Jakarta: Harga emas dunia melanjutkan tren penguatan signifikan pada awal perdagangan hari ini, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global dan data inflasi Amerika Serikat yang tetap tinggi. Tren bullish pada XAU/USD semakin solid, membuka peluang kenaikan lanjutan dalam jangka pendek.
Logam mulia tersebut sebelumnya berhasil menembus level USD5.260 dan mencatat kenaikan lebih dari 1,20 persen, sekaligus mencapai level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Secara teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average pada timeframe H1 menunjukkan dominasi kekuatan beli yang terus menguat.
"Kondisi ini memperpanjang tren kenaikan emas yang telah berlangsung selama tujuh bulan berturut-turut, mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global," ujar Analis pasar Dupoin Futures Andy Nugraha dalam keterangan tertulis, Senin, 2 Maret 2026.
Menurut Andy Nugraha, selama tekanan bullish tetap terjaga, harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju level resistance berikutnya di sekitar 5.441. Level ini menjadi target psikologis penting yang dapat diuji apabila momentum beli tetap kuat dan didukung oleh sentimen fundamental yang positif.
"Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai kemungkinan koreksi teknikal. Jika harga gagal mempertahankan momentum kenaikan, maka potensi penurunan terdekat diperkirakan berada di area support 5.222," kata dia.
Baca Juga :
Harga Emas UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Kompak Naik Lagi, Simak Rinciannya(Ilustrasi. Foto: Dok Freepik)
Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan dimulainya operasi militer besar di Iran, menyusul serangan sebelumnya oleh Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menghilangkan ancaman keamanan.
"Situasi ini memicu kekhawatiran pasar akan potensi konflik yang lebih luas, sehingga meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik," ungkap dia. Data ekonomi terbaru dukung penguatan emas Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat tercatat naik 2,9 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, Core PPI meningkat menjadi 3,6 persen, menunjukkan tekanan inflasi yang masih kuat. Kondisi inflasi yang tinggi ini memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang dan ketidakpastian ekonomi.
Lebih lanjut, penghentian sementara pengiriman minyak melalui Selat Hormuz oleh Iran telah memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan ekspektasi inflasi. Situasi ini semakin memperkuat prospek bullish emas, karena investor cenderung mencari aset yang mampu mempertahankan nilai di tengah tekanan inflasi dan volatilitas pasar.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental menunjukkan prospek emas dalam jangka pendek masih cenderung positif. Selama harga mampu bertahan di atas level support utama, potensi kenaikan menuju area 5.441 tetap terbuka. Namun, volatilitas tinggi akibat perkembangan geopolitik dan data ekonomi global tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar.
"Dengan kondisi pasar saat ini, emas diperkirakan akan tetap menjadi instrumen investasi yang menarik, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan ekspektasi inflasi yang masih tinggi," ujar Andy.




