Mata uang kripto terus tertekan setelah konflik di Timur Tengah terus meluas. Mengutip Coindesk, Minggu (1/3), Bitcoin berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut dan menguji level kritis US$ 60.000 atau hanya setara Rp 1 miliar (kurs Rp 16.779 per dolar AS).
Berdasarkan Coinmarketcap pagi hari ini (2/3), harga Bitcoin (BTC) menyentuh US$ 65.851 atau setara Rp 1,10 miliar. Level Bitcoin ini merosot 1,60% dalam 24 jam terakhir dan turun 2,57% dalam sepekan.
Tak hanya Bitcoin, mata uang kripto lainnya seperti Ethereum (ETH) nilainya US$ 1.941,13 atau setara Rp 32,57 juta. Level Ethereum juga merosot 1,12% dalam 24 jam terakhir dan 0,63% dalam tujuh hari terakhir.
Harga XRP juga anjlok 1.50% dalam 24 jam terakhir dan 2,51% selama sepekan terakhir. Saat ini nilai XRP berada di level US$ 1,35 atau setara Rp 22.652.
Konflik di Timur Tengah kian meluas setelah serangan awal Israel terhadap Iran berkembang menjadi konfrontasi militer terbesar di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir. Iran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat di berbagai negara Teluk.
Di tengah eskalasi ini, Bitcoin terus turun di bawah US$ 64.000 atau setara Rp 1,07 miliar. Namun kini sudah mampu berates di level tersebut.
Stabilitas relatif ini dinilai lebih dipengaruhi faktor teknis. Likuiditas perdagangan akhir pekan cenderung tipis, dan banyak posisi leverage sudah terlikuidasi. Kondisi itu membatasi tekanan jual tambahan dalam jangka sangat pendek.
Meski demikian, analis memperingatkan, jika pasar saham dan komoditas mengalami aksi jual tajam, Bitcoin berisiko menghadapi gelombang kedua tekanan risk-off. Dalam skenario tersebut, level US$ 60.000 menjadi garis pertahanan krusial berikutnya, bahkan membuka kemungkinan penurunan lebih dalam.
Secara historis, setiap eskalasi di Timur Tengah memicu pola serupa. Bitcoin melemah pada guncangan awal, lalu pulih setelah pasar tradisional mencerna situasi dan ketegangan mereda. Pola itu terlihat dalam ketegangan sebelumnya pada 2020 maupun serangan balasan Iran terhadap Israel pada April 2025.
Namun kali ini, skalanya dinilai berbeda. Serangan yang menjangkau Dubai, Kuwait, hingga Bahrain menunjukkan konflik telah menyentuh wilayah-wilayah dengan sensitivitas ekonomi tinggi. Jika perang meluas dan memicu lonjakan harga minyak global, sentimen risiko bisa memburuk secara luas.
Meski kerap disebut sebagai emas digital, dalam praktiknya Bitcoin lebih sering bergerak seperti aset berisiko dibanding aset lindung nilai. Karena itu, tekanan geopolitik yang berkepanjangan justru dapat menyeretnya turun bersama aset berisiko lainnya.
Level US$ 60.000 yang sempat menjadi penopang saat koreksi tajam 5 Februari 2026, lalu kini kembali menjadi batas kritis. Bedanya, kali ini ia diuji di tengah konflik regional yang jauh lebih kompleks dan berisiko tinggi terhadap stabilitas ekonomi global.




