REPUBLIKA.CO.ID,NEW YORK — Harga minyak melonjak tajam saat perdagangan dibuka pada Ahad (1/3/2026), menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan ke Israel dan instalasi militer AS di kawasan Teluk. Eskalasi tersebut memicu gangguan pada rantai pasok energi global.
Pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak dari Iran dan kawasan Timur Tengah berpotensi melambat atau bahkan terhenti. Serangan di berbagai titik, termasuk terhadap dua kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur sempit di mulut Teluk Persia, membatasi kemampuan negara-negara pengekspor untuk mengirim minyak ke pasar global.
- Jusuf Kalla Soroti Dampak Perang di Iran: Harga Minyak Bisa Naik, Pasokan BBM Terancam
- Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, 150 Kapal Tanker Berhenti Beroperasi Bikin Pasar Minyak Kian Bergejolak
- Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak, Dampaknya Bisa Sampai Dapur Rumah Tangga
Serangan berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dan bensin, menurut para analis energi.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan utama di AS, diperdagangkan sekitar 72 dolar AS per barel pada Ahad malam, naik sekitar 8 persen dari posisi 67 dolar AS pada Jumat, berdasarkan data CME Group.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Sementara itu, minyak mentah Brent, patokan internasional, diperdagangkan sekitar 79 dolar AS per barel, naik sekitar 8 persen dari level 72,87 dolar AS pada Jumat, yang saat itu merupakan posisi tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, menurut data FactSet.
Kenaikan harga energi global berpotensi membuat konsumen membayar lebih mahal untuk bahan bakar dan kebutuhan pokok, di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi di berbagai negara.
Sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari, atau sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, melewati Selat Hormuz, menjadikannya titik penyempitan (chokepoint) paling krusial dalam perdagangan minyak global, menurut Rystad Energy. Kapal tanker yang melintasi selat tersebut mengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), serta Iran.
Iran sebelumnya sempat menutup sebagian wilayah Selat Hormuz pada pertengahan Februari dalam rangka latihan militer. Langkah itu sempat mendorong harga minyak naik sekitar 6 persen dalam beberapa hari berikutnya.




