Bisnis.com, JAKARTA –Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$0,95 miliar per Januari 2026 menjadi yang terendah selama sejak Mei 2025 lalu.
Realisasi juga lebih rendah dibandingkan dengan nilai surplus pada Januari 2025 yang tercatat sebesar US$3,49 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan bahwa Indonesia mencatatkan ekspor Januari 2026 mencapai US$22,16 miliar atau naik 3,39% dibandingkan Januari 2025 (year on year/YoY). Nilai ekspor migas tercatat sebesar US$0,89 miliar atau turun 15,62%. sementara nilai ekspor nonmigas naik 4,38% dengan nilai pada Januari 2026 US$21,26 miliar.
Ateng menyebut peningkatan ekspor nonmigas didorong oleh beberapa komoditas yaitu lemak/minyak nabati, nikel, dan mesin/perlengkapan elektrik.
Adapun, nilai impor Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar atau naik 18,21% dibandingkan Januari 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas Januari 2026 mencapai US$3,17 miliar atau naik 27,52% secara yoy, sedangkan nilai impor nonmigas Januari 2026 mencapai US$18,04 miliar atau naik 16,71% secara yoy.
"Pada Januari 2026, neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Neraca perdagangan Indonesia dengan ini telah mencatat surplus selama 69 bulan berturut turut sejak Mei 2020," kata Ateng pada Senin (2/3/2026).
Surplus pada Januari 2026 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar US$3,22 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Lebih Rendah dari EkspektasiDiberitakan sebelumnya, konsensus ekonom memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan berlanjut pada Januari 2026 atau 69 bulan secara beruntun. Surplus diproyeksikan akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan konsensus proyeksi 18 ekonom yang dihimpun Bloomberg, nilai tengah (median) surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 diproyeksikan sebesar US$2,8 miliar.
Proyeksi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang bulan sebelumnya atau Desember 2025 senilai US$2,51 miliar. Estimasi tertinggi dikeluarkan oleh Ekonom JP Morgan Chase Bank NA Jin Tik Ngai dengan nominal US$4 miliar. Sebaliknya, proyeksi terendah disampaikan oleh Ekonom Barclays Bank PLC Brian Tan dengan angka US$1,96 miliar.
Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan surplus US$2,70 miliar pada Januari 2026.
Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh ekspor yang diramal naik sebesar 6,34% secara tahunan (year on year/YoY). Di sisi lain, impor juga diperkirakan naik lebih tinggi sebesar 11,96% YoY.
"Surplus dagang diperkirakan meningkat karena terms of trade Indonesia naik karena harga komoditas ekspor naik, terutama metals. Di sisi lain, impor diperkirakan tetap kuat sejalan dengan kredit investasi yang tumbuh tinggi," jelas David kepada Bisnis, dikutip Senin (2/3/2026).





