Bisnis.com, JAKARTA - Harga aluminium mengalami kenaikan karena kekhawatiran jalur pasokan penting bagi produsen Timur Tengah akan terganggu oleh konflik yang terjadi antara Amerika Serikat-Israel vs Iran.
Dilansir Bloomberg, Senin (2/3/2026), harga logam tersebut naik hingga 2,8% pada perdagangan awal menjadi US$3.228 per ton di London Metal Exchange.
Harga aluminium naik 1,6% menjadi US$3.190 per ton pada pukul 09.25 waktu Shanghai. Harga tembaga sedikit turun di London setelah sebelumnya naik, sementara harga seng naik 0,2%.
Selat Hormuz, titik rawan perdagangan di lepas pantai Iran, digunakan oleh banyak produsen aluminium utama di wilayah tersebut untuk mengirimkan logam dan membawa masuk bahan baku.
Konflik di Timur Tengah meluas selama akhir pekan setelah AS dan Israel menyerang Iran, dan Teheran membalas dengan serangan di beberapa negara.
Wilayah ini menyumbang sekitar 9% dari kapasitas aluminium dunia, menurut perusahaan konsultan AZ China Ltd., dan harga biasanya sensitif terhadap lonjakan ketegangan regional.
Baca Juga
- Ancang-Ancang RI Redam Tekanan Berlapis Konflik AS-Israel vs Iran
- Iran sudah Minta Tolong ke Rusia dan China, Berharap segera Dikirimi Rudal
- Perang AS dan Israel serta Iran, Indonesia Serukan Perdamaian
Presiden Donald Trump mengatakan pasukan AS akan terus membombardir Iran sampai tujuannya tercapai, sambil menyerukan militer dan polisi Republik Islam untuk menyerah atau menghadapi kematian yang pasti.
Teheran telah menanggapi serangan AS-Israel dengan gelombang rudal yang ditembakkan ke negara-negara tetangga, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, semua produsen utama aluminium.
Iran telah menjadi pemasok seng yang signifikan bagi China, sebuah arus yang tahun lalu membuat harga domestik di pasar China relatif rendah dibandingkan dengan pasar dunia lainnya.




