di Indonesia untuk berbelanja menyambut Idul Fitri.
"Momen-momen seperti ini bisa memicu orang berbelanja. Yang tadinya rem-rem sedikit, ketika ada hari baik, ada hari Fitri, jadi berbelanja untuk menyambut dengan hal-hal baru. Momen-momen seperti ini memberi dampak positif untuk UMKM," tutur Edy.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal menilai acara bazaar dan pasar malam saat Ramadhan dapat memicu geliat usaha UMKM. Apalagi, dorongan berbelanja warga lebih tinggi setelah tunjangan hari raya (THR) cair sekitar dua pekan sebelum Lebaran.
"Yang biasanya mendorong spending lebih adalah tambahan income, alias THR. Kalau tanpa THR, tentu daya beli akan terbatas," ujarnya.
Meski Ramadhan mampu mengungkit geliat bisnis untuk sementara waktu, pelaku UMKM tetap menghadapi tantangan besar yang menggerus daya saingnya. Salah satunya, tutur Edy, adalah kompetisi sengit di pasar dengan banjir produk impor.
Menurutnya, untuk memastikan UMKM mampu bersaing dengan produk impor, pemerintah perlu menerapkan tarif yang sesuai untuk barang impor yang masuk ke pasar Indonesia serta menangkal total produk ilegal.
Menurut Edy, jika serius memajukan UMKM Indonesia, pemerintah semestinya menerapkan peraturan yang menetapkan 40 persen belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada produk lokal.
"Kalau mau jujur, saat ini masih di bawah 20 persen. Bagaimana caranya mendorong supaya bisa 40 persen? Tentu perlu niat baik untuk merealisasikan aturan itu," katanya.
Faisal menilai, pemerintahan Prabowo Subianto semestinya bisa mendukung UMKM dengan menghubungkan program-program prioritas pemerintah saat ini, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP), dengan UMKM.
Apalagi, ia mengingatkan, narasi awal program-program itu pada awalnya adalah demi mendorong penguatan UMKM. Program-program prioritas pemerintah itu tidak akan membawa manfaat pada UMKM jika dikelola terlalu sentralistik dan terlalu memberi karpet merah pada pengusaha besar dan produk impor.





